
Helli memandangi jarinya, masih sulit baginya untuk percaya bahwa sebuah cincin memang tersemat disana. Cincin itu terlihat mewah, indah dan elegan, tapi ia tahu disaat sesuatu itu terlihat sempurna, disitulah ada sebuah kepalsuan, kebohongan. Pun Helli tidak berharap bahwa cincin yang disematkan di jarinya adalah cincin mahal atau pun asli. Profil Gavin memang terlihat berkelas, tapi tetap saja Helli mempercayai apa yang ia lihat. Seorang montir tidak akan membuang-buang uang secara percuma hanya untuk seorang tunangan pura-pura, kecuali Gavin memang sudah jatuh cinta padanya sejak awal. Hah? Helli terkejut dengan pemikirannya tersebut. Pemikiran yang sangat mengerikan.
"Apa kau jatuh cinta padaku? Kau salah satu fansku?"
Astaga, tanpa bisa ia hentikan, pertanyaan itu tercetus begitu saja.
Gavin menukik sebelah alis, percayalah, tindakannya itu justru mempertegas kemaskulinannya. Gavin tipe pria miskin yang tahu bagaimana menonjolkan daya tarik hingga membuat lawan jenisnya terkesan dan enggan untuk memalingkan wajah dari sosoknya.
"Jatuh cinta? Aku tidak ingin membuatmu tersinggung, jadi aku menolak untuk menjawab."
__ADS_1
Helli mencibik. Bukankah pernyataan pria itu sudah merupakan suatu jawaban yang menyakitkan. Tidak ingin membuat tersinggung, hei... itu artinya di mata Gavin, ia kurang menarik minat pria itu. Lah, memangnya apa yang Helli harapkan?
"Kau,-"
"Tapi aku tidak akan menyangkal jika kau merupakan salah satu model yang kuidolakan." Gavin menyela ucapan Helli dengan segera. "Kurasa matamu tidak minus saat melihat deretan foto model di tembok-tembok bengkelku, kau ada diantara mereka, bukan?"
"Jadi maksudmu, aku salah satu dari mereka. Kau mengidolakan semuanya?" Jika Helli tidak salah menghitung, ada kurang lebih 20 wajah. Astaga, apa pria ini pecinta wanita-wanita seksih?
Helli menarik napas panjang. Dari awal, ia tahu jika Gavin bukan orang yang mudah diatasi. Gavin mungkin pria mesum yang brengsek, tapi Helli meyakini bahwa hanya bermodalkan cantik tidak akan bisa membujuk pria itu. Helli hanya akan mempersulit dirinya jika berurusan dengan pria seperti Gavin. Tunangan totalitas? Helli menggarisbawahi kata totalitas. Satu kata yang ia yakini memiliki arti tersembunyi bagi seorang Gavin.
__ADS_1
Tidak. Daripada harus mengorbankan harga diri di hadapan pria buntung itu, lebih baik Helli menciptakan kebohongan lain dengan mengatakan bahwa ia dan pria itu sudah mengakhiri semuanya. Ya, Helli tidak ingin terikat dengan pria di hadapannya ini. Terlalu beresiko.
Helli melepaskan cincin dari jemarinya. Bagaimana bisa pria itu tahu ukurannya? Ck! Keahlian dan jam terbang Gavin dengan wanita sepertinya tidak perlu diragukan lagi.
Gavin mengerutkan kening, memperhatikan Helli melepaskan cincin dari jarinya. Keningnya semakin berkerut dalam begitu Helli menyerahkan cincin tersebut kepadanya dengan cara meletakkannya di atas meja.
"Aku tahu ini hanya imitasi, tiruan, atau apalah namanya. Tapi aku mengembalikannya bukan karena ini barang tiruan. Aku menolak untuk menjadi tunangan totalitas. Totalitas yang kau maksud pasti tidak jauh hubungannya dengan ranjang, bukan? Kau ingin aku menjadi penghangat di ranjangmu."
Helli mengatakannya dengan intonasi yang terdengar tenang, tapi Gavin bisa melihat jika pergerakan pupil wanita itu melebar. Gavin tahu jika Helli mulai marah. Sepertinya ia telah membuat wanita itu tersinggung tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Aku menolak." Helli mengangkat dagunya, menantang pria itu.
Gavin menganggukkan kepala, memasukkan cincin kembali ke dalam sakunya. "Kalau begitu aku menunggu kau menyelesaikan kekacauan ini. Aku tidak ingin para wanita yang ingin mendekatiku merasa insecure hanya karena mengira kau adalah tunanganku. Kau tahu di mana pintu keluarkan?" Gavin mempersilakan Helli keluar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Helli balik badan, pergi meninggalkan pria itu.