
BERCINTALAH SETELAH MENIKAH!!
SAY NO TO FREESEXSS
SAY NO TO DRUGS
ISTIQOMAH LAH MENJOMBLO PERKUAT SEPERTIGA MALAM (BAGI YANG BELUM MENIKAH)
BAGI YANG SUDAH MENIKAH, CINTAI USUSMU, CINTAI PASANGANMU🌽🥕
.
.
"Jangan, Gavin. Hentikan." Helli mendorong tubuh Gavin, memaksa tautan bibir mereka terlepas. Meski sebenarnya Helli juga tidak rela mengakhiri ciuman mereka. Ini terlalu indah, terlalu sempurna. Pria yang ia cintai mengaku cinta kepadanya. Entah itu dusta atau nyata, Helli menemukan dirinya bahagia, terbuai dan melayang. Apa pun pernyataan Gavin saat ini, Helli ingin melihat sejauh apa pria itu bertindak.
"Kenapa?" Gavin mencakup kedua pipinya lalu menempelkan kening mereka satu sama lain.
"Kau bisa tertular." cicitnya dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani melihat mata pria itu.
"Hei," Gavin mengangkat wajah Helli agar mata mereka saling menatap satu sama lain. "Aku tidak peduli. Tapi, Sayang, ciuman seperti ini tidak akan menimbulkan resiko tertular," diusapnya kepala Helli dengan lembut.
"Jika kau ingin tahu apa yang bisa menyebabkannya tertular..." Gavin menjeda ucapannya. Kembali keheningan menghampiri. "Kita harus bercinta."
Helli tersentak, benar-benar terkejut. Pernyataan cinta Gavin yang tiba-tiba sudah cukup mengejutkan baginya. Tapi pengorbanan gila ini membuatnya berpikir apa pria yang di hadapannya ini masih waras atau tidak. Adakah orang yang lebih bodoh dari pria ini? Dengan sengaja membuat dirinya tertular HIV?
"Ber-bercinta?"
"Salah satu penularan AIDS, adalah dengan bercinta. Aku tidak keberatan sama sekali. Aku akan menanggung semua rasa sakitmu, Helli." Dibelainya pipi wanitanya itu dengan lembut. "Buruk, baikmu, akan kunikmati semuanya." tangannya turun ke bahu, bergerak maju hendak melepaskan apa yang bisa dilepaskan. Dinding pembatas yang menghalangi penyatuan mereka.
Helli menahan tangan Gavin, menghentikan aksi pria itu. "Kau tidak harus melakukan sejauh ini. Apakah kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"
"Apakah aku terlihat seperti orang mabuk. Hari ini adalah hari paling waras menurutku. Aku baru menyadari jika aku jatuh cinta padamu."
__ADS_1
"Cinta tidak harus membuatmu bodoh. Jika aku menderita AIDS, apakah kau tahu artinya apa? Aku sering bergonta ganti pasangan!"
"Itu masa lalumu! Aku tidak peduli!" tidak ada bualan di sana. Gavin benar-benar serius dengan ucapannya. Gavin melepaskan kemejanya, melemparnya begitu saja.
Glek!
Wajah Helli bersemu merah. Ia masih mengingat bagaimana rasanya memanjakan jemari di guratan otot yang luar biasa itu.
"Ini bukti keliaranku! Apa kau tidak malu?"
"Helli, apakah kau belum mengerti yang kukatakan? Aku mencintaimu! Kenapa aku harus malu? Apakah cinta hanya untuk orang suci? Aku pun bukan pria suci. Apakah cinta tidak layak untuk orang yang sakit dan cacat? Lalu apa alasan mereka untuk tetap bertahan? Siapa pun berhak mendapatkan cinta, Helli. Setiap orang memiliki hak kepada siapa ia hendak melabuhkan hatinya. Tidak ada yang bisa menghakimimu atau pun aku. Jika kelak, ada yang mencela hubungan kita, aku orang pertama yang akan melindungimu." Jemari Gavin kembali menyentuh bahunya. Bergerak melakukan apa yang tertunda tadi.
"Ini bukan tentang pembuktian cintaku. Ini tentang ketulusanku mencintaimu dan menerimamu apa adanya. Kau harus sembuh karena aku bisa gila jika kau sakit. Mari berjuang bersama, menunjukkan pada dunia bahwa cinta yang hebat adalah ketika semua yang ada pada pasanganmu terlihat indah. Termasuk masa lalunya yang kelam, keburukannya atau pun kesehatannya yang terganggu. Mari menikah sebelum menjalani pengobatan. Berjanjilah kau tidak akan pernah melepaskan tanganku. Teruslah bersandar kepadaku karena aku akan mendekapmu selama hidupku." Pakaian Helli teronggok dilantai. Gavin memandangnya penuh takjub.
"Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Vasquez?"
"Mom, Dad. Panggil mereka seperti itu. Ini pilihanku. Mom dan Dad tidak akan pernah mengusik atau mencampurinya. Jika ayah dan ibuku saja tidak bisa melarangku, apa menurutmu aku peduli dengan pandangan dunia? Katakan kau bersedia menikah denganku?" Gavin membaringkan tubuh Helli di atas ranjang. "Katakan, ya, Helli."
"Aku mencintaimu, Gavin. Mencintaimu hingga hampir membuatku gila."
Gavin tersenyum mengangguk, "Ingin menikah denganku?"
"Ya!" Helli sesegukan.
"Bagus, kita akan membicarakan seperti apa pernikahan yang kau inginkan nanti."
Helli menganggukkan kepala, ia menangis. sambil tersenyum.
"Kau kalah. Aku tidak menjalin hubungan dengan Mona. Bisakah kuambil hadiahku?"
"Walau aku menderita penyakit mengerikan yang bisa menular kepadamu. Kau tidak akan menyesal?"
"Hiduplah dengan umur yang panjang dan saksikan apakah aku akan menyesal." Gavin mengangkat tangan Helli ke atas, ia mulai menunduk, memberi kecupan di dahi, pelipis, mata, hidung, pipi dan bibir wanita itu hingga akhirnya ia menurunkan bibirnya ke leher Helli. Gavin berhenti sejenak. Tubuh pria itu mendadak tegang.
__ADS_1
Helli pun ikut dibuat panik. Apakah kegilaan pria itu sudah berakhir, itulah yang ada di pikiran Helli saat Gavin berhenti di tengah-tengah permainan.
"A-apakah kau ingin mundur? Ti-tidak masalah sebelum semuanya terlambat." Helli menahan agar ia tidak menangis karena malu dan kecewa. Mungkin beberapa saat lalu ada jin ifrit yang merasuki pria itu hingga bertindak konyol dan gila.
Gavin mengangkat kepalanya, menatap manik Helli dengan teduh. Pun ia menerbitkan senyum indah sebelum mulai memanjakan Helli. Tidak ada yang luput dari jangkauannya. Gavin memberikan keindahan, kenikmatan kepada Helli dengan sangat penuh hati-hati. Lembut, lambat, intim, dan bermakna. Gavin seolah ingin menelan semua rasa yang ada di setiap pori-pori wanita itu. Tidak ada kekasaran, tidak ada sentuhan yang tergesa-gesa sehingga Helli bisa merasakan bahwa ia benar-benar sedang berada di puncak kebahagian. Gavin menggenggam jemari Helli, kini mereka menyatu. Tidak ada pembatas.
"Aku mencintaimu," Ucap pria itu dengan suara serak yang memabukkan. Ledakan kebahagiaan akhirnya mereka dapatkan secara bersama-sama. Gavin terkulai di tubuh Helli, lalu dalam gerakan cepat, ia merubah posisi mereka, mengangkat tubuh Helli ke atas tubuhnya. "Pembohong," ucap pria itu seraya memeluk wanitanya dengan erat.
"Pe-pembohong?" Helli terlihat bingung. Ini bukan kata-kata romantis yang ia inginkan setelah percintaan hebat mereka.
"Kau boleh mengelabuiku saat sedang mabuk. Tapi tubuhku akan tetap mengenal aroma dan rasa tubuhmu, Helli. Malam itu kita bercinta. Aku pria pertama bagimu."
Helli tercengang. Oh Tuhan, ia bisa jingkrak-jingkrak karena limpahan kebahagiaan yang luar biasa ini. Bolehkah ia bersalto?
Gavin tersenyum getir, Helli kembali dibuat bingung. Wajah Gavin terlihat sedih dan kecewa.
"Maafkan aku." Pinta pria itu dengan tatapan memohon.
"Maaf?"
"Aku pernah berada pada barisan orang-orang bodoh yang memandangmu sebelah mata. Kau wanita yang sangat suci. Ah, Helli, betapa beruntungnya diriku mendapatkanmu." Gavin memeluk tubuh wanitanya itu dengan erat.
"Aku mencintaimu, Gavin."
"Ya, ya, ya, cintai aku, Helli. Aku mohon."
Helli mengangguk, ia membenamkan wajahnya di dadaa kekasihnya itu. Ah, ia memiliki kekasih.
"Apakah itu hasil test ibumu?"
Helli mengangguk, "Apakah ibuku bisa sembuh?"
"Aku akan mencari dokter terbaik." Ya, Gavin tidak membaca nama yang tertera di hasil laporan tersebut karena terlalu panik. Lonela Lepisto. Nama yang tertera di sana.
__ADS_1