My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mimpi Buruk Mona


__ADS_3

"Itu hanya mimpi buruk, bukankah sekarang aku ada di hadapanmu?" Gavin menenangkan Mona, membersihkan jejak air mata di wajah wanita itu. "Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku sehat dan baik-baik saja."


Ya, alasan Mona menangis dan menghubunginya pagi-pagi buta begini hanya karena sebuah mimpi. Mona melihat jika Gavin menangis dan hancur di bawah guyuran air hujan. Mona melihat mimpi itu seolah nyata. Jeritan tangisan Gavin sampai ke ulu hati Mona. Mona masih bisa merasakan hatinya pedih. Di dalam mimpi itu, Gavin begitu terlihat tidak berdaya.


Mona menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Gavin, "Berjanjilah bahwa kau akan hidup dengan baik. Berhenti mempermainkan wanita."


"Aku sudah insyaf, Mona. Kau bisa tenang," Gavin mengelus rambut Mona yang panjang dan halus. "Kudengar tunanganmu sudah di sini."


Mona mengangguk, "Hm, besok aku akan melakukan fitting baju. Mulai besok aku akan sedikit sibuk."


"Apa kau sungguh mencintainya?" Gavin mengurai pelukan mereka. Ditatapnya lekat manik wanita itu. Ingin rasanya ia menyuarakan kebrengsekan tunangan sahabatnya itu, tapi Gavin tidak tega untuk melihat raut kecewa di mata gadis itu.


Anggukan kepala Mona membuatnya mengumpat di dalam hati. Bagaimana caranya agar Mona menggagalkan pernikahannya dengan Rusel. Pernikahan tidak akan berjalan mulus, tidak akan berhasil jika salah satu pihak ada yang tidak setia. Melihat profil Rusel, Gavin tahu bahwa pria tipe seperti pria itu tidak akan mampu hidup dengan satu wanita.


"Ya, aku mencintainya. Dia pria yang baik. Kau akan menyukainya begitu kau mengenalnya. Bagaimana jika nanti, kita makan siang bersama?"

__ADS_1


Gavin meragu untuk memenuhi keinginan Mona tersebut. Ia tidak yakin bisa berpura-pura baik dan ramah di hadapan Rusel. Tapi jika dipikir kembali, mungkin cara ini bisa membuat Mona cemburu dan bisa menjebak sikap buaya Rusel. Baiklah, Gavin akan mengajak Helli ikut serta.


"Baiklah, mari makan siang. Aku juga tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi tunanganmu itu setelah melihatku."


"Dia pasti menyukaimu sebanyak aku menyukaimu."


"Tapi aku tidak berjanji bisa menyukainya."


Mona berdecak, "Lalu pria seperti apa yang akan kau sukai? Grace akan kesulitan mendapatkan pria jika kau sangat selektif dalam hal itu."


Mona sedikit tertegun, kemudian ia tersenyum, "Ya, kau boleh melakukan apa pun. Terima kasih sudah sangat perhatian kepadaku."


Gavin beranjak, mengelus kepada Mona dengan lembut, "Kalau begitu aku pulang dulu. Kita akan bertemu nanti siang."


"Tidak sarapan bersamaku dulu."

__ADS_1


Gavin menggeleng, jika ia sarapan di sini, bisa-bisa Helli juga melewatkan sarapannya. Ia harus memastikan wanita itu tidak melewatkan sarapannya sebelum Gavin pergi bekerja. Ah, ia lupa ini akhir pekan. Lordes tidak akan datang.


"Aku harus pulang. Ada hal lain yang harus kukerjakan."


"Apakah sangat mendesak?" Bibir Mona mengerucut manja.


"Hm, ya, bisa dikatakan cukup mendesak."


Urusan perut memang mendesak, bukan? Helli bisa sakit perut jika melewatkan sarapan.


"Baiklah, aku akan menghubungi Rusel agar mengosongkan jadwalnya siang ini."


"Aku pergi."


Gavin pun meninggalkan kamar Mona, di ruang utama ia berpapasan dengan kedua orang tua Mona dan saudara gadis itu. Gavin berbasa basi sebentar sebelum berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2