
"Jadi apa artinya, Mr. Vasquez," Helli mengarahkan tubuhnya kembali menghadap ayah tunangan palsunya.
"Malaikat, peri dan semacamnya. Putriku yang memberi sebutan itu. Terima kasih untuk bantuanmu beberapa tahun lalu."
Glend mengusap kepala Helli dengan lembut. Helli yang sensitif seketika terdiam menahan tangis. Ia tidak menyangka akan mendapat sentuhan hangat seperti ini dari idolanya. Helli juga tidak menyangka jika Grace masih mengingatnya. Tapi bagaimana bisa Glend juga mengetahui hal itu?
"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada putriku jika kau tidak ada di tempat pada waktu itu." Glend kembali mengusap kepala Helli.
"Seperti yang kubayangkan," ucap Helli dengan suara tercekat membuat ayah dan anak itu kompak mengernyit bingung. "Hangat dan nyaman. Te-terima kasih," sebulir air mata haru membasahi pipi cantiknya. Glend tersenyum dan mengangguk. Apa yang dikatakan istrinya benar. Bella seolah melihat Stacy dalam diri Helli. Sosok anak kecil yang merindukan kasih sayang seorang ayah.
"Bo-bolehkah aku menggenggam tanganmu?" Pinta Helli dengan ragu. Dia sudah siap dengan segala penolakan.
"Kenapa? Kau kedinginan? Sini, biar kugenggam." Gavin menarik tangan Helli dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Aku tidak meminta padamu!" Helli melayangkan protes dan meronta agar Gavin melepaskan genggaman mereka. Namun, semakin ia berusaha, semakin genggaman mereka semakin kuat.
"Pertandingannya sudah dimulai. Diamlah." Mau tidak mau, Helli pun akhirnya diam, ia mulai mengarahkan tatapannya ke lapangan. Meski tidak mengerti cara mainnya, ia mencoba tetap fokus.
"Grace tidak fokus. Mereka ketinggalan banyak skor," Helli tidak sadar jika Glend mengatakan hal itu kepada Gavin.
"Ya, bisa-bisa dia kalah. Apa yang membuat fokusnya terbagi?" Gavin mengedarkan pandangannya, mencoba mengikuti lirikan mata adiknya yang mencuri-curi pandang ke arah penonton.
"Ck! Pria yang ia sukai ada di sini bersama wanita lain," Gavin menyeletuk kesal. Kekalahan Grace bukanlah hal yang ia inginkan saat ini untuk menambah daftar kekesalannya hari ini.
"Lalu untuk apa aku di sini?" Sahut Gavin dengan ketus.
"Mukamu kecut sekali. Aku hanya bertanya." Helli mencibik kesal. "Sejak keluar dari resto kau seperti wanita yang sedang datang bulan. Salah sedikit langsung mengaum."
__ADS_1
Gavin menarik napas panjang, benar apa yang dikatakan Helli. Ia sadar betul dengan sikap kekanakannya.
"Maafkan aku. Aku mengenal ayahnya, tentu aku juga mengenal putrinya. Hais, tidak seru jika dia kalah. Aku terbawa arus permainan."
"Maaf diterima. Ya, tidak seru memang jika dia kalah."
Helli tiba-tiba berdiri, "GRACE O'NEILA VASQUEZ, KAU HARUS MENANG DAN MEMBAWA PIALA UNTUK AYAHMU. DIA SANGAT BANGGA KEPADAMU DAN AKU MENDUKUNGMU. ABAIKAN PRIA BRENGSEK YANG TIDAK MELIRIK KE ARAHMU. SAMA SEPERTIMU, PRIA YANG KUSUKAI JUGA TIDAK MELIRIK KE ARAHKU. TAPI AKU PERCAYA, AKAN ADA PRIA BAIK YANG AKAN DATANG PADA KITA KARENA KITA CANTIK, BAIK, MENCINTAI UANG TAPI ANTI DISOGOK!GRACE. GO... GO.... GO... GRACE. FOKUS!!!"
Glend berjengit kaget sampai terbatuk-batuk. Gavin juga tidak kalah terkejutnya. Ia sampai berdiri dan membujuk Helli turun dari atas bangku dan memohon maaf pada penonton lain yang juga terkejut dengan kehebohan Helli yang tiba-tiba.
Sementara Grace, ia juga terkejut tapi bahagia tentunya. Suara Helli benar-benar menguasai stadion. Ia penasaran apakah pita suara gadis itu masih baik-baik saja. Grace memberikan dua jempolnya kepada Helli. Ia harus mengesampingkan hatinya terlebih dahulu.
Oke, Grace, fokus!
__ADS_1
Benar saja, Grace dan timnya mampu mengejar poin lawannya dan akhirnya kemenangan milik mereka. Grace melayangkan satu pukulan kemenangan yang sialnya meleset ke arah tribune. Seorang pria yang baru saja berdiri mendapat serangan bola kemenangan dari Grace dan pria itu pingsan seketika.