My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Pergilah


__ADS_3

Helli benar-benar miris melihat kondisi rumah ibunya. Maniknya perih menahan tangisan. Ia dan Gavin sedang mengunjungi Lonela ke rumah wanita itu, tapi Ibunya tidak ada di sana. Helli mendapatkan alamat ibunya dari rumah sakit, tentu saja pengaruh Vasquez memberi kemudahan pada mereka.


Helli seolah kembali ke masa lalu, di mana mereka tinggal saat dulu. Rumah dengan ukuran kecil yang terdiri hanya satu ruangan. Bedanya, rumah yang ditempati Lonela sekarang tidak berada di pemukiman kumuh yang jorok, kotor dan becek. Tapi tetap saja, rumah ini terlalu sempit, sirkulasi udara yang masuk ke dalam rumah juga tidak bagus.


Helli melihat kasur lapuk yang sudah kehilangan fungsi keempukannya. Seketika Helli merasa hatinya hancur, sakit ditampar oleh kenyataan. Ia merasa menjadi anak paling durhaka. Tangannya mengusap kabin yang cukup dingin, bayangan tentang ibunya menghabiskan setiap malam dengan menahan dingin membuat kondisi hatinya semakin kacau.


Benar ibunya tidak merawatnya dengan baik, benar, Ibunya mengabaikannya. Benar bahwa Lonela menjualnya demi kesenangan wanita itu dan benar bahwa Lonela tidak peduli dengan kehidupan Helli. Jangankan sebuah perhatian, memberikan senyumannya pun Lonela enggan.


Tapi sebagai anak, tidaklah pantas menghakimi. Helli menyadari jika sebagai anak, ia tidak boleh bersikap kasar, mengabaikan Ibunya. Fakta bahwa ibunya mengandung dirinya selama sembilan bulan sepuluh hari adalah pengorbanan yang tidak terbantahkan. Lalu, apa yang ia berikan kepada sang Ibu?


Helli memindai ruangan, terlihat beberapa alat makan yang belum sempat dicuci. Sebungkus roti yang mulai berjamur. Botol alkohol yang sudah habis dan beberapa obat yang berserakan, keluar dari botolnya.


Helli tidak bisa membendung air matanya lagi, ia meluruh ke lantai, membenamkan wajah di atas lututnya.


Sebuah tangan kekar merangkulnya. Gavin tahu apa yang sedang dirasakan Helli. Rasa bersalah yang tidak terbendung melihat kondisi hidup Ibunya.


"Gavin, aku anak yang tidak berbakti. Aku menelantarkan Ibuku. Ibuku menderita, bagaimana ini, Gavin?" tangisannya pecah. Saat ibunya mengunjunginya ke lokasi syuting, meminta uang berulang kali, harusnya ia lebih peka dengan kesehatan wanita yang sudah melahirkannya itu. Tapi ia justru melontarkan kata-kata yang jelas menyakiti hati seorang Ibu.


"Sstt... Kau anak yang baik. Kau anak yang berbakti. Kau akan melakukan apa pun untuk Ibumu andai Ibumu lebih jujur kepadamu, aku tahu itu, Helli. Aku melihat betapa baik dan lembutnya hatimu. Jangan terlalu menganggap buruk dirimu. Itu tidak benar sama sekali."


"Lihatlah tempat tidurnya, Gavin. Aku hidup enak di apartemen dengan ranjang yang begitu empuk. Tadi pagi aku menikmati sarapan sehat yang sangat enak. Lihatlah, apa yang kita temukan di rumah Ibuku, roti yang berjamur. Dia sedang sakit dan aku mengeluh saat dia meminta uang kepadaku. Gavin, bagaimana ini?"


"Kita akan menunggu Ibumu, kita akan merawatnya. Tenanglah, jangan salahkan dirimu."


"Kira-kira kemana dia pergi?" Helli membersit hidungnya. Ia juga mengurai pelukan mereka. "Aku harus membersihkan rumahnya. Dia harus hidup sehat mulai sekarang." Helli berdiri, mulai memunguti obat yang tercecer, juga memungut roti berjamur untuk ia buang ke tong sampah. Helli mencuci piring yang juga mulai meninggalkan bau tidak sedap.


"Kita akan membawanya dari sini. Dia akan dirawat di rumah sakit. Jika dia tidak suka suasana rumah sakit, kita akan mencari rumah yang nyaman dan menyewa dokter khusus untuk merawatnya. Kita akan mengunjunginya sesering yang kau inginkan. Tapi, untuk sekarang, fokuslah pada kesehatanmu dan janinmu, Helli. Aku akan mengurus semuanya."

__ADS_1


Helli mengangguk, betapa beruntungnya ia menemukan pria seperti Gavin yang begitu peduli dengannya.


Pintu didorong dari luar, Lonela membatu di ambang pintu. Terkejut dengan kehadiran Helli di rumahnya dengan pria asing yang tidak ia kenali.


"Mom..."


"Apa yang kau lakukan di sini?" Lonela bertanya dengan mimik tidak bersahabat, menatap penuh waspada pada Gavin.


"Mom, kau sudah datang? Kau dari mana?" Helli mengusap air matanya, ia bergerak, berniat untuk menghampiri sang Ibu. Tapi begitu ia berjalan satu langkah, Lonela mundur dua langkah. Gavin mengatakan sentuhan fisik tidak akan membuatnya tertular. Ia tidak tahu apakah reaksi Ibunya karena tidak ingin Helli tertular penyakitnya atau karena memang Lonela masih bersikeras tidak ingin bersentuhan dengan Helli seperti sebelum-sebelumnya.


Helli akhirnya berhenti, Gavin kembali merangkulnya, mengusap lengannya dengan lembut.


"Kau pasti terkejut dengan kedatangan kami, Mrs. Lepisto." Gavin mengambil alih perbincangan.


"Aku adalah Gavin Vasquez, pria yang begitu mencintai putrimu, Helli Lepisto. Kami datang kemari untuk berbagi kabar gembira. Aku sudah melamar putrimu untuk kunikahi. Kebahagiaan kami tidak akan lengkap tanpa hadirmu. Dan saat ini, putrimu juga sedang mengandung cucumu." Gavin tersenyum hangat seraya mengusap perut Helli yang masih rata.


"Masuk dan duduklah." Pinta Gavin dengan lembut. "Ada beberapa hal yang juga ingin kami sampaikan."


Perlahan, Lonela melangkah masuk. Ia duduk di atas kasur lapuknya. Helli menelan ludah, matia-matian menahan diri agar tidak melontarkan pertanyaan tentang kenyamanan kasur tersebut.


"Bagaimana keadaanmu, Mom?"


"Seperti yang kau lihat."


Helli bungkam, ia tidak mendapatkan jawaban pasti yang ia inginkan. Sepertinya Ibunya juga enggan menceritakan kondisi kesehatannya di hadapan Gavin.


"Obat-obatmu jatuh dan berserakan di lantai. Aku sudah membuangnya. Kita akan menebus obat yang baru."

__ADS_1


Lonela tidak menanggapi, tapi tatapan wanita itu jelas menunjukkan ketidaksukaan.


"Mrs. Lepisto..."


Lonela mengalihkan tatapannya kepada Gavin.


"Aku ingin memanggilmu Ibu, tapi aku khawatir kau merasa tidak nyaman."


Lonela masih bergeming, enggan menanggapi.


"Helli sudah menjelaskan kondisimu."


Lagi, Lonela melayangkan tatapan menghunus kepada Helli.


"Kau pasti sembuh jika memiliki tekad dan keyakinan yang kuat dan didukung oleh perawatan yang benar. Kami akan mencari dokter terbaik. Tolong jangan menolak. Helli akan sangat merasa sedih jika terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"Kapan kalian akan menikah?" Alih-alih menanggapi pernyataan Gavin, Lenola justru bertanya tentang pernikahan mereka."


"Satu bulan lagi, Mom. Mom bersedia menghadiri pernikahan kami?"


"Aku akan melihat jadwalku. Pergilah, aku butuh istirahat."


"Mom..."


"Aku butuh istirahat dan jangan pernah kembali ke rumahku terlebih saat aku tidak ada di sini. Jika kau memiliki uang, tinggalkan lah beberapa lembar."


"Jangan menolak kebaikan putrimu, Mrs. Lepisto. Tidak usah menahan diri atau pun merasa malu kepadanya. Dia mencintaimu, dia menyayangimu. Biarkan dia melaksanakan tugasnya sebagai anak. Kau membutuhkannya..."

__ADS_1


"Aku hanya membutuhkan uangnya. Aku tidak pernah merawat atau pun peduli kepadanya. Jadi dia tidak memiliki kewajiban untuk merawatku yang sedang mengidap penyakit memalukan ini. Pergilah."


__ADS_2