
Grace membawa piala kemenangan dan berlari menghampiri tiga orang yang sedang menunggunya. Glend dan Gavin merentangkan tangan, berniat untuk memberikan pelukan tetapi Grace mengabaikan kedua pria itu dan justru menghampiri Helli. Glend terkekeh sementara Gavin mendengus kesal.
Grace berdiri dengan napas tidak teratur. Pakaiannya masih penuh dengan keringat. Grace memamerkan senyum terindahnya, menatap kagum pada gadis cantik di hadapannya. Sang idola. Helli Lepisto.
"Selamat untuk kemenanganmu. Kau hebat sekali," Helli memuji dengan tulus. Tatapan kagumnya pada gadis kriket itu juga tidak dibuat-buat.
Grace menyerahkan pialanya. "Ini untukmu."
"Hah?"
"Jika kau tidak berteriak seperti itu, mungkin aku tidak akan fokus."
Helli tersenyum, "Kemenanganmu karena usahamu dan juga kerja keras timmu yang solid. Kau dan timmu satu kesatuan yang hebat. Tapi meski begitu, terima kasih sudah mempersembahkan ini untukku. Aku merasa tersanjung," Helli mengambil piala dan mengangkatnya ke atas.
"Yeee! Ini hebat sekali!!!"
"Helli Lepisto, aku sangat mengagumimu. Aku bahkan bergabung dalam fans klubmu. Bolehkan aku mendapatkan service khusus dari seorang idola kepada fansnya."
Tawa di wajah Helli memudar. Seraut kebingungan terpatri jelas di wajahnya yang cantik. Apa dia tidak salah mendengar jika seorang Grace Vasquez mengaguminya. Wuah, ia merasa tersanjung, tersentuh untuk pertama kalinya mendengar pengakuan seorang fans. Bukan karena Grace adalah seorang Vasquez, tapi karena Grace menyampaikan kekaguman itu dengan cara yang begitu sangat manis. Manik indah gadis itu bahkan berbinar indah layaknya bintang di langit.
__ADS_1
Helli bisa merasakan jika ucapannya bukan basa basi semata.
Helli kembali mengembangkan senyumnya setelah mampu mengatasi keterkejutannya. Ia kira seorang Grace si pengangguran kaya adalah orang yang sombong. Ternyata Grace yang ada di hadapannya ini adalah seorang gadis yang sangat hangat, menatapnya penuh kekaguman yang dilayangkan secara terang-terangan.
"Astaga, aku juga sangat mengidolakanmu. Percayalah." Helli mengatupkan kedua tangannya di dada. Ini benar.
"Benarkah? Apa yang bisa dibanggakan dariku?" Grace menanggapinya tidak kalah terkejutnya seperti Helli mendengar pengakuannya.
"Banyak. Kau kaya sejak lahir. Itu sudah merupakan kebanggaan." Jawaban Helli yang ringan membuat Grace yang tadinya bingung semakin melongo.
"Aku pengangguran," ucapnya dengan penuh tekanan. Ia malu mengatakan ini tapi itulah faktanya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang pengangguran.
"Ah ya, tapi berikan aku pelukan dulu. Astaga, aku bau keringat. Aku harus menahan diri kalau begitu." Grace terlihat kecewa. Ia tidak ingin aromanya yang tidak sedap mencemari aroma Helli yang aduhai.
"Tidak masalah," Helli merentangkan kedua tangannya.
"Kau yakin?" Grace terlihat meragu. "Aku bau keringat."
"Kemarilah." Helli menarik Grace, keduanya pun berpelukan.
__ADS_1
"Oh Tuhan, aku berdebar," aku Grace dengan wajah tersipu. "Benar kata Gavin, kau wangi dan enak."
Helli mengurai pelukan mereka untuk menatap wajah Grace.
"Gavin mengatakan apa?"
"Kau wangi enak. Kukira dia membual."
Helli menatap Gavin, mencibik dengan kesal sebelum mengembalikan tatapannya kepada Grace kembali.
"Ya, dia memang pembual. Kukira cuma aku yang menyadarinya."
"Astaga kau juga sepemikiran denganku? Ahh... aku senang kau juga beranggapan seperti itu. Ini menambah kekagumanku kepadamu. Setidaknya kau tidak seperti gadis-gadis lugu di luar sana yang langsung terhanyut dengan bualannya yang mengandung bisa mematikan."
Kedua wanita itu tertawa, tidak peduli dengan objek yang menggerutu mendengar perbincangan mereka.
"Apakah aku transparan?"
"Begitu lah para gadis jika sudah bergosip," sahut ayahnya.
__ADS_1
"Dan kita harus menghentikan mereka sebelum keduanya benar-benar membahas semua aibku, Dad."