My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Grace, si Pengacau!


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu pria itu, Helli?" Grace bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil. Tidak ada kesepakatan damai. Mereka diusir dengan cara memalukan, tapi Helli masih sempat memberikan tandatangannya pada gadis manis itu. Satu-satunya hal yang patut disyukurkan.


"Lumayan."


Gavin masih santai mengemudikan mobil mendengar jawaban Helli yang terdengar acuh tidak acuh.


"Lumayan?" Grace membeo dengan nada penuh tekanan.


"Sebenarnya dia sangat rupawan."


Grace menjentikkan jarinya, "Nah, aku juga sependapat denganmu. Kau melihat caranya menatap, itu seperti... Hmm, bagaimana aku mengatakannya?"


"Seperti sedang melucutii?"


"Nah! Iya, seperti sedang melucutii. Astaga, aku masih bisa merasakan degupan jantungku yang berdebar karena takut."


"Dia menyimpan fotomu. Aku yakin dia juga tergila-gila padamu."


Gavin terbatuk-batuk. Sengaja dilakukan pria itu untuk menarik perhatian kedua gadis menjengkelkan yang duduk di belakang. Dia sudah seperti seorang sopir, duduk menyendiri.


"Kau baik-baik saja?" Helli bertanya seraya mencondongkan tubuhnya. Grace menariknya kembali agar kembali pada posisi semula.


"Dia akan baik-baik saja, dia hanya sedang berlakon."


Gavin berdecak, ia melotot kesal ke arah adiknya si pembuat masalah. Andai Grace tidak melempar bola dan membuat kepala si Lawrence benjol, ia tidak perlu mendengar tunangan palsunya memuji pria lain.


Apa yang dikatakan Helli tadi? Melucutiii, heh? Inikah yang dikatakan menelanjangii tanpa menyentuh?


Gavin tidak suka mendengarnya. Fix, hari ini benar-benar hari yang buruk menurutnya. Ia seolah tidak mengenal dirinya sendiri.


"Omong-omong, Helli, kenapa kau mau bertunangan dengannya? Apa yang kau lihat darinya?"

__ADS_1


Gavin benar-benar dibuat kesal oleh adiknya. Ia harus menjauhkan kedua wanita itu, jangan sampai Grace benar-benar merasuki Helli untuk menjauhinya. Tapi kenapa ia peduli jika Helli pergi menjauh?!


Grace penambah masalah baginya!


"Apa yang kulihat?" Helli membeo dan tampak seakan sedang berpikir.


Sementara di balik setir kemudi, Gavin menajamkan pendengarannya. Meski kesal dengan pertanyaan adiknya yang terdengar seperti sedang menggiring Helli untuk sadar, tapi kekesalannya itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa penasarannya untuk mendengar jawaban Helli.


"Apa yang kulihat?" Helli mengulangi pertanyaan itu dengan nada lambat, sengaja mengulur-ulur waktu.


Kenapa dia butuh waktu banyak untuk menjawab pertanyaan singkat dan mudah itu? Apa tidak ada yang menarik dariku? Dia bahkan tidak perlu waktu sedetik untuk menjawab bahwa si Lawrence sialan itu lumayan menarik di matanya! Ck! Kenapa pria dingin dan sinis selalu membuat para wanita penasaran. Dan Grace, aku akan menghukummu karena sudah mempengaruhi tunanganku yang cantik.


"Ah! Memang sulit mencari kelebihannya. Aku tahu kau pasti terpaksa."


Demi Tuhan, Gavin sampai mencengkram erat setir kemudi dan menggigit pipi dalamnya agar tidak melontarkan kata kasar pada adiknya tersayang.


Helli tertawa renyah mendengar kalimat Grace yang tidak difilter sama sekali. Tawanya itu Gavin anggap sebagai bentuk persetujuan dari Helli bahwa seorang Gavin memang tidak memiliki kelebihan.


"Astaga, kau ini. Dia bisa mendengar ucapanmu dan tersinggung," tegur Helli.


Gavin sudah tidak tahan lagi. Ia menghentikan mobil secara mendadak membuat kedua gadis itu terhuyung ke depan. Makian protes dari Grace tidak ia hiraukan. Adik tersayangnya itu harus segera disingkirkan! Terlalu berbahaya untuk hubungannya dengan Helli.


Gavin turun, mengitari mobil dan membuka pintu penumpang.


"Apa kah gila? Kenapa berhenti mendadak!"


"Turun!"


"Kenapa aku harus turun?!" Grace melotot marah.


"Karena aku tidak ingin mengantarmu."

__ADS_1


"Apa? Oh kau ingin kulaporkan..."


"Tidak usah mengancamku." Gavin segera menyela dengan cepat sebelum Grace keceblosan menyebut Mom dan Dad.


"Kau sangat menjengkelkan. Jadi, sebelum aku benar-benar marah padamu, sebaiknya kau turun. Aku akan panggilkan taksi untukmu?"


"Ada apa denganmu? Kau datang bulan? Tiba-tiba marah dan memintaku turun. Apa salahku?" Grace mendorong Gavin dan segera keluar sambil berkacak pinggang. Memberikan sikap menantang kepada Gavin.


Melihat pertengkaran keduanya, Helli pun buru-buru turun untuk melerai.


"Apa salahmu? Kau bertanya apa salahmu?"


"Hei, apa yang kalian lakukan? Apa kalian sedang bertengkar?" Helli bertanya dengan polosnya. Gavin dan Grace jika sedang ribut, memang tidak ubahnya tikus dan kucing.


"Ooww, aku tahu," Grace tiba-tiba mencibik. "Kau marah karena Helli tidak menemukan alasan kenapa bersedia bertunangan denganmu? Hah?"


Gavin mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa Grace tahu jika itu adalah pemicunya.


Ck! Inikah yang dikatakan ikatan batin saudara kembar.


"Ke-kenapa namaku disebut?"


"Dia marah karena kau menganggapnya tidak menarik."


"Oh Tuhan, aku benar-benar ingin mencekik lehermu!" Gavin benar-benar melingkarkan tangannya di leher adiknya tapi tidak benar-benar mencekiknya.


"Hentikan, hentikan." Helli menarik tangan Gavin agar melepaskan Grace. "Hm, sebenarnya, Gavin sangat menarik. Dia perhatian, hangat dan bersedia memasak untukku. Dia tunangan yang sangat totalitas."


"Memasak?" Grace tidak yakin. Ia menyorot saudaranya Gavin dan pria itu mendengus.


"Ya, membuat bekal panda yang babak belur. Rasanya sangat lumayan."

__ADS_1


Meski jawaban Helli tidak sesuai dengan yang diharapkan Gavin, tapi hatinya lega karena setidaknya Helli menyukai masakannya dan juga membelanya di hadapan adiknya yang menyebalkan itu.


Ya ampun, ia merasa dirinya sangat kekanakan dan akhirnya malu sendiri.


__ADS_2