
Helli membuka pintu saat mendengar bunyi bel rumah. Setelah sarapan, Gavin pergi bekerja. Pria itu berjanji akan menjemputnya jam 11. Helli melihat jarum jam masih menunjuk ke angka 10. Lalu siapa yang datang? Lordeskah?
Helli mengernyit ketika melihat seorang pria dengan pakaian rapi berdiri di hadapannya. Helli melirik ke arah mobil yang parkir di depan rumah. Mobil yang biasa dibawa oleh Gavin.
"Tuan.. Hm, Gavin memberikan ini. Dia mengatakan agar kau mengenakannya saat makan siang."
Helli menerima paper bag yang diserahkan kepadanya. "Terima kasih."
Pria itu mengangguk lalu berpamitan pulang.
Helli membawa paper bag tersebut ke dalam kamar, dengan segara ia mengeluarkan isinya. Sebuah gaun putih bertali spaghetti. Helli kembali dibuat tercengang. Gaun indah itu merupakan salah satu dari brand ternama yang diproduksi secara terbatas.
"Sebaiknya aku mandi kalau begitu. Saatnya membantu tunanganku untuk mendapatkan kekasih pujaannya. Astaga, pernyataan macam apa ini."
Satu jam kemudian, Gavin datang menjemputnya. "Helli, kau sudah selesai?"
"Ya, aku sedang berdandan. Kau bersiap lah."
"Baiklah, aku hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Kita bertemu di bawah."
"Ya."
__ADS_1
Selesai berdandan, Helli segera turun ke bawah. Gavin yang juga sudah berada di bawah dibuat terpana. Helli menggerai rambut panjangnya. Gadis itu terlihat sangat memukau. Gavin sampai lupa bagaimana caranya untuk menghirup udara. Matanya enggan untuk berkedip.
"Berapa kali cicilan?"
Kata cicilan muncul kembali. Gavin mengernyit. Cicilan apa?
"Bajunya sangat indah. Seleramu tidak diragukan lagi. Tapi menurutku ini berlebihan. Kau tidak seharusnya melakukannya, kau hanya membuang-buang uang demi untuk sepotong gaun. Kukira ini tiruannya. Setelah kucek keasliannya. Ini benar-benar original. Aku akan mengganti uangmu. Kau tidak perlu menambah beban bulanan hanya untuk sepotong gaun yang harus kau cicil selama hitungan tahun."
Helli mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya. Sebuah kartu yang tempo hari saldonya sudah tidak ada.
"Ini, ambillah. Kau harus menjaga wibawamu di hadapan Mona dan Rusel. Pilihlah restoran mewah. Tenang saja, ini sudah ada uangnya. Addrian memberikan uang muka."
Dulu, ia tidak akan keberatan jika teman kencannya menganggapnya pria melarat. Tapi saat Helli melakukannya, ia tidak menyukainya.
"Aku tidak tahu dan tidak ingin menebak." Helli menghapus ruang diantara mereka. Ia menyelipkan kartu tersebut ke dalam kantong pria itu lalu merapikan dasi pria itu. "Kau terlihat menawan sekali."
Gavin tersenyum, "Menawan adalah nama tengahku, Helli." Gavin mengulurkan tangan, menyampirkan anak rambut ke belakang telinga Helli. "Kau juga cantik sekali," pujinya dengan tatapan memuja yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ya, aku tahu." ucap Helli dengan percaya dirinya. "Kita akan menjadi pasangan palsu yang terlihat sangat serasi. Kau menawan dan aku sangat cantik."
Gavin tergelak, tapi ia mengangguk setuju dengan pernyataan Helli. "Kelak, jika semuanya sudah berakhir, tetaplah menjadi temanku."
__ADS_1
Teman? Helli hanya bisa tersenyum kecut. Dulu, ia sangat mengharapkan bahwa ia memang benar-benar memiliki banyak teman. Tapi tawaran pertemanan dari Gavin bukanlah hal yang ia inginkan saat ini.
Helli menggeleng, "Sepertinya kita tidak bisa menjadi teman."
Gavin menukik alisnya. Heran dengan penolakan Helli.
"Kau pria yang cenderung jatuh cinta pada wanita yang kau sebut teman atau sahabat. Ck!" Helli menggeleng, "Aku tidak tega menolakmu kelak. Untuk itu, hubungan kita hanya sebatas ini dan setelah semuanya selesai, mari menjalani hidup masing-masing seolah kita tidak mengenal satu sama lain."
Ada rasa tidak terima di hati Gavin mendengar penolakan Helli. "Aku tidak bisa. Kita harus menjadi teman!"
"Jangan memaksaku!"
"Aku tidak menerima penolakan."
"Jika aku menolak?"
"Tidak ada penolakan, Helli. Teman?" Gavin mengulurkan tangan. Helli tidak bisa melakukan apa pun selain menerima uluran tangan pria itu.
"Jangan salahkan aku jika kelak kau jatuh cinta padaku." Helli menggerutu. Keduanya bersalaman satu sama lain.
"Jika hal itu terjadi, aku akan memohon dan berlutut di hadapanmu agar bersedia menerimaku," Gavin mengerling jenaka. "Senang berteman denganmu, Helli Lepisto."
__ADS_1