My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Saran Di Tengah Malam


__ADS_3

***** I do the money dance


I just made a hundred bands


When the store says sign for it


Imma leave my autograph


 


Dolla bills Dolla bills


Watch it fallin for me I love the way that feels


Dolla bills Dolla bills


Keep on fallin for me I love the way it feels


 


I came here to Drop some money


Dropping all my money Drop some money


Lirik lagu Money yang dinyanyikan Lisa Manoban terdengar nyaring, mengusik tidur Helli. Tanpa membuka matanya, ia meraba-raba ponselnya. Lirik lagu itu terus berdering, tidak membiarkan Helli tenang.


"Di mana ponselku? Ahh! Aku masih mengantuk!" dengan kesal Helli segera duduk. Ponselnya masih saja berdering. Lagu milik penyanyi cantik yang berasal dari Thailand itu adalah lagu kesayangannya. Lagu itu seakan menggambarkan dirinya yang memang sangat mencintai uang.


Helli memendarkan pandangannya hingga tatapannya berhenti pada tas mewah miliknya yang teronggok begitu saja di lantai. Pun ia menurunkan kaki dari atas ranjang untuk melihat siapa gerangan manusia yang sudah mengusik tidur nyenyaknya.


Ck! Sudah ia duga, memangnya siapa lagi yang mengetahui nomor ponselnya selain Nicky. Tapi mulai besok, ponselnya ini akan lebih sering berdering jika ia sudah mulai bekerja.


"Ada apa?" todong Helli dengan nada malas.


"Kau di mana?"


"Aku di mana? Di kamar dan kau baru saja membangunkanku. Ada apa?"


"Aku juga di kamar dan kau tidak ada di sini. Katakan kau berada di kamar mana dan sama siapa? Helli, jadilah wanita suci untuk sementara waktu sampai kau benar-benar berhasil menggenggam impianmu."


"Astaga, aku mengantuk sekali dan kau malah ceramah."

__ADS_1


Terdengar hembusan napas kasar dari seberang telepon. Nicky benar-benar sedang kesal, tapi karena rasa ngantuk yang menyerangnya, Helli tidak ingin membuang-buang waktu untuk membujuk wanita itu.


"Jangan katakan kau sedang bersama salah satu pria tua, Helli."


"Astaga, tudinganmu membuatku terluka."


Helli memindai ruangannya. Ia baru menyadari jika ruangan yang ia tempati memang bukan kamar milik Nicky. Lalu kamar siapa yang ia tempati? Helli spontan memeriksa tubuhnya dan refleks menghembuskan napas lega begitu melihat pakaiannya masih lengkap.


"Aku akan menghubungimu nanti," tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Helli memutuskan sambungan telepon begitu memorinya mengingat saat terkahir ia berada di mana. Di mobil tunangan palsunya.


Helli keluar dari kamar dan langsung mengetahui jika dirinya berada di sebuah apartemen mewah dengan interior yang mengagumkan. Bagaimana ia bisa berada di sana. Ia tidak yakin Gavin menggendongnya tanpa membuatnya merasa terusik sama sekali. Astaga, sejak kapan ia tidur tanpa terjaga sama sekali. Helli lupa, kapan terakhir kali ia memiliki waktu tidur yang berkualitas.


Helli menghentikan langkahnya, melihat sosok Gavin yang baru keluar dari pantry dengan secangkir kopi panas di tangan kirinya, asapnya masih terlihat mengepul, pertanda kopi itu memang baru diseduh. Pria itu belum menyadari kehadiran Helli karena sibuk memainkan ponsel di tangan kanannya. Gavin berjalan sambil menunduk.


Helli memperhatikan penampilan Gavin yang mengenakan kaos dan piyama tidur. Ck! Sudah dikatakan, Gavin tidak perlu berbuat banyak hal untuk terlihat berkelas dan mengagumkan. Semua yang ada pada diri pria itu adalah seni.


"Apa ini apartemenmu?"


Barulah Gavin mengangkat kepala setelah mendengar suara Helli.


"Kau sudah bangun?" Seutas senyum tipis menyempurnakan ketampanan pria itu. Gavin mempercepat langkahnya, mengikis jarak diantara mereka. "Kopi?" Gavin menyodorkan kopi miliknya.


Helli menggeleng, ia memang bukan pecandu kopi. Tanpa kopi, malamnya selalu terjaga. "Itu tidak menjawab pertanyaanku." Helli melewati Gavin, duduk di atas sofa empuk yang sangat nyaman.


"Cicilannya pasti sangat mahal."


Gavin hampir tersedak mendengar pernyataan wanita sableng di hadapannya itu. "Aku tidak menyangkal hal itu," cetusnya dengan ringan. Apartemen miliknya memang lumayan mahal. Jika dicicil, bulanannya juga pasti membuat isi kantong menjerit. Tapi apa itu cicilan? Seorang Gavin O'Neil Vasquez tidak mengenal hal itu.


"Ya, masyarakat menengah ke bawah juga berhak memiliki tempat tinggal yang nyaman dan bagus."


"Kau benar," bibir Gavin berkedut menahan senyuman. Entah sampai kapan gadis ini salah faham padanya. Tapi, Gavin tidak ingin repot-repot meluruskan.


Gavin memperhatikan Helli mengangkat kaki jenjangnya untuk menumpukan lututnya di lutut lainnya. Sangat anggun. Benar-benar seorang model. Pujinya dalam hati.


"Jika aku memanfaatkanmu untuk karirku, apa kau sedang memanfaatkanku untuk memuat Mona cemburu? Kau menyukainya."


Gavin sedikit terkejut dengan hipotesa tidak terduga dari Helli. Bagaimana bisa Helli langsung mengetahui apa yang ia rasakan sementara Mona tidak bisa melihat hal itu?


"Terlihat sangat jelas," tukas Helli kemudian karena tidak kunjung mendapat respon dari Gavin. "Tatapan matamu menjelaskan semuanya. Kau tergila-gila padanya."


"Kalau terlihat sangat jelas, kurasa tidak ada gunanya aku menyangkal." Gavin mengikuti Helli, menumpukan lututnya di lututnya yang lain.

__ADS_1


"Dari yang kudengar dia akan menikah."


"Dan aku marah untuk itu."


Helli tergelak, "Harga dirimu terluka."


"Aku cemburu."


Helli mengangguk. Ternyata disaat waras, Gavin pria yang cukup jujur dan teman yang enak diajak berbicara untuk mengisi waktu luang.


"Jadi kau ingin mengejar cintamu sebelum janur kuning melengkung?"


"Wah, apa kau seorang cenayang?"


"Terkadang aku peka, terkadang aku lemot, dan terkadang aku sangat naif."


Gavin tersenyum, memilih tidak menanggapi pernyataan Helli. Hening, untuk sesaat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Kau tidak bisa merebut hati Mona jika kau tidak tahu perasaannya. Jika kau anggap bertunangan denganku membuatnya cemburu, itu belum cukup."


Gavin menukik alisnya, mendengar Mona akan menikah saja ia sudah cemburu setengah mampus.


"Abaikan dia sedikit. Wanita tidak suka diabaikan."


"Itu hal yang sulit."


"Ya, mengingat kau sangat mencintainya. Tapi jika kau ingin merebut hatinya, itulah cara paling efektif. Ciptakan jarak hingga ia akan menyadari arti dirimu dalam benaknya. Bisa saja ia tidak bisa meraba atau mendefenisikan perasaannya terhadapmu selama ini karena memang kau selalu ada untuknya."


Apa yang dikatakan Helli benar adanya. Dulu, Gavin juga merasakan hal demikian saat belum menyadari perasaannya terhadap Mona. Setelah Mona memutuskan pergi, ia merasa kehilangan. Haruskah ia mencoba saran Helli?


"Jika mengikuti saranmu, artinya kita harus memerankan tunangan totalitas." Gavin menyorotnya dengan tatapan menggoda.


"Tidak untuk ranjang."


Gavin tergelak. "Kau terlihat sangat anti dengan hubungan di atas ranjang. Padahal aku yakin kau sangat liar dan juga lawan yang sangat tangguh."


"Hmm," Helli hanya menimpali seperti angin lalu. Tidak ada gunanya meluruskan disaat sudah terlihat buruk.


Perbincangan mereka berlanjut hingga tengah malam. Banyak hal yang mereka obrolkan, mulai hal tidak penting hingga membuat rencana untuk menaklukkan hati Mona. Pembicaraan itu mengalir begitu saja, seakan mereka adalah dua sahabat yang saling memahami.


Semesta menjadi saksi atas apa yang mereka rencanakan, tanpa mereka sadari bahwa semesta juga sudah menggariskan takdir untuk mereka. Tapi apa pun bisa terjadi bukan? Takdir mungkin sudah digariskan, tapi doa dan tekad adalah milik manusia sehingga takdir itu bisa saja berubah.

__ADS_1


Gavin tersenyum, ia memperhatikan Helli yang sudah kembali terlelap di atas ranjang. Pun ia segera beranjak, berjalan menuju kamarnya. Hampir lima jam mereka berbincang, dan percayalah, Gavin tidak merasakan bosan sama sekali.


__ADS_2