
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Helli sibuk menenangkan hatinya yang berperang dengan pikirannya. Hatinya meletup-letup dengan sikap Gavin yang memang terlihat seperti pria yang melindungi kekasih pujaannya dan pikirannya tertuju pada Calvin yang tidak akan menerima perlakuan kasar Gavin.
Jika Helli sibuk memikirkan hal demikian, Gavin justru sedang merutuki dirinya. Apa ini Gavin? Apa yang sedang kau lakukan? Aksi heroik yang berlebihan! Pertanyaan-pertanyaan ini menyerangnya dan berhasil membuatnya sedikit marah.
"Kita mau kemana?" Akhirnya Helli membuka suara. Ia tidak menemukan ponselnya. Ya, tentu saja. Barang-barangnya tinggal di lokasi. Ia yakin jika Addrian dan Nicky sudah menghubunginya untuk meminta penjelasan kenapa dia kabur di tengah syuting yang sedang berjalan.
"Pulang," singkat, padat, dan jelas dengan pandangan lurus ke depan, tidak melirik sedikit pun ke arahnya.
"Aku masih ada syuting hingga malam nanti. Addrian pasti akan marah dan mungkin sudah menghubungiku berulang kali."
Gavin hanya diam, tidak menyahut ucapan Helli. Mau Addrian marah atau Calvin murka, dia tidak peduli sama sekali. Mimik ketakutan yang ia lihat di wajah Helli masih saja terus mengusiknya.
"Gavin!!"
__ADS_1
Gavin mendesaah malas, pun ia mengambil ponsel dan menghubungi Addrian.
"Helli kubawa pulang. Hentikan syutingnya. Dia butuh istirahat." Tut! Pria itu memutuskan sambungan telepon setelah mengatakan apa yang hendak ia katakan tanpa menunggu jawaban dari Addrian.
Helli mengerjap, tidak percaya dengan apa yang dilakukan Gavin seorang montir gelandangan kumuh memberi perintah kepada seorang produser film, heh?
"A-apa yang kau lakukan?" Helli terang saja merasa gugup. Ia membayangkan reaksi kemarahan Addrian esok hari jika mereka bertemu.
Helli tidak akan kaget jika Addrian memulai kemarahannya dengan melontarkan pertanyaan sinis tersebut. Dia juga tidak akan kaget jika seandainya mendapat surat pemecatan.
"Meminta izin."
"Itu tidak terdengar seperti sedang meminta izin. Setelah menghajar Calvin, bertingkah layaknya heroin, kini bersikap seolah kau adalah pemilik rumah produksi yang bisa memberikan perintah seenaknya saja. Addrian pasti akan meragukan kinerjaku."
__ADS_1
"Kau terdengar seperti ingin kembali ke set. Apa kau sangat senang saat si tua bangka itu menciummu?"
Helli menoleh cepat, tatapannya menghunus dan penuh kemarahan. Apa sebenarnya yang dipikirkan Gavin tentang dirinya? Wanita yang mudah disentuh oleh sembarang pria?
"Ini tidak ada hubungannya dengan ciuman. Ini pekerjaanku! Aku tidak bisa bersikap seenaknya. Dan kenapa kau menjadi uring-uringan hanya karena sebuah ciuman yang tidak berarti?"
Gavin bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Pernyataannya memang sedikit keterlaluan, tapi ia enggan mengakuinya terlebih untuk meminta maaf. Ayolah, ia sedang marah.
Kembali keheningan menyerang. Helli memalingkan wajah, menatap ke luar. Memang sebaiknya mereka tidak berbicara untuk sementara waktu sebelum Gavin benar-benar melontarkan kalimat-kalimat yang menuding yang terkesan merendahkannya. Dulu, Helli tidak akan peduli. Tapi sekarang ia peduli. Sangat peduli dengan penilaian pria itu tentang dirinya. Hatinya bahkan sakit jika Gavin memandangnya dengan sebelah mata. Huft! Jatuh cinta memang semerepotkan ini.
Mobil berhenti, Helli melompat turun bahkan sebelum Gavin mematikan mesin mobil. Dengan langkah lebar ia memasuki rumah, mengabaikan Gavin yang sedang memanggilnya.
Ia sedang mogok bicara dengan tunangan palsunya yang posesif dan menjengkelkan itu. Setidaknya sampai besok, batas maksimal yang ia yakini bisa ia lewati. Ck! bahaya, hatinya terlalu lemah jika berurusan dengan Gavin.
__ADS_1