
"Kau mengira aku kaget karena vidio dan fotomu? Kau menyebutku munafik karena ini?"
"Ya! Kau bahkan tidak bisa menggerakkan lidahmu saat acara pesta mewahmu kemarin. Kau berjalan tertatih. Dan masalahku sudah cukup rumit. Keluar, aku tidak ingin menambah skandal tentang Helli yang memohon pada seorang Vasquez atau Helli Lepisto menjebak suami wanita lain dan menguncinya bersamanya. Aku muak dengan semua judul berita itu!"
"Lima, kau sudah mengusirku sebanyak lima kali. Ini sedikit melukaiku. Tapi meskipun kau mengusirku seribu kali, aku tidak akan pergi."
Helli mendengus, ia tidak merespon lagi. Tenaganya mulai hampir habis karena berdebat dengan pria itu. Kondisinya membuatnya mudah lelah.
"Mi amor, dengarkan aku..." Seumur hidupnya Gavin tidak pernah memanggil seseorang demikian. "Aku memang kaget, benar-benar terkejut, tapi bukan karena foto-fotomu. Tapi karena...." Gavin berhenti sejenak. Ia tidak kuat berdiri lagi. Ia segera duduk di tepi ranjang. Entah sejak kapan mereka berada di kamar. Sepertinya Helli juga tidak menyadari hal itu.
"Karena apa?!" Helli mendesak.
"Karena aku..." Gavin menyapu bibirnya. Wajah pucat itu kembali terlihat. Gavin seperti pria putus asa yang hendak bunuh diri. "Karena aku baru menyadari bahwa aku mencintaimu."
Helli tampak shock. Mulutnya terbuka tertutup. Apakah ia salah mendengar?
"Ini pertama kalinya aku mengatakannya pada seseorang dan ini pertama kalinya aku merasakan hal ini. Lihatlah," Gavin menunjukkan kedua telapak tangannya yang gemetar sebagai bukti kegugupan pria itu.
Helli hanya bisa memandangnya tanpa bisa berucap apa-apa. Ini di luar dugaannya. Pengakuan yang tidak ia sangka-sangka sama sekali. Ia hanya berani berharap Gavin datanga dan memberi penghiburan, bukan pernyataan cinta.
"Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku baru tahu seperti apa itu jatuh cinta. Aku kaget karena hal itu." Suara Gavin bergetar seperti tangannya.
"Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi. Seingatku, aku selalu mencintai setiap detik kebersamaan kita. Aku merindukanmu saat aku tidak melihatmu. Aku juga merindukanmu saat kita sedang bersama. Aku bingung mengartikan rasaku saat kita tidak bertemu beberapa bulan ini. Aku uring-uringan. Aku benar-benar buta tentang hal ini, Helli. Aku mencari tahu selama berbulan-bulan, dan tidak menemukan jawaban pastinya. Harusnya aku sudah menyadarinya saat kita berkencan. Harusnya aku menyadarinya saat kau sakit dan aku tidak suka melihatnya dan harusnya aku sadar saat kau bersama pria lain, aku sangat cemburu. Tapi, aku terlalu bodoh, Helli."
"Tu-tunggu sebentar!" Helli kembali mengibaskan kertas di tangannya ke arah Gavin. "Apakah kau baru saja mengatakan bahwa kau mencintaiku?"
__ADS_1
"Ya, itulah yang kukatakan. Kau cantik, seksih, mengagumkan, hangat, manis, lucu, menggemaskan, seksih.."
"Kau sudah mengatakan seksiih tadi," Helli menyela. "Ja-jadi kau kaget bukan karena foto aibku yang tersebar dimana-mana. Bukan hanya foto, tapi juga vidio." Helli perlu memperjelas hal ini. Jantungnya sudah tak aman. Ini kejutan yang manis.
"Ya, Helli, aku mencintaimu. Dan soal foto-foto itu, tidak ada yang tersebar. Itu tidak akan terjadi. Aku sudah membereskannya. Selama beberapa hari ini, aku menyelesaikan semuanya. Menemui pengacara, penerbit dan hal lain yang terlibat."
"A-apa? Semudah itu?"
"Ya, aku adalah seorang Vasquez, bukan hal yang sulit bagiku untuk melakukannya. Tidak usah khawatirkan lagi tentang foto-foto itu. Suamimu sudah membereskannya. Tidak akan ada yang bisa melihat tubuh indah istri seorang Vasquez, kecuali aku."
"Su-suami? Is-Istri?"
Pernyataan cinta Gavin sudah cukup membuatnya bahagia. Tapi suami istri terlalu berlebihan. Ia tidak ingin bermimpi. Helli merasa jika sepertinya Gavin sedang mabuk. Tapi, kenapa ia tidak mencium aroma alkohol?
"Kau harus menikah denganku. Akan kutunjukkan padamu apa itu kebahagiaan. Kau bisa mempercayaiku, Helli. Kau bisa bergantung kepadaku."
"Kenapa kau selalu membahasnya? Tidak pernah ada pernikahan. Aku dan dia tidak pernah memulai hubungan. Saat Addrian mengirim fotomu, aku tahu Mona lah penyebab kau menangis. Aku sudah memberi batasan kepadanya sejak hari itu."
Tangis Helli pun pecah seketika. Mendadak semua beban yang ada di pundaknya terasa ringan.
"Itu hari ulang tahunku. Aku akan menuntut hadiahku," Gavin menarik Helli ke dalam pelukannya. Mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala gadisnya itu.
"Ibuku mengatakan Calvin adalah ayahku. Aku mempercayainya begitu saja. Kami tinggal serumah, aku tidak tahu bahwa aku ternyata dijual. Ada CCTV dimana-mana, bahkan di dalam toilet. Aku diberi obat yang bisa menuruti semua arahannya. Untung saja dia tidak sempat menodaiku. Aku sadar di waktu yang tepat. Aku menendang miliknya hingga ia merintih kesakitan dan tiba-tiba media sudah ada di ruangan itu, sementara aku dan dia dalam keadaan polos."
"Ssshh.... Jangan menangis. Semuanya sudah berakhir. Mimpi burukmu sudah berakhir. Kau sangat hebat saat memberi serangan padanya. Mungkin miliknya sudah tidak berfungsi lagi dan itu ganjaran yang pantas untuknya."
__ADS_1
"Aku selalu dihantui oleh foto-fotoku sendiri. Bertanya-tanya bagaimana rasanya jika foto itu tersebar. Selama dua tahun aku mengalami guncangan dan hampir-hampir depresi. Tidak bisa tidur dengan tenang."
"Oh, Sayang." Gavin semakin memperdalam pelukannya. "Sekarang semuanya sudah membaik. Omong-omong, ini sedikit mengusikku, Sayang, katakan, kertas apa yang kau pegang sejak tadi?" Gavin menarik kertas tersebut dan membacanya, seketika ia kembali dibuat shock. Betapa banyak kejutan beberapa hari ini. Dan kejutan yang terakhir bukan kejutan yang ia harapkan. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata-kata. Ia membaca kertas itu berulang kali. Hampir-hampir ia menghafal semua yang tertulis di sana.
"AIDS? Kau?" wajah Gavin pucat seputih kertas yang ia genggam.
"Gavin..."
"Sst... tenanglah, kita akan berobat. Kau pasti akan sembuh. Aku akan selalu di sisimu. Percaya padaku."
Helli tercengang untuk sesaat. "Air mataku mengenai kulitmu, kau bisa tertular."
"Tidak masalah." Gavin meraih tengkuknya, menyatukan bibir mereka. Meluumat habis saliva wanita yang dicintainya itu.
"Gavin..."
"Kita akan mencari dokter terbaik."
"Kau menciumku."
"Aku akan selalu bersamamu."
"Kau bisa tertular."
"Aku akan tetap bersamamu, Helli, apa pun yang terjadi! Dan omong-omong, semua sentuhan itu tidak ada risiko tertular." Gavin mencakup wajahnya, manik meraka saling mengunci, lalu tangan Gavin turun ke bahu Helli dan pindah ke dadaa, mulai melepaskan satu persatu kancing baju Helli. "Kecuali berhubungan intim. Dan aku tidak tidak keberatan sama sekali." Gavin pun meloloskan semua yang melekat di tubuh mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa.
__ADS_1
"Aku akan menanggung semua rasa sakitmu." Gavin menyatukan jemari mereka dan tanpa ragu menyatukan tubuh mereka. "Aku mencintaimu."