
"Akhirnya kau pulang juga,"
Suara itu sontak saja menghentikan langkah Helli. Ia jelas tahu siapa pemilik suara tersebut, membuatnya refleks menoleh dan menemukan Gavin yang sedang duduk di sofa. Untuk sesaat keduanya hanya bergeming dan saling menatap.
Wajah Gavin terlihat dingin tidak bersahabat. Helli bertanya-tanya ada apa dengan Gavin. Apakah pria itu mengalami hari yang buruk?
Buru-buru ia menepis hal itu. Seorang Vasquez mana mungkin mengalami hari yang buruk. Mungkin jika Helli belum tahu kenyataan tentang identitas mantan tunangan palsunya itu, ia akan menebak jika kekusutan yang terlihat di wajah Gavin karena masalah finansial.
Dan sekarang Helli jelas tahu bahwa finansial bukanlah sesuatu yang perlu pria itu khawatirkan. Kini Helli melihatnya dengan cara yang berbeda. Jika dulu ia menganggap Gavin adalah montir berkelas, kini ia menganggap bahwa Gavin adalah perpaduan semua aspek yang membuat pria itu terlihat tidak manusiawi. Sulit untuk menjangkaunya.
Helli berdehem saat mengawasi Gavin yang mulai beranjak dari tempatnya, berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau di sini?"
"Ini rumahku."
Jawaban Gavin terdengar ketus dan dingin membuat Helli merasa takut dan sedikit ciut.
"Ya, ini rumahmu dan untuk itulah aku akan naik ke atas untuk mengemasi barang-barangku. Aku akan pergi, secepatnya. Begitu aku menemukan rumah yang cocok," Helli menekan kalimatnya di akhir, ia juga mencoba bersikap biasa saja, menyunggingkan senyum walau ia yakin senyumnya terlihat kaku.
Bukan hanya ucapan Gavin yang terdengar dingin, gerakan tubuh pria itu pun mendadak terlihat begitu sangat mengancam. Seperti singa kelaparan yang siap menerkam siapa saja yang lewat di hadapannya. Dan kali ini posisinya, Helli lah mangsa yang cocok untuk Gavin. Karena hanya ada mereka berdua di sana.
Helli menelan salivanya yang mendadak alot. Ia harus bersikap penuh hati-hati jika tidak ingin memperkeruh suasana hati Gavin yang sepertinya sedang bermasalah.
"Kau sedang bertengkar dengan Mona?" pertanyaan itu meluncur begitu saja tatkala Gavin kini berdiri tepat di hadapannya.
Astaga, kenapa aku harus menanyakan itu! Ya, mungkin saja mereka sedang bertengkar. Tidak ada alasan yang lebih masuk akal bagi pria yang mendadak uring-uringan selain bertengkar dengan sang kekasih!
"Oh, kau tidak usah menjawabnya." Helli buru-buru menambahi seraya melambaikan kedua tangannya, diikuti dengan gelengan kepala.
Gavin bergeming, yang pria itu lakukan hanya memandangi wajah Helli dengan mimik tidak terbaca. Kemudian melirik ke barang bawaan Helli yang penuh di tangan kiri dan kanan.
Helli jadi salah tingkah dibuatnya. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menunduk melihat lantainya berpijak. Mengangkat kepala kembali dan matanya beradu dengan manik Gavin dan ia buru-buru memalingkan wajah.
__ADS_1
Helli memiliki alasan kenapa dia salah tingkah. Ia khawatir jika Gavin sudah menyadari apa yang terjadi tadi malam. Helli belum siap menerima pertanyaan karena ia memang belum menemukan penjelasan yang masuk akal selain kebodohannya karena sudah jatuh cinta pada Gavin.
"Ehem..." Helli sengaja berdehem, kemudian terbatuk-batuk. "A-aku sepertinya batuk."
"Aku bisa melhat dan mendengarnya. Batuk kering yang dipaksakan."
Jleb!
Triknya gagal untuk bisa kabur. Wajah Helli merona malu karena Gavin tidak bersedia mengikuti akting pura-puranya itu. Sepertinya pria itu tidak berniat sama sekali mengakhiri kecanggungan ini. Sebenarnya apa mau pria ini? Helli bertanya-tanya.
"Tenggorokanku terasa kering," kali ini Helli tidak berbohong. Tenggorokannya memang mendadak kering, bukan karena batuk.
Gavin tidak merespon, pria itu hanya memalingkan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Helli.
"Bagaimana rasanya berkencan dengan dua pria di hari yang sama?"
"Hah?" Helli mengernyit bingung. Terang saja ia bingung. Ia tidak merasa sedang berkencan dengan siapa pun. Ia bahkan lupa bahwa tadi pagi dirinya memang berpamitan kepada Gavin untuk pergi berkencan.
"Menikmati?"
"Barang-barang mahal, restoran mahal, inikah yang kau inginkan?"
Helli yang masih tidak mengerti kemana arah perbincangan ini mencoba menjawab seadanya.
"Kurasa semua wanita menyukai barang-barang mahal, makan di restoran mahal."
Gavin mengangguk, "Tentu saja kau tidak berbeda dari mereka," Sarkas pria itu. "Pria berkuasa, kebebasan, itulah yang kau inginkan, bukan?"
Helli mengangguk meski hatinya mulai tercubit melihat ekspresi Gavin yang seolah memandangnya dengan tatapan jijik.
"Sepertinya kau lupa menambahkan satu hal. Kemewahan. Kau menyukainya, bukan?"
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan, Gavin?"
__ADS_1
"Yang ingin kutanyakan, bagaimana bisa kau pergi berkencan dengan dua pria? Kau tidak merasa risih?"
"Dua pria?"
"Apa yang kau lakoni ini, Helli? Kudengar dari Addrian, syuting sudah selesai, tapi kenapa kau masih saja terus berlakon."
"Aku tidak tahu jika kau sangat peduli dengan pekerjaanku sampai kau bertanya kepada Addrian."
"Jadi, pelayanan seperti apa yang kau berikan kepada kedua pria itu hingga mereka membawamu bersenang-senang dengan menghadiahimu semua barang-barang itu?" mengabaikan pertanyaan Helli, Gavin mengarahkan dagunya ke tangan Helli yang menenteng barang belanjaannya.
Helli menunduk, melihat objek yang menarik perhatian pria itu.
"Rusell atau pria yang menjemputmu tadi pagi yang memanjakanmu dengan semua barang-barang itu?"
Helli sekarang mengerti kemana konsepnya. Ia tertawa seketika, menyembunyikan denyutan perih di ulu hatinya. Bukankah ia sudah terbiasa dipandang sebelah mata dan ia sudah memutuskan untuk menikmatinya seperti yang ia katakan saat di bianglala. Lantas, kenapa saat Gavin yang memandang remeh kepadanya ia merasa seakan menjadi wanita paling hina.
"Astaga, Gavin! Ternyata kau bukan hanya penasaran dengan pekerjaanku, tetapa juga kehidupan priabadiku. Tapi, ya, apa mau dikata, kehidupan pribadiku memang selalu saja menarik. Kau penasaran tentang ini?" Helli mengangkat barang belanjaanya. Di sana juga ada sepatu pemberian Grace.
"Beberapa diantaranya memang diberikan oleh seseorang. Siapa yang tidak suka dengan barang mewah. Kau mempertanyakan soal pelayanan, kurasa kau tidak membutuhkan jawabannya. Bukankah kau sudah merasakan seperti apa pelayanan yang kuberikan kepadamu saat kita berkencan?" Helli mengerling nakal. Sengaja menatap Gavin dengan gaya menggoda. "Kurang lebih seperti itulah yang mereka dapatkan. Pelukan, ciuman, ya, kira-kira seperti itu. Tapi kau tenang saja, kau tetap yang spesial. Ciumanmu lebih hebat dari mereka. Aku berkata jujur."
Gavin merasakan rahangnya jatuh ke lantai. Kedua tangannya terkepal erat. Matanya memicing tajam bagai elang, merah menyala dan siap memuntahkan amarahnya.
Helli sudah tidak merasa takut sama sekali. Kemarahan Gavin sama besarnya dengan kemarahannya saat ini. Gavin merendahkannya.
"Aku kembali dulu ke kemarku, badanku sangat letih. Melayani dua pria dalam satu waktu sedikit melelahkan. Hm, tapi aku tidak keberatan jika harus melayanimu, Gavin. Meski kau hanya seorang gelandangan, tapi fisikmu sangat oke."
Jika Gavin tidak mengatakan dengan jujur tentang identitasnya, maka selama itu juga Helli akan berpura-pura.
"Atau kau keberatan dengan sisa-sisa dua pria yang tertinggal di tubuhku?"
Bugh!
Gavin mendorong Helli ke dinding dengan gerakan yang tidak disadari Helli. Pria itu menyerang mulutnya dengan ganas dan brutal. Menjamah semua yang bisa pria itu jamah dengan terburu-buru juga kasar hingga Helli merasakan sakit di titik di mana Gavin menyentuhnya. Tapi sakit fisik yang ia rasakan tidak ada apa-apanya dengan sakit hatinya saat ini. Gavin menurunkan mulut ke lehernya, meninggalkan beberapa jejak di sana. Lalu pria itu mundur menjauh, memalingkan wajah kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Helli yang meluruh ke lantai.
__ADS_1