
''Oh, Gavin, kau di sini. Apa kau tahu Helli sedang sakit. Kau tahu alamatnya, aku akan membawa Uncle Justin ke sana."
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu."
Gavin melongos, melewati adiknya begitu saja. Grace panik sendiri mendengar jawaban sengit saudaranya itu. Pasalnya, sambungan telepon masih terhubung. Tidak mungkin Helli tidak mendengar apa yang dikatakan si bodoh Gavin.
"Helli, aku...'' tidak ada suara. Grace melihat ponselnya. Ternyata panggilan sudah terputus.
"Gavin!!!''
Grace melangkah lebar menghampiri Gavin, ia menarik tangan pria itu. Gavin berbalik dengan malas, tidak ada semangat.
"Apa yang sudah kau katakan?!"
"Apa?" tanyanya dengan mimik dan nada datar.
"Apa katamu? Helli sakit dan aku sedang bertanya apa kau tahu alamatnya? Jawabanmu sungguh menjengkelkan dan Helli bisa saja mendengarnya. Awas saja jika Helliku tidak mau menjawab panggilanku lagi!" Grace kembali mencoba menghubungi Helli, benar saja, panggilannya diabaikan meski Grace sudah melakukannya sebanyak tiga kali.
"Lihat! Helliku tidak menjawab panggilanku. Dia pasti mendengar apa yang kau katakan. Ini salahmu!"
"Apa yang salah dengan ucapanku? Aku memang tidak tahu di mana dia."
"Memangnya apa yang kau tahu! Dasar bodoh! Pergi dari hadapanku!"
Gavin memutar bola matanya dengan jengah. Kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja dan adik tersayangnya akhir-akhir ini membuat suasana hatinya yang kacau semakin buruk.
Gavin meninggalkan adiknya, berjalan menuju kamarnya. Sampai di kamar, ia mengembuskan napas dengan kasar. Melepaskan jas dan melempar dasinya. Kedua tangannya di letakkan di pinggang, ia mondar mandir ke sana kemari.
"Apa dia baik-baik saja? Kenapa Grace mengatakan dia masih sakit? Ini sudah sepuluh hari lewat lima jam tiga puluh tiga menit, kenapa dia masih sakit. Apa sakitnya mengkhawatirkan dan parah? CK! Kenapa Grace memiliki nomor ponselnya."
Gavin mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi nomor Helli yang lama. Tidak tersambung.
Gavin berdecak, lelah mondar mandir, ia duduk di atas ranjang. Belum satu menit, ia kembali berdiri, berjalan ke sana kemari, memutar otak untuk mencari tahu bagaimana kondisi Helli saat ini.
Nama Addrian kembali muncul di pikirannya. Dengan segera ia menghubungi pria itu.
"Apa?" terdengar sapaan malas dari sahabatnya itu.
"Kau memiliki nomor ponselnya?"
"Nomor ponsel? Nomor ponsel siapa?"
__ADS_1
"Siapa lagi? Tentu saja Helli."
"Aku lah yang membeli ponsel untuknya. Tentu saja aku memilikinya. Kau tidak memilikinya?"
Gavin menyesal karena sudah menanyakan hal itu. Harusnya ia bertanya to the point, apakah Helli sungguh masih sakit. Untuk apa dia menanyakan nomor gadis itu kepada Addrian yang berujung membuatnya kesal pada temannya itu. Addrian seperti sedang meledeknya dengan sengaja pamer.
Aku yang memberikan ponsel untuknya, heh?
Gavin mengulangi kalimat itu dengan kedongkolan yang bercokol di hatinya.
"Kenapa kau harus membeli ponsel untuknya?"
"Aku memberinya sebagai hadiah. Apa ada yang salah?''
"Aku tidak tahu jika kau sangat murah hati, Dude," sarkasnya sambil memaki dalam hati yang ditujukan pada temannya Addrian yang mendadak begitu penuh perhatian dan murah hati menurutnya.
"Kau kurang mengenal diriku jika begitu, Brother."
"Ciih! Jadi kau menyimpan nomornya?''
"Nomor ponsel, ya."
"Astaga, aku hanya memperjelas. Kenapa kau seperti wanita yang sedang datang bulan. Uring-uringan tidak menentu. Jika kau ingin meminta nomor Helli, aku harus meminta izin kepadanya terlebih dahulu. Tunggu sebentar, aku menghubunginya dulu."
"Tidak perlu! Aku tidak menginginkan nomornya." Gavin yakin jika Helli tidak akan bersedia menjawab panggilannya dan Gavin juga tidak memiliki alasan mengapa ia harus menghubungi Helli. Gadis itu lah yang harus menghubungi dan meminta maaf kepadanya.
"Ah, kau benar juga. Aku tidak bisa menghubungi Helli untuk saat ini."
Gavin diserang rasa penasaran. "Mengapa?" Hais, ia membenci dirinya yang terlihat seperti gadis penggosip yang ingin mengetahui segala sesuatunya dengan detail. Ia malu sendiri tapi ia masih menunggu jawaban Addrian.
Mengapa Addrian tidak bisa menghubungi Helli? Apakah Helli sedang sibuk bersama Rusell?
"Dia sedang sakit. Butuh istirahat sebelum kami malakukan promosi untuk penayangan perdana film-nya."
Gavin berdehem, jadi Helli sungguh sedang sakit. Ia bergumam dalam hati. Jadi Addrian juga mengetahui kondisinya?
"Sakit?"
"Ya. Beberapa saat lalu aku baru menghubunginya. Bagaimana bisa kau tidak tahu? Tunangan macam apa kau ini?"
"Apa sakitnya parah?"
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya kepadaku? Harusnya kau yang lebih tahu."
"Memangnya aku tidak boleh bertanya. Kenapa kau sangat menyebalkan!" Gavin kesal sendiri. Akhirnya ia memutuskan panggilan telepon. Lama-lama ia dan Addrian bermusuhan jika terus-terusan seperti ini. Pria itu lebih tahu tentang Helli dibanding dirinya. Menyadari hal itu membuatnya terusik, Gavin merasa terganggu.
"Apakah si keparat Rusell juga mengetahui apa yang terjadi dengan Helli? Astaga, apa yang kulakukan ini?" Gavin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melempar ponselnya ke ranjang dan berjalan menuju toilet. Ia perlu pendinginan.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dari dalam toilet, langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi Addrian kembali.
"Apa lagi?" suara Addrian terdengar sangat kesal.
"Kapan kalian melakukan promo?"
"Dua Minggu lagi. Bertepatan dengan acaramu."
"CK! Kenapa harus saat itu? Kenapa tidak memilih tanggal yang lain."
"Kenapa jadi kau yang mengatur. Sudah, jangan menggangguku lagi. Aku sedang sibuk."
"Tunggu... "
"Astaga, kau adalah tunangannya. Tapi kenapa aku merasa kau tidak tahu apa-apa tentangnya. Kau dan Helli bertengkar? Itukah penyebab kenapa dia sakit begini."
"Jangan fitnah. Berikan aku alamatnya."
Addrian langsung menyebutkan sebuah alamat yang tidak asing menurutnya. Tapi mendadak otaknya blank, tidak menyadari di mana lokasi yang baru saja dikatakan Addrian.
"Jadi dia tinggal di sana?"
"Ya, tepatnya di rumahmu. CK! Apa sebenarnya yang terjadi denganmu? Kau dan Helli sungguh bertengkar rupanya. Bukankah Helli tinggal bersamamu? Apa dia kabur?"
Gavin menggeram, akhirnya ia memaki karena tidak tahan mendengar semua celotehan, tudingan juga ledekan pria itu.
"Apa kau tahu, Add? Akhir-akhir ini perbendaharaanmu katamu lumayan banyak dan aku sangat kesal dengan hal itu."
"Sepertinya tidak ada yang salah dengan apa yang kukatakan. Kau lah yang sepertinya bermasalah, Dude. Kau seperti singa kelaparan yang siap menerjang siapa pun setiap kali aku berucap. Istirahatlah, tenangkan dirimu. Mungkin kau juga sedang lelah."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Gavin segera memutuskan panggilan telepon. Ia kembali merasa panas dan akhirnya ia masuk lagi ke dalam toilet. Mandi untuk kedua kalinya sebelum asap mengepul pekat di atas kepalanya.
Ia mempertimbangkan untuk menghubungi Rusell. Mungkin saja pria itu tahu alamat Helli. Masalahnya, Gavin tidak bisa menjamin jika Rusell tidak kalah menyebalkan dari Addrian.
"Helli memang pembuat masalah!! Akan kucekik leher wanita itu begitu aku menemukannya!"
__ADS_1