
Helli terbaring lunglai di atas ranjang. Terlalu letih untuk bangun dan menghadapi dunia. Sudah dua hari berlalu sejak masalah menghantamnya hingga babak belur. Tidak ada lagi yang tersisa sama sekali. Entah itu nama baik, harga diri, karir dan cinta. Semuanya dirampas paksa.
Selama dua hari ini, Helli hanya berbaring putus asa, tidak memejamkan mata sama sekali. Berbaring sambil memikirkan Gavin. Di tengah kerumitan yang sedang ia hadapi saat ini, sempat-sempatnya ia berharap Gavin datang kepadanya walau hanya sekedar mengucap bela sungkawa atas musibah yang beruntun menimpanya. Tapi, hingga 48 jam berlalu, Helli tidak mendengar apa-apa tentang pria itu. Mungkin Gavin sedang pergi berbulan madu. Pria itu enggan untuk meladeni pers yang menuntut komentarnya tentang foto bugil Helli yang sudah disaksikan oleh seluruh dunia. Foto pembawa bencana. Esok mungkin, masa lalu ibunya yang akan terkuak ke media. Helli hanya tinggal menunggu hari.
Kabar tentang filmnya juga tidak ia ketahui ujungnya seperti apa. Addrian tidak pernah lagi menghubunginya atau ia yang lupa mengisi daya ponselnya. Entahlah. Ia sudah tidak peduli tentang itu lagi.
Kristal bening itu kembali meluruh. Bayangan tentang dunia yang menyaksikan tubuhnya benar-benar membuatnya sedih. Dan kesedihan yang ia rasakan semakin menjadi saat Gavin tidak memedulikan perasaannya.
Apakah nama baik begitu penting bagi seorang Vasquez, hingga nuraninya sesama manusia sudah tidak tersisa lagi. Ia ingin seseorang datang mengusap punggungnya dan mengatakan, Helli, semuanya akan baik-baik saja. Ini hanya sementara. Dan orang yang ia harapkan mengatakan hal itu adalah Gavin. Ia ingin Gavin membelanya.
Sudahlah. Foto-foto itu sudah tidak penting lagi. Ada banyak masalah yang lebih berat dari itu. Biarkan dunia menyaksikan tubuhnya, menertawakannya. Bukankah itu yang diinginkan Calvin. Biarkan orang-orang mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tetesan air mata terasa panas bercucuran di pipi. Helli menggapai selembar tisu, membersihkan hidungnya.
Helli menarik napas panjang, dadaanya tetap saja terasa sesak dan sempit membuat otaknya tidak bisa berpikir, masalah mana yang harus ia selesaikan pertama kali. Helli menggapai kertas yang terletak di sisinya. Hasil test yang menyatakan positif AIDS.
Sadar tidak akan ada yang berjuang untuknya, Helli mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Pertama-tama yang harus ia lakukan adalah membayar hutang ibunya dan mengembalikan mobil Gavin. Masalah AIDS, ia sudah menyerahkannya kepada dokter. Ia akan berkonsultasi lebih lanjut dan mempelajari tentang penyakit tersebut.
Dugh! Dugh!
"Helli, buka pintunya!"
Helli tercenung, apakah ia salah mendengar? Itu adalah suara Gavin.
"Helli, kau di dalam? Buka pintunya!"
Ternyata dia tidak salah mendengar. Itu benar suara Gavin. Helli berlari ke balik pintu.
"Untuk apa kau datang kemari, bajiingan?! Pergi sana! Nikmati kehidupanmu yang sempurna! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"
"Buka pintunya atau kudobrak?!"
__ADS_1
"Kau mengancamku?"
"Aku memberitahu."
"Kalau begitu izinkan aku memberitahu juga jika kedatanganmu ke sini hanya sia-sia. Dobrak? Ciih! Aku tidak yakin kau memiliki kekuatan. Satu-satunya kekuatan yang kau miliki adalah sangat ahli mematahkan hati."
"Aku jelas tahu tentang keahlianku tersebut. Bukan salahku terlahir sebagai Vasquez yang menawan."
"Akhirnya kau mengaku jika dirimu adalah Vasquez, heh?! Pergi sana. Jangan temui aku."
"Astaga, tidak bisakah kau membuka pintunya. Aku sungguh ingin melihatmu."
"Untuk apa? Untuk menertawakanku?!"
Entah apa yang merasuki Helli. Sesaat tadi ia menginginkan kehadiran Gavin. Tapi, begitu pria itu hadir, dia malah mengusirnya. Benar-benar watak wanita tidak bisa ditebak.
"Kenapa kau selalu beranggapan buruk terhadapku?"
"Jangan katakan seperti itu."
"Kau memang pria paling buruk, brengseek!!"
"Mundur dari pintu, aku tidak ingin kau celaka."
"Kenapa aku harus mundur? Aku tidak mau!"
"Pintunya akan kudobrak, Helli. Agar kau tahu bahwa aku tidak hanya pintar mematahkan hati tapi juga menghancurkan pintu ini."
"Tidak usah sok jagoan, Mr. Vasquez!"
"Ini namanya usaha agar terlihat keren. Demi Tuhan, Helli, apa yang sedang kita bicarakan saat ini. Buka pintunya sebelum aku benar-benar melukai bahuku demi mendobrak pintu sialan ini!"
__ADS_1
"Baik! Mari kita lihat wajahmu yang munafik itu!" Helli menarik kasar daun pintu dan Gavin melompat masuk. Di belakang pria itu ternyata banyak pers yang mengikuti.
"Kau baik-baik saja?" Gavin bertanya sambil menutup pintu kembali.
Helli tidak lantas menjawab pertanyaan pria itu. Helli memperhatikan penampilan Gavin dengan seksama.
"Tanyakan itu pada dirimu. Kau terlihat sangat berantakan. Bukankah ini setelan jas yang sama yang kau kenakan dua hari lalu?"
Gavin memperhatikan dirinya. Memandang penampilannya dengan tatapan kosong. Dia tidak ingat sama sekali. "Aku tidak tahu," Ia mengembalikan tatapannya ke wajah Helli yang terlihat sangat kacau. Lingkaran hitam tercetak jelas di sana. "Ada beberapa hal yang perlu kukatakan padamu."
"Jika kau hanya ingin mengucapkan bela sungkawa, kau hanya membuang napas, pergilah!" Helli mengayunkan kertas di tangannya, mengusir pria itu. Astaga, Helli benar-benar labil. Beberapa menit lalu, ia mengharapkan Gavin muncul dan sekarang saat pria itu di hadapannya, Helli justru mengusirnya berulang kali.
"Helli, dengarkan aku..."
"Tidak ada yang perlu untuk kudengarkan lagi. Kau orang paling munafik yang pernah kutemui. Berani-beraninya kau terkejut melihat berita skandal itu setelah apa yang kau lakukan dalam hidupmu. Bukankah kau juga sering menelanjangii para wanita."
"Aku tidak ingin membahas aibku," Gavin mengerang. Memang bukan itu tujuannya datang kemari.
"Cih! Kau malu?"
"Aku tidak menyangka ini akan terjadi kepadaku," Gavin bergumam serak.
"Ya, tidak seharusnya kau terlibat dengan orang sepertiku." Helli bersedekap, mengetukkan kakinya ke lantai dengan sangat tidak sabar.
"Well, aku akan meminta maaf untuk kesekian kalinya karena sudah menghancurkan hidupmu yang sempurna. Merusak momen bahagiamu. Lalu, kenapa kau ada di sini? Tidak berbulan madu?" Air mata frustasi dan malu semakin mendesak keluar membuat pandangannya semakin kabur. Helli menunjuk pintu, "Pergi, sebelum aku membuat reputasimu semakin hancur. Tidak usah pedulikan aku. Tubuh telanjanggku yang tersebar di internet, bukan tubuhmu. Kau adalah orang suci, sebaiknya pergi sebelum aku yang hina ini mencemarimu."
"Apa yang sedang kau bicarakan?" Gavin terlihat bingung.
"Kau, brengsek! Wajahmu yang terkejut saat melihat foto bugilku benar-benar membuatku muak. Kau bahkan sudah..." Helli menghentikan kalimatnya. Hampir saja ia mengatakan bahwa Gavin sudah mencicipinya. Memang tidak sepenuhnya salah Gavin. Dirinyalah yang memiliki andil besar pada malam itu.
"Tunggu dulu," Gavin masih terlihat bingung. "Kau mengira aku kaget karena vidio dan fotomu? Kau menyebutku munafik karena ini?"
__ADS_1
"Ya! Kau bahkan tidak bisa menggerakkan lidahmu saat acara pesta mewahmu kemarin. Kau berjalan tertatih. Dan masalahku sudah cukup rumit. Keluar, aku tidak ingin menambah skandal tentang Helli yang memohon pada seorang Vasquez atau Helli Lepisto menjebak suami wanita lain dan menguncinya bersamanya. Aku muak dengan semua judul berita itu!"