My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Tunangan Totalitas


__ADS_3

"Aku tidak ingat kau meronta-meronta menolak," Gavin sangat tenang hingga membuat Helli kesal. "Perlu dua orang untuk menciptakan ciuman seperti itu, ciuman penuh hasrat."


Gestur tubuh juga nada bicara Gavin adalah perpaduan yang sempurna untuk membuat gula darah naik dengan cara cepat. Itulah yang dirasakan Helli saat ini. Dua tahun, ia belajar untuk mengendalikan diri, menahan emosi. Ia kira sudah berhasil. Nyatanya, setelah bertemu spesies manusia langka yang tidak perlu dilestarikan seperti di hadapannya ini, ia tahu ia keliru. Emosinya masih saja mudah meledak-ledak. Tapi, Helli tahu jika saat ini bukan waktu yang tempat untuk melepaskan tumitnya dan melemparnya ke wajah yang luar biasa tampan itu.


"Tapi aku tidak akan pernah memulainya!" Akhirnya Helli bisa mengeluarkan kalimat penyanggahan.


"Ya, tapi kau yang menyelesaikannya."


Suara Gavin rendah dan terdengar sensual. Helli merinding, reaksi tubuhnya terlalu mistis, oa tidak menyukainya.


"Kau mendorongku di menit ke dua." Gavin melanjutkan. Terang saja manik Helli membeliak lebar.

__ADS_1


"Astaga, kau menghitungnya?" Helli menatapnya tidak percaya. Selama itukah mereka berciuman? "Kenapa kau menciumku?" Helli melayangkan pertanyaannya yang seharusnya ia tanyakan saat pria itu menciumnya di resto.


"Kau ada di sana." Jawab Gavin enteng.


Helli menarik napas panjang, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Cukuplah gura darahnya yang naik, ia tidak ingin paru-paru juga berhenti berfungsi.


"Apakah hanya itu yang kau perlukan untuk mencium seorang wanita? Hanya dia ada di sana?" Helli berkata selembut dan setenang mungkin.


Gavin menganggukkan kepala, "Bukankah untuk berciuman membutuhkan dua personil."


"Di menit aku ingin menyalurkan hasrat seperti yang kau katakan baru saja, kebetulan sekali kau yang lewat di hadapanku. Flamingo si kaki panjang yang sangat seksiih."

__ADS_1


Gavin tertawa geli mendengar ucapannya sendiri. Tawanya semakin lebar saat melihat wajah Helli berubah pias, hidung gadis itu juga kembang kempis.


"Butuh usaha keras untuk tidak mencekikmu, Mr. Pelayan."


"Tidak sekeras tekadku yang mencoba menahan diri untuk tidak mencicipi bibirmu lagi. Rasanya manis. Aku penasan, lipstik apa yang kau kenakan. Mungkin aku bisa mempromosikannya ke teman kencanku suatu hari nanti."


"Aku ingin membunuhmu!"


"Duduklah. Mari kita bicarakan apa yang menjadi tujuanmu datang kemari. Kau terbayang-bayang dengan ciumanku."


Astaga, Gavin memang tiada duanya. Entah pria itu sedang merayu atau meledek, tapi dimana pun dari kedua hal itu yang dilakukan Gavin, sukses membuat Helli emosi. Segala umpatan yang ia tahu, ia lontarkan di dalam hati. Sesak rasanya tidak bisa meluapkannya secara langsung.

__ADS_1


"Baiklah. Cukup basa basinya! Sekarang mari ke inti permasalahan. Untuk menjadi tunanganku, bukan hal yang mudah, Helli Lepisto. Kau harus menjadi tunangan yang totalitas. Kuharap kau tidak bertanya apa itu yang kumaksud dengan totalitas." Gavin mencondongkan tubuhnya, membuat Helli refleks menjauhkan wajah. Tapi tangan kekar Gavin sudah menariknya hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. "Aku pria normal dan tidak murah hati. Ada harga yang harus kau bayar untuk membungkam mulutku atas kebohonganmu, Helli. Jadilah tunangan yang totalitas," Gavin merogoh kantongnya dan tiba-tiba sebuah cincin sudah tersemat di jemari gadis itu.


Helli menganga, bagaimana bisa cincin itu ada di sana, di jari manisnya?!


__ADS_2