
"Oh, sial. Kenapa dia ada di sini," dengan sigap, Helli memutar tubuhnya, berjalan ke arah pintu yang ia lalui saat masuk tadi.
"Siapa? Kenapa kita berbalik? Kita harus masuk, Helli. Kau sudah membuat kekacauan di luar. Untuk sementara hindari wartawan, dan di dalam ruangan adalah posisi aman untukmu. Wartawan tidak diperkenankan masuk." Nicky menahan tangan Helli. Wanita itu yakin jika besok akan ada berita yang memuat tentang tatapan memuja Helli yang dilayangkan kepada Glend secara terang-terangan. Nicky, sebagai sahabat Helli juga sangat heran dengan selera wanita itu. Kenapa harus pria tua?
"Alarm tanda bahaya sudah berbunyi. Kita harus menghindar, Nicky!"
"Apa maksudnya, bicaralah yang jelas."
"Si cabul gelandangan."
"Heh?"
"Astaga! Kenapa cara kerja otakmu lamban sekali!" Helli menggeram kesal. "Pria kumuh yang menistakan bibirku, kau ingat? Dia ada di sin." Helli menoleh ke belakang, "Oh, astaga, dia bahkan menuju kemari. Selamatkan aku, Nicky. Ini petaka!" Helli segera menutupi wajah dan menarik Nicky agar segera pergi dari sana. Bertemu dengan Gavin adalah pertanda buruk!
"Belum tentu dia akan menghampirimu, Helli. Sepertinya, dia sedang bekerja. Ouh, Helli, pria tampan itu ternyata seorang pelayan." Helli kembali menolehkan kepala. Melihat Gavin sedang berbincang dengan para tamu yang kebetulan mengambil minuman yang pria itu bawa. Helli baru menyadari jika Gavin membawa sebuah nampan bersamanya.
__ADS_1
"Tapi jika diperhatikan, pria yang kau sebut gelandangan itu cukup tampan, Helli."
Dalam hati Helli membenarkan ucapan sahabatnya itu. Mulai dari bentuk wajah, postur tubuh, hingga potongan rambut Gavin, benar-benar tidak cocok sebagai gelandangan. Pria itu memiliki kekuatan yang begitu mewah dan mengagumkan.
"Itu hanya trik, kamuflase belaka!" Helli meyakinkan dirinya. Beberapa orang memang tercipta dengan visual mewah, bukan?
Gavin yang merasa sedang diperhatikan, memiringkan kepala dan matanya langsung bersirobok dengan sepasang manik grey yang pemiliknya segera memalingkan wajah. Gavin menukik alisnya, pun ia undur diri dari para tamu undangan.
"Ayo, kita harus pergi, Nicky! Oh Tuhan, lindungi aku dari nasib buruk yang mungkin sedang mengintaiku."
Helli mengabaikan panggilan pria itu. Helli menarik tangan Nicky agar cepat-cepat berlalu dari sana.
"Hei, Ms. Scandal?"
What? Pria itu itu memanggilku apa? Keterlaluan!
__ADS_1
"Siapa yang dia panggil?" Nicky bertanya seraya menyesuaikan langkah Helli yang dua kali lebih lebar dari biasanya seakan Gavin adalah salah satu penagih hutang yang sedang mengincarnya.
"Menurutmu, di tempat ini, apakah ada tamu yang terlibat skandal, Nicky?"
"Kurasa tidak. Semuanya adalah tamu terhormat."
"Artinya aku lah yang dipanggil si gelandangan itu. Ms. Scandal, heh? Teruslah melangkah, jangan menoleh ke belakang, Nicky. Abaikan si kumuh itu."
"Aku curiga dia mengikuti gosip tentang dirimu. Ms. Scandal, astaga, aku ingin tertawa mendengarnya."
"Tertawalah, tidak ada larangan." Helli memutar bola matanya dengan jengah.
"Pura-pura tidak melihatku, Ms. Scandal?" Gavin sudah berdiri di hadapan mereka dengan seringai memuakkan menurut Helli. Ia menggigit bibir dalamnya agar tidak melontarkan kalimat apa pun untuk meladeni pria itu.
"Permisi, kau menyebutku apa?" Helli berusaha setenang mungkin meski dalam hati, ia memaki dan mengumpat. Setelah flamingo, kini pria itu seenaknya menyebut dirinya dengan nona skandal? Hah? Helli berhasil menguasai dirinya, berlagak tidak kenal meski bibir mereka sudah pernah saling menyatu. Tapi, di hari itu juga, Helli memutuskan bahwa pria di hadapannya itu adalah petaka.
__ADS_1
"Sampanye?" alih-alih menanggapi pertanyaan Helli, Gavin justru menawarkan minuman.