
"Oh, mi amor," Gavin berjalan sempoyongan menghampiri Helli. Pria itu hampir terhuyung jika Addrian tidak sigap menangkapnya.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa mabuk?"
"Perusahaannya menang tender. Kami merayakannya dengan sedikit alkohol."
"Sedikit?" Helli tidak percaya dengan apa yang dikatakan Addrian. Bau menyengat langsung tercium begitu mereka melintasi ruangan.
"Tunjukkan kamarnya." Addrian mengabaikan tatapan menyelidik dari Helli. Melihat Addrian yang kewalahan menopang tubuh Gavin, Helli segera menunjukkan jalan menuju kamar milik mantan tunangan palsunya itu.
"Aku juga sedikit mabuk. Sebaiknya aku pulang." Pamit Addrian seraya menepuk bahu Helli. Gavin sudah berhasil dieksekusi dengan selamat. Kini pria itu terbaring di atas ranjang.
Helli mengangguk dan mengantar pria itu hingga ke pintu utama. Setelah mobil Addrian tidak terlihat lagi, Helli berlari ke dapur untuk mengambil air lalu berlari menuju kamar Gavin.
Helli menghentikan langkahnya saat melihat Gavin melepaskan jas dan kemejanya dengan gerakan malas. Kini Helli bisa melihat punggung lebar nan kekar milik pria itu.
Jantung Helli berdetak tidak karuan dan saat Gavin menyadari kehadirannya, pria itu berbalik, memamerkan perrut penuh otot yang sangat aduhai.
"Helli..." suara serak Gavin membuat Helli berhenti bernapas.
__ADS_1
"Helli? Kaukah itu?" Gavin memicingkan matanya. Pria itu mabuk berat hingga tidak bisa membedakan ilusi atau nyata.
"Ya, aku di sini." Helli meletakkan air minum di atas nakas. "Ini minum dulu."
Gavin menerima gelas tersebut dan meneguknya dalam tiga kali tegukan. Helli memperhatikan jakun pria itu naik turun dan saat Gavin menyerahkan gelas kosong, Helli mengambilnya dan meletakkannya di atas nakas.
"Selamat malam," Helli berbalik, tapi baru dua langkah, tangan Gavin menarik lengannya dengan kuat hingga mereka terjatuh ke atas ranjang. Kini Helli berada di bawah perangkap tubuh Gavin.
Glek!
Manik mereka beradu untuk waktu yang cukup lama. Kemudian Gavin menurunkan tatapannya pada leher jenjang Helli yang tampak anggun, membelai tulang pipi wanita itu menghantarkan gelanyar aneh di tubuh Helli.
Saat Gavin memiringkan kepala, Helli hendak memberontak, mendorong agar Gavin menjauh. Tapi hati dan tubuhnya menginginkan hal yang lain.
"Gavin...." ucapan Helli terhenti seketika saat benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya. Gavin memberikan kecupan basah sebelum memperdalam ciumannya. Dalam sekejap, Gavin berhasil lolos masuk ke dalam mulut Helli. Menjelajah di sana. Helli bisa merasakan sejentik rasa alkohol yang tertinggal. Pahit, manis yang samar.
"Mi amor," Gavin mengerang seksih saat tidak mendapatkan balasan dari Helli. Helli masih terlalu terkejut. "Helli..."
Ah, pertahanan Helli runtuh, bolehkah ia memilik Gavin malam ini saja. Untuk malam ini saja, biarkan ia serakah dan egois.
__ADS_1
Gavin menurunkan bibirnya ke leher Helli. Alih-alih mendorong Gavin dan menjambak rambut pria itu, Helli justru mengoyak lembut helaian rambut Gavin. Memainkan jemarinya di sana. Gavin semakin agresif dan Helli seakan ikut mabuk bersama pria itu. Sensasi yang sangat luar biasa. Sangat tidak mudah untuk menampiknya. Ini terlalu nikmat. Helli kehilangan akal sehat meski logikanya meneriakkan nama Mona.
"Gavin..." Helli berusaha menolak saat membayangkan wajah Mona yang terluka. Hati nuraninya masih menyisakan sedikit akal sehat. Helli berpegang teguh pada sisa sisa kewarasannya.
"Gavin..." Helli berusaha menolak saat membayangkan wajah Mona yang terluka. Hati nuraninya masih menyisakan sedikit akal sehat. Helli berpegang teguh pada sisa sisa kewarasannya.
"Helli..." tangan Gavin sudah berada di atas dadaanya. Berusaha melepaskan satu persatu kancing piyama yang ia kenakan.
Maafkan aku, bolehkan aku egois untuk malam ini saja. Aku akan mengambil hadiahku. Aku ingin Gavin menjadi milikku hanya untuk malam ini saja.
Dan akhirnya Helli kalah. Ia memejamkan mata, menikmati sentuhan yang diberikan Gavin. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Gavin tidak sempat melepaskan cela-nanya saat pria itu menyatukan tubuh mereka. Manik Helli membeliak menahan sakit yang luar biasa. Kristal bening keluar dari kedua sudut matanya. Ia menggigit bibirnya agar suaranya tidak keluar.
Tubuhnya seakan terbelah saat Gavin menembus selaput daranya. Ya, Gavin merebut kesuciannya. Helli tidak ingat seberapa lama rasa sakit dan nyeri itu bertahan. Yang ia tahu, tubuhnya tiba-tiba melayang merasakan kenikmatan yang tidak bisa ia ungkapkan.
Untuk malam ini, biarkan Gavin menjadi milikku. Helli pun mulai mengimbangi permainan Gavin hingga akhirnya mereka berdua sampai kepada titik permainan. Keduanya mendapatkan pelepasan yang sempurna. Tubuhnya terguncang dan Helli pun memeluk Gavin seerat yang ia mampu saat tubuh pria itu terkulai lemas di atas tubuhnya.
Helli terdiam untuk sesaat. Membiarkan tubuhnya menikmati sensasi memabukkan itu. Menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu kesalahan, Helli secara perlahan mendorong tubuh Gavin. Ia harus membersihkan jejak percintaan mereka.
Di tengah rasa nyeri di bagian intinya, Helli membetulkan posisi Gavin, mengancing kembali cela-na pria itu. Jejak darah yang menempel di seprei segera Helli bersihkan. Untung saja, seprei yang digunakan berwarna merah sehingga noda itu tersamarkan. Helli segera mengenakan pakaiannya setelah memastikan semuanya bersih tanpa jejak.
__ADS_1
Sebelum Helli meninggalkan kamar, ia menarik selimut menutupi tubuh Gavin. "Terima kasih, Montir. Aku sudah mengambil hadiahku. Aku mencintaimu, Mr. Pelayan." Cup! Helli mendaratkan satu kecupan di kening pria itu.