
"Aku bertanya-tanya, kenapa Mona tidak jatuh hati kepadamu? Apakah dia sama sepertiku? Kurang meminati pria kurang kaya walau casingnya cukup tampan dan penuh perhatian?"
Gavin tersedak mendengar penuturan Helli. Di disaat bersamaan, gadis itu memuji dan menjatuhkannya. Sekarang Gavin yakin sekali Helli membuka pembicaraan, disaat itu ia harus siap-siap untuk terkejut.
"Dari kalimatmu aku menangkap arti tersirat. Kau akan jatuh hati padaku, jika aku adalah pria kaya, begitu maksudmu?"
"Aku tidak ingin munafik," Helli mengidikkan bahunya dan mulai memasukkan selada ke dalam mulut. "Kau tampan, menawan, ahli memberikan perhatian-perhatian manis yang sangat disukai para wanita. Kekuranganmu hanya satu, yaitu kurang kaya."
"Benar, kau tidak jatuh hati padaku?" Gavin tiba-tiba mencondongkan dirinya ke hadapan Helli. Hidung mereka hampir bersentuhan. Helli sampai dibuat terkejut olehnya untuk sepersekian detik.
"Beginikah cara yang kau gunakan untuk merayu para wanita di luar sana?" Tangan Helli terulur menyentuh wajah Gavin.
Jangankan Gavin, Helli pun terkejut menemukan tangannya di sana. Kepalang terlanjur, Helli melanjutkan aksinya, karena yang ia lihat, Gavin juga sangat tersentak oleh sentuhan tidak terduga itu. Jika sekarang mereka sedang bermain permainan siapa yang lebih dahulu takluk dan bertekuk lutut, maka Helli harus melakoni perannya dengan baik.
__ADS_1
Helli menurunkan tatapannya pada alis tebal nan rapi milik pria itu. Ia memainkan jemarinya di sana, mengusapnya dengan lembut dan perlahan. Lalu jemarinya naik ke kening Gavin, Helli juga melakukan hal yang sama, mengusapnya dengan penuh hati-hati.
Lagi, jemarinya kembali turun menyusuri hidung hingga sudut bibir pria itu. Tanpa sadar, Gavin memejamkan matanya. Ah, Helli tertegun, baru ia sadari jika Gavin memiliki bulu mata lebat, panjang dan lentik. Tidak tahan untuk memanjakan jemarinya di sana, Helli juga menyentuh bulu mata pria itu.
Gavin membuka matanya ketika tidak merasakan jemari Helli bermain-main lagi di wajahnya. Kini tangan mulus Helli mencakup kedua pipi Gavin. Keduanya beradu tatap, saling menurunkan tatapan ke bibir pihak masing-masing.
Baik Helli maupun Gavin bergumul dengan hati dan pikiran masing-masing. Apakah mereka harus menyatukan bibir mereka atau bagaimana cara mengakhiri kecanggungan ini.
Tentunya Gavin lebih menyukai opsi pertama. Bibir ketemu bibir.
Gavin mengerang dalam hati saat Helli berhenti di jarak setengah senti.
Gavin tidak tahan lagi, yang ada di otak dan pikirannya, ia harus menyecap bibir madu itu sebelum menikmati makan malamnya. Bibir Helli akan menjadi makanan pembuka yang sempurna. Pun ia segera memiringkan kepala, mengambil posisi pas untuk memagut apa yang tersaji di hadapannya.
__ADS_1
Namun, lagi dan lagi Helli berulah. Gadis itu menggeser posisinya. Bibir yang tadinya saling berhadapan, kini berada di telinga Gavin. Gavin merasakan bulu romanya berjingkrak-jingkrak saat merasakan hembusan napas Helli di sana. Helli memang setan betina yang cantik dan perayu!
"Gavin," panggil Helli dengan suara lembut dan seksih.
Untuk pertama kalinya, Gavin menyukai cara seseorang memanggil namanya.
"Trik ini mungkin ampuh untuk wanita lain, tapi tidak untuk wanita yang baru saja menyedekahkan sepasang dalaman untukmu, Vin."
Gavin baru tahu bagaimana rasanya dibuat terbang tinggi melayang menggapai awan, lalu di detik selanjutnya dijatuhkan hingga ke dasar tanpa aba-aba.
Gavin malu, tentu saja. Tapi kembali hal baru ia rasakan. Sesuatu di bawah sana sudah tegang. Hal yang sebelumnya juga belum pernah terjadi. Benda itu biasanya hidup jika disentuh. Dan Helli tidak melakukan apa-apa, tapi dengan tidak tahu malunya, benda itu berdiri, sesak di bawah sana.
Damn it!!
__ADS_1
Setan betina, kubunuh kau!!!