My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Lipstik Yang Bagus


__ADS_3

"Apakah Oscar akan berpikir aku merayunya?"


"Dia tidak akan berpikir demikian jika kau memang tidak merayunya." Helli menenangkan ketegangan yang dirasakan Grace. Gadis manis itu sudah siap hendak berangkat menuju pesta amal. Grace juga menolak untuk membawa salah satu sopirnya. Ia yang akan mengemudi sendiri.


"Kalau kau ingin berdansa, berdansalah dengan orang lain. Jika kau hendak bercakap-cakap, lakukan dengan orang lain, oke. Kontak apa pun yang kau lakukan dengan Oscar harus singkat dan bersifat resmi. Jika Oscar tidak menginginkanmu, dia akan baik-baik saja dengan perlakuanmu. Tapi jika dia tertarik, ya kita lihat saja."


"Pernyataanmu semakin membuatku gugup. Apakah tarik ulur seperti ini yang kau lakukan saat menyiksa Gavin?"


Helli menggeleng, "Kasusku dan kasusmu berbeda. Dari awal kau sudah tahu bahwa yang kau inginkan adalah Oscar. Aku dan Gavin terjebak dalam permainan kami. Kurasa jika kau tidak berangkat sekarang, kau bisa terlambat. Aku akan menunggumu pulang dan ingin menjadi orang pertama yang mendengar cerita bahagiamu."


Reaksi positif yang ditunjukkan Helli membuat Grace diselimuti gelembung kebahagiaan. Ia menjadi tidak sabar untuk melihat reaksi Oscar padanya.


"Kau begitu aku memang harus pergi," Grace mendaratkan satu kecupan di pipi Helli. Semoga prediksi Helli benar terjadi, andai hal itu tidak terjadi, Grace sudah mempersiapkan diri untuk kecewa.


Setengah jam kemudian, Grace sampai di lokasi. Sejauh mata memandang ia belum melihat Oscar. Meski di tengah kerumunan, di tengah ratusan orang, Grace biasanya akan dengan mudah melihat sosok pria itu.


Grace memilih untuk berbaur, seperti yang dikatakan Helli, ia harus berbincang-bincang dengan yang lain. Grace mengenal cukup banyak orang yang hadir di sana. Sebagian besar adalah rekan kerja mereka. Grace menampilkan senyum terbaiknya kepada siapa pun yang sedang menyapa dan berbincang dengannya, sampai-sampai ia merasakan wajahnya akan retak, otot-otot pipinya kelelahan dan kepalanya berdenyut-denyut berupaya berupaya membuat percakapan sopan.


"Hampir-hampir aku tidak mengenalimu."


Suara dan reaksi ini bukan milik orang yang diharapkan Grace. Meski begitu, ia berbalik untuk menyapa orang tersebut.


Damian Lawrence melayangkan tatapan menilai secara terang-terangan. Sumpah demi apa pun, Grace melihat kilatan geli di manik tajam pria itu yang membuat kepercayaan diri Grace ciut seketika. Ia dan Helli berusaha keras untuk malam ini dan satu lirikan dari duda sialan itu membuat usahanya berantakan.


"Aku tidak melihat kekasihmu," Grace tidak ingin menanggapi ujaran pria itu tentang penampilannya. Ia harus mempertahankan sisa sisa kepercayaannya sampai ia bertemu dengan Oscar dan melihat reaksi pria itu. Grace meyakinkan dirinya bahwa ia tidak peduli dengan anggapan Damian.


Aku berdandan bukan untuk pria ini!


"Grenda?"

__ADS_1


"Memangnya berapa banyak kekasih yang kau miliki?"


"Tidakkah kau merasa pertanyaanmu itu terlalu pribadi, Miss Vasquez."


"Kau berhak untuk tidak menjawab, Mr. Lawrence. Hanya saja jawabanmu menggiringku pada pertanyaan tersebut. Aku menanyakan keberadaan kekasihmu dan kau bertanya tentang Grenda. Jadi, dimana letak kesalahanku?"


"Pemilihan lipstik yang bagus, ceri atau stroberi?"


Mata Damian fokus pada bibir Grace. Lagi, pria itu memandanginya secara terang-terangan. Mati-matian Grace menahan agar rona merah tidak muncul di kedua pipinya. Tapi sepertinya ia gagal. Grace merasakan seluruh tubuhnya terbakar. Dan ia meyakini jika panas yang ia rasakan karena emosi yang menyerangnya. Tatapan Damian seolah mengulitinya.


"Astaga, kemana matamu melihat, Duda!"


"Aku memuji warna lipstikmu, menurutmu kemana aku harus melihat?"


"Aku bertanya."


"Dan aku sudah menjawab. Kau datang sendiri?"


"Aku hanya berbasa basi. Baiklah, selamat menikmati pestanya, Miss Vasquez."


Damian berlalu meninggalkan Grace, berkumpul dengan para relasinya. Tepatnya, orang-orang lah yang mengelilingi dan menghampiri pria itu. Entah itu kaum wanita atau pria. Semua berdesakan untuk berbicara dengan Damian.


Tanpa sadar Grace memperhatikan pria itu. Benaknya mengakui jika Damian pria paling bersinar yang ia lihat di sepanjang pesta.


"Itu hanya karena Oscar belum muncul."


"Aku mendengar namaku disebut."


Grace berbalik dan menemukan wajah memukau pria yang paling ia tunggu sejak tadi.

__ADS_1


"Oscar!!" Ia memekik kegirangan dan di detik selanjutnya ia bersikap santai, menjaga keanggunannya setelah mengingat apa pesan dari sahabat yang merangkap jadi iparnya. Jangan menunjukkan keantusiasan!


Siulan jenaka meluncur menggoda dari mulut Oscar. "Wow!" matanya menyapu penampilan Grace dengan satu lirikan cepat.


"Wow! Grace?!"


"Ya, aku." Grace tersipu malu. Sepertinya prediksi Helli benar adanya. Manik Oscar terlihat berkilat-kilat kagum. Pria itu juga mengabaikan teman wanitanya yang berdandan dengan sangat spektakuler.


"Dress yang indah."


"Ini pemberianmu."


"Sangat cocok dan pas."


"Ya, terima kasih."


"Kau tampak berbeda. Astaga, Grace kau..." Oscar kehilangan kata-kata. "Mari kita menyapa yang lain." Oscar melepaskan genggaman teman wanitanya dari lengan kokohnya. "Aku akan menemuimu nanti. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan," bisik Oscar di telinga wanita itu yang masih bisa didengar oleh Grace.


Wanita itu merengut, meski dengan berat hati wanita itu pun tetap beranjak dari sana.


Grace yang mengingat pesan Helli, bersiap untuk menolak ajakan pria itu.


"Sepertinya dress ini memang diciptakan untukmu, Grace."


"Kurasa juga begitu... Oh, alunan musik terdengar. Bolehkah berdansa?"


"Tentu saja boleh," Oscar mengulurkan tangan, tapi Grace sudah meninggalkannya menuju lantai dansa dengan perasaan yang sangat bebas. Ia belum pernah melakukan hal ini disaat sedang sendiri. Setiap ia menghadiri pesta, ia selalu didampingi keluarganya.


Grace berdansa dan menari mengikuti alunan musik disertai senyuman orang-orang di sekelilingnya. Grace juga tersenyum saat tangannya terangkat seperti orang-orang lain dan memundurkan kepala ke belakang dan membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti irama.

__ADS_1


"Senang sekali melihatmu hadir di sini," Itu Juno Santiago, salah satu rekan bisnis Oscar. Pria tampan yang sangat misterius. Dan mereka pun berdansa, bersenang-senang, mengabaikan omelan kecil suara hatinya yang berteriak ingin berdansa dengan Oscar.


__ADS_2