
Helli benar-benar merasa seperti nyamuk. Untuk kesekian kalinya ia diabaikan. Gavin dan Mona sibuk bernostalgia. Ingin menyela, ia merasa tidak sopan. Ingin menegur dan menyuarakan dia ada di sana, ia juga tidak siap mendapat tatapan protes dari Gavin. Pria itu berulang kali tertawa lepas saat Mona membeberkan kelakuan mereka saat masih kecil. Hal baik dari situasi yang tidak enak ini adalah Helli bisa melihat tawa Gavin yang luar biasa. Dari perbincangan keduanya, yang ia tangkap, Gavin dan Monalisa sudah berteman sejak berada di taman kanak-kanak. Wah, pertemanan yang sangat awet.
"Hm, ceritakan padaku bagaimana kau dan Gavin bertemu, Helli?"
Helli tersentak, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan dari Mona. "Oh, saat itu aku sedang dikejar oleh debt colector." ucapnya loyo. Sontak saja pengakuannya yang jujur itu membuat Gavin dan Mona mengernyit bingung. "Ah, maksudku kami tanpa sengaja bertemu di sebuah restoran saat ia mencampakkan kekasihnya dan setelah itu aku sudah menjadi tunangannya secara tiba-tiba."
Gavin memutar bola matanya, sementara Mona semakin dibuat bingung.
"Biasanya Gavin selalu bercerita apa pun kepadaku. Bahkan sekecil apa pun itu."
"Sekarang kau tidak akan direpotkan olehnya lagi, Mona. Dia sudah memiliki tunangan."
Helli tersenyum manis, tidak menyadari mimik terkejut dari wanita yang ada di belakang Gavin. Ya, saat ini mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah Mona.
"Jadi, kau dan Gavin sudah lama bersahabat?"
"Ya, hampir seumur hidupku. Kami sekolah di tempat yang sama bahkan hingga kuliah."
Wuah, pertemanan yang sangat luar biasa sekali. Kukira pertemanan antara seorang pria dan wanita itu tidak pernah ada. Selalu ada perasaan tersembunyi dari salah satu pihak. Dan di sini, Gavin lah pihak yang memendam rasa. Hm, atau Mona juga menyimpan rasa yang sama. Sepertinya keduanya terjebak dalam zona nyaman yang disebut pertemanan.
"Aku iri dengan pertemanan yang seperti itu," Ucapan Helli mendapat lirikan sekilas dari Gavin.
"Kau tidak memiliki teman?" tanya pria itu yang kembali fokus pada jalan yang ia lalui.
"Teman masa kecil? Ya, aku tidak memilikinya. Satu-satunya yang bisa kusebut teman adalah Nicky. Aku mengenalnya sejak umurku 16 tahun. Sejak aku terjun ke dunia model. Aku tidak bersekolah."
Gavin kembali menoleh kepadanya, kali ini lebih lama. Helli yang mendapat tatapan prihatin hanya bisa menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Apa kau keberatan jika memiliki seorang tunangan yang sedikit bodoh?"
"Aku penasaran sejak kapan kalian bertunangan? Kau dan Gavin tampak canggung satu sama lain?"
Ucapan Mona membuat Helli salah tingkah. Ia ternyata bukan pembohong yang baik. Wajahnya langsung panik dan gugup.
__ADS_1
"Cukup lama." Gavin lah yang menjawab. "Hanya saja kami jarang membicarakan hal yang sensitif yang sudah berlalu. Bukan begitu Ms. Sca... Helli?"
Helli menganggukkan kepala, "Ya, saat kami bertunangan, dia bahkan memberikanku cincin yang sangat bagus." Helli memamerkan tangannya. Wajah Mona berubah saat melihat bentuk cincin tersebut.
"Ah, cincin ini. Aku sangat menyukainya. Hanya ada dua diproduksi. Satu dimiliki oleh Mrs. Vasquez. Dulu aku sangat menginginkannya." Ada nada cemburu yang terselip di sana. Helli menyadarinya.
Helli memperhatikan cincin yang tersemat dijemarinya. Indah. Ya, harus ia akui. Tapi Helli yakin jika barang tiruan seperti ini banyak di pasar.
"Hmm..." Helli mengangkat kepalanya dan tertegun melihat Gavin yang memandangi Mona dari kaca. Helli menoleh ke objek yang sedang diperhatikan oleh Gavin, wajah gadis itu terlihat murung.
Setelah perbincangan tentang cincin itu, hanya ada keheningan di dalam mobil hingga akhirnya Gavin menghentikan mobil tersebut di depan sebuah mansion yang cukup mewah.
"Kita sudah sampai," Gavin turun, segera membuka pintu penumpang untuk Mona. Helli memilih di dalam mobil memperhatikan keduanya.
"Kupikir kau akan membawaku ke apartemenmu. Apa kau dan Helli tinggal serumah?"
"Kau perlu istirahat," Gavin mengusap wajah gadis itu dengan jemarinya, menolak untuk menjawab pertanyaan Mona.
Gavin menukik alis mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Sahabat yang memang sudah ia cintai sejak lama. Seperti dugaan Helli, Gavin terjebak dengan perasaannya sendiri. Ia takut kehilangan Mona jika ia mengutarakan perasaannya.
Jadi, sejauh ini yang ia lakukan adalah selalu mengikuti ke mana pun gadis itu bersekolah hingga akhirnya Mona bekerja di Australia selama satu tahun terakhir ini. Gavin berencana akan melamarnya tiga bulan yang lalu. Namun, rencana itu hanya tinggal rencana begitu Mona mengabarkan prihal rencana pernikahannya. Ia kalah start dan ia marah akan hal itu.
Misinya adalah merebut hati Mona sebelum pernikahan itu terjadi dengan membuat gadis itu cemburu agar menyadari perasaannya. Gavin terlalu percaya diri menganggap semua wanita tidak kuasa menolaknya. Ya, harga dirinya cukup terluka saat Monalisa mengabarkan bahwa ada pria lain di hatinya.
"Kenapa aku harus berubah?"
"Kau sudah memiliki tunangan."
"Apa kau juga akan berubah? Kau juga memiliki calon suami?"
"Tidak! Aku bahkan sudah memberikan syarat kepadanya bahwa tidak akan pernah membatasi pertemanan kita. Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu."
__ADS_1
"Harusnya kau menikah denganku kalau begitu," Gavin bergumam lirih.
"Maksudmu?"
"Tidak akan ada yang berubah, Mona. Semuanya masih sama. Aku akan selalu ada untukmu. Tidak akan ada yang bisa menggeser posisimu."
"Termasuk tunanganmu?"
"Termasuk siapa pun," ucapnya dengan tegas. Ya, di hatinya, Mona memiliki tempat yang sangat spesial. Baginya Mona adalah prioritas. Mona adalah impiannya.
"Aku lega mendengarnya," Mona menyentuh wajah Gavin, mengusapnya dengan lembut.
Gavin memejamkan mata, menikmati sentuhan wanita itu. Kenapa harus ada pria lain. Kenapa Mona tidak menikah dengan dirinya saja. Ah! Rasanya Gavin ingin mengirim calon suami sahabatnya itu ke segitiga bermuda. Tidak ada yang lebih mengenal Mona selain dirinya. Mona benci musim dingin, tapi ia lebih menyukai malam dibanding siang. Mona suka mengoleksi novel bergenre love story. Masih banyak hal lainnya yang sudah dihafal oleh pria itu.
Gavin menyentuh tangan Mona yang masih menempel di wajahnya. Mata keduanya masih saling bertaut. Selang beberapa menit, mereka pun tertawa.
"Masuklah, aku tidak ingin mendengar kau sakit. Kau pasti sudah sangat kelelahan."
Mona mengangguk dengan patuh, "Kau tidak ingin menyapa ayah ibuku?"
"Lain kali saja."
"Baiklah, aku akan berkunjung ke bengkelmu. Tapi sebelum itu aku akan menemui Uncle dan Aunty terlebih dahulu. Aku sangat merindukan mereka."
"Mereka juga sangat merindukanmu."
Mona mengikis jarak diantara mereka lalu mendaratkan satu kecupan di pipi Gavin sebelum gadis itu memasuk pagar rumahnya.
"Bye, Gavin."
Gavin hanya menganggukkan kepala. Setelah Mona tidak terlihat lagi, ia pun masuk ke dalam mobil, menemukan Helli yang sudah terlelap tidur dengan mulut sedikit menganga. Gavin menyeringai, geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Tidak ada manis-manisnya jika sedang tertidur," tukasnya sembari menjalankan mobil. "Astaga, dia juga mendengkur."