My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Hari Yang Buruk


__ADS_3

"Gavin, kau harus melihat ini." Grace naik ke atas panggung, mengabaikan para tamu undangan yang menatap dengan penuh penasaran. Gavin yang sedang berpidato, sontak menghentikan kegiatannya tersebut. Grace menunjukkan ponselnya.


Sebuah majalah Italia mengklaim bahwa mereka memiliki beberapa foto telanjang dan juga vidio dari Helli Lepisto.


"Foto-foto?" Ia bergumam, menjaga raut wajahnya tetap terlihat tenang. Otaknya langsung menangkap jika ini adalah perbuatan Calvin. Kebebasan. Kebebasan. Inikah masa lalu yang membelenggu Helli?


"Gavin Vasquez, sepertinya mantan tunanganmu itu lebih liar daripada yang digosipkan. Bagaimana caramu untuk mengatasi ini?"


Gavin menatap tajam pada seorang jurnalis yang berani melayangkan pertanyaan tersebut.


"Dia bukan mantan tunanganku," sahutnya dengan sinis. Dia tidak mau mengakhiri pertunangan ini dan jurnalis itu seenaknya mengatakan mantan tunangan.


"Ya, dia adalah tunangan palsu. Itulah berita yang kami dengar. Masalah ini akan berdampak pada nama baik Vasquez dan juga perusahaan. Jadi, apa tindakanmu selanjutnya?"


"Son..." Glend merangkul pundaknya. Pria itu menepis tangan ayahnya. Ia melangkah turun dari panggung.


Meraup kerah sang jurnalis. Matanya melirik name tag yang tertulis juga logo perusahaan.


"Kau mencari masalah denganku, Kawan." Gavin melayangkan ancaman kemudian berlalu dari sana. Ia terguncang, panik membayangkan nasib Helli.


Kata-kata ayahnya kembali terngiang. Momen yang ia lewati saat bersama Helli terekam dengan jelas. Bagaimana tawa gadis itu, bagaimana reaksinya saat melihat tawa itu. Jantungnya tidak pernah aman. Kemarahan yang tidak berdasar dan rindunya yang menggila. Semua pertanyaan itu hanya memiliki satu jawaban.


Jawaban yang benar-benar mengejutkan baginya.


"Gavin," seseorang menahan tangannya. Gavin berhenti, menoleh dan menatap heran pada sosok tersebut.


"Kau mau kemana? Apa yang kau lakukan? Pergi di tengah acara."


"Lepaskan tanganmu, Mona."


Rasa yang ia rasakan pada Helli, tidak pernah ia rasakan pada Mona. Betapa bodohnya selama ini.

__ADS_1


"Kau tidak bisa meninggalkan acaramu hanya karena berita tentang gadis murah..."


Gavin menarik tangannya dengan sekali hentakan kuat hingga Mona sampa-sampai mundur beberapa langkah.


"Jangan memancingku untuk berbuat kasar kepadamu." Gavin melanjutkan langkahnya.


Mona yang sangat menunggu momen kehancuran Helli, berusaha untuk menahan Gavin. Ia kembali mengejar pria itu. Gavin yang sudah panik, kembali menarik tangannya dari Mona dan tanpa sengaja mendorong gadis itu hingga terjatuh.


Sementara itu, Helli baru menginjakkan kaki di rumah keluarga Vasquez. Bagaimana ini, rumah itu penuh dengan tamu undangan. Terbersit keinginan untuk berputar arah. Beritanya mungkin sudah tersebar. Tidak ada gunanya memberi peringatan kepada Gavin.


Namun, saat ia hendak berbalik, ia melihat sosok Gavin tiba-tiba muncul. Pria itu seperti sedang berjalan sambil tidur. Kancing kerah kemeja pria itu terbuka dan pria itu seolah seperti habis ditabrak mobil. Wajahnya tampak pucat dan rambutnya yang biasa licin dan rapi tampak berantakan.


Dengan mata nanar, Gavin menabrak beberapa tamu undangan, juga pelayan yang kebetulan melintas hingga nampan yang dibawa para pelayan berhamburan di lantai. Gavin seolah tidak mendengar dan menyadari hal itu. Jelas sekali jika pria itu shock. Fakta bahwa seorang Gavin shock sangat mengejutkan bagi Helli. Gavin tidak pernah terlihat seperti itu sebelumnya. Pria itu selalu tersenyum miring, bertingkah sombong. Melihat kondisi Gavin membuat perut Helli melilit.


Tatapan mereka akhirnya bertemu. Gavin berfokus kepadanya. Wajah tampan itu memucat, pria itu tampak goyah dan untuk sesaat tidak bisa berkata-kata. Hanya memandangi Helli dengan tatapan tidak percaya.


Tatapan terguncang itu membuat Helli dilingkupi rasa malu yang luar biasa. Helli ingin Gavin mengatakan sesuatu yang konyol, misalnya, angelo mia, ternyata mereka tau bagaimana mengabadikan seni. Seni tentang potret dirinya yang polos.


"Berikan aku wiski," suara yang biasanya halus dan seksi, kini terdengar serak dan bergetar. Pelayan yang melintas di hadapan Gavin segera memberikan apa yang diinginkan pria itu. Gavin menegaknya hingga habis. Tangannya bergetar, nyaris tidak memiliki kekuatan untuk memegang gelas tersebut.


Gavin menatap Helli, "A-aku... Aku tidak tahu.... Aku baru mengetahui..." Gavin tidak pernah gugup dan terbata-bata. Saat itu Helli merasakan ada bongkahan panas tersangkut di kerongkongannya.


"Aku tahu kau baru tahu. Aku datang untuk meminta maaf. Ini jadi merusak acara spesialmu. Aku akan meluruskannya besok." Wajah Helli dingin dan ketus.


"Kau datang untuk meminta maaf?" tanya pria itu dengan gusar. Wajah pucat gadis itu juga membuatnya ingin memaki. Helli terlihat sangat kurus. Seperti bayi kanguru yang membutuhkan perlindungan.


Tapi Helli adalah gadis keras kepala, tidak akan menunjukkan sisi lemahnya secara terang-terangan. Selagi mampu, Helli akan bertahan, sok kuat hingga akhir.


"Tentu saja. Aku merusak segalanya. Merusak hari spesialmu. Bukan ini hadiah yang kau harapkan di hari bersejarahmu. Aku sungguh minta maaf. Akan ada banyak kejutan lagi. Tapi aku berjanji akan meluruskannya. Tidak akan melibatkan Vasquez sama sekali. Ini sudah berakhir. Selesai." Helli berbalik, meninggalkan tempat tersebut. Harusnya Helli tidak menoleh, tapi ia melakukan kesalahan, ia menoleh dan melihat pria itu menatapnya dengan nanar. Memangnya apa yang ia harapkan? Gavin mengejarnya? Yang benar saja!


Helli melarikan kakinya, menabrak beberapa pengunjung karena pandangannya yang mulai kabur, terhalang oleh air mata yang menggenang. Dirinya benar-benar berubah cengeng akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Helli," panggilan Addrian ia abaikan. Ia terus berlari, mencari tempat pesembunyian. Di mana tidak ada orang yang akan mengenalinya.


Tapi sepertinya ia harus menunda untuk bersembunyi begitu merasakan perutnya kembali melilit.


"Rumah sakit," Helli memberi perintah kepada sopir taksi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


Sampai di rumah sakit, Helli melakukan serangkaian pemeriksaan. Termasuk test darah. Helli menunggu hasil testnya keluar.


Helli memilih untuk menunggu di taman. Ia butuh udara segar. Saat berada di pintu keluar, ia melihat ibunya sedang menyebrang.


"Mom," Helli mendekati ibunya.


Lonela tampak terkejut dengan keberadaan Helli di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau sakit?"


Helli menganggukkan kepala. Hatinya menghangat saat mendengar ibunya menanyakan kesehatannya. "Aku sedang menunggu hasil test-ku, Mom."


Lonela mengangguk, "Ayo,"


"Mom ingin menemaniku?"


Lonela tidak menjawab. Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit kembali.


"Helli Lepisto," seorang perawat memanggil namanya.


"Aku akan mengambil hasilnya. Mana resepmu, aku akan menebusnya." Helli mengambil secarik kertas dari tangan ibunya dan segera pergi menebus obat yang dibutuhkan ibunya. Ia bertanya kepada perawat tentang obat-obat tersebut. Ia tidak bisa mengabaikan kesehatan ibunya begitu saja.


Helli membaca hasil laporan yang ada di dalam genggamannya. Tubuhnya meluruh ke lantai. Positif AIDS.


Helli terbahak seperti orang gila sebelum melaungkan tangisannya. Hari yang sempurna untuk hidup yang sangat buruk dan menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2