My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Tidak Tahu Dan Tidak Mau Tahu


__ADS_3

"Helli, aku kembali. Katakan apa yang ingin kau makan saat makan siang. Aku akan..."


Kalimat Gavin menggantung di udara begitu ia membuka pintu. Tidak ada Helli di sana, tidak ada siapa-siapa. Tapi aroma gadis itu masih tertinggal di sana dengan sangat jelas.


Gavin melangkah lebar melintasi ruangan menuju toilet. Meski tidak yakin Helli ada di dalam toilet mengingat kondisi kaki gadis itu, tetap saja ia perlu meyakinkan. Mengetuk pintu toilet, tidak ada sahutan sama sekali. Gavin mengulanginya untuk kedua juga ketiga kalinya. Tetap tidak ada sahutan. Pun ia menggeser pintu toilet. Hanya kekosongan yang ia temukan di sana.


Jantungnya mulai tidak aman, menerka-nerka kemungkinan yang justru membuatnya jadi marah. Ia kembali ke kamar, memperhatikan ranjang kosong itu. Sepertinya Helli belum pergi terlalu lama, ranjang itu masih hangat dan bantal yang dipakai Helli masih kusut, bentuk kepalanya masih tercetak di sana. Setidaknya begitulah bayangan Gavin.


"Aku datang terburu-buru hanya agar dia tidak melewatkan makan siang," lirihnya dengan geraman. Egonya yang tinggi merasa dipermainkan. Jelas-jelas ia meminta agar Helli menunggunya. Lalu, kenapa gadis itu pergi tanpa permisi.


Gavin menyesal kenapa rumahnya itu tidak dilengkapi CCTV. Ia tidak bisa memeriksa siapa yang keluar masuk ke rumahnya. Ia mengabaikan pemasangan CCTV karena ia belum menempati rumahnya dengan menetap.


Gavin turun ke bawah untuk mencari Lordes. Sayang, pelayannya itu tidak ada di sana. Sepertinya Lordes pergi berbelanja mingguan. Tidak sabar menunggu Lordes pulang, ia mencoba menghubungi wanita itu.


Tidak perlu menunggu lama, Lordes langsung menjawab panggilannya.


"Apa kau melihat Helli?" ia langsung menodongkan pertanyaan.


"Helli pergi bersama pria yang menggendongnya,- maksudku yang mengantarnya beberapa jam lalu."


Akhirnya kemarahannya berada di puncak toleransinya. Kepalanya mendidih. Ia membayangkan Rusell kembali menggendong Helli. Dalam kondisi kaki bengkak, sangat tidak mungkin Helli bisa menuruni anak tangga. Artinya, Rusell masuk ke dalam kamar lalu mengangkat tubuh Helli.


"Apa terjadi sesuatu, Gav? Helli juga membawa beberapa barangnya. Ia berpesan akan mengambil sisa barangnya."


Bukan marah lagi, kini ia murka. Gavin memutar tubuhnya, kembali masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari dengan kasar. Benar saja, isinya sudah tidak sebanyak biasanya. Helli benar-benar pergi.


"Gav..."


"Terima kasih, Lordes. Lanjutkan pekerjaanmu." Gavin memutuskan sambungan telepon. Ia duduk di tepi ranjang, mengatur napas berulang kali.


Egonya benar-benar terluka. Ia mengebut seperti orang gila. Memikirkan makanan apa kira-kira yang akan ia masak untuk Helli. Makanan sehat yang enak. Ia bahkan tidak pernah memikirkan makanan sehat untuknya. Ia hanya memakan apa yang tersaji tanpa memikirkan gizi dan segala macam.


Dan yang membuatnya semakin marah adalah saat ia berpamitan kepada Helli, meminta gadis itu menunggunya dan Helli masih menyunggingkan senyum manis. Tidak ada tanda-tanda bahwa Helli akan pergi tanpa kata seperti ini. Bukankah ia juga sudah mengatakan dengan jelas bahwa pertunangan mereka akan tetap berlanjut seperti perjanjian.


Apa ini? Helli memilih pergi, mengakhiri dengan cara yang menurut Gavin sedikit keterlaluan.


Ia sangat menyesalkan sikap Helli yang tidak bersedia menunggunya dan justru memilih pergi dengan pria lain. Inikah akhir pertunangan mereka. Jika saat memutuskan untuk melakoni pertunangan palsu ini mereka melakukan akad, kesepakatan, bukankah saat mengakhirinya ada baiknya mereka juga berbincang empat mata.


"Benar-benar menjengkelkan!"


___

__ADS_1


Helli tidak menyangka jika sakitnya berkepanjangan. Bengkak di kakinya membawa musibah. Ia mengalami demam dan sudah lebih dari sepuluh hari ia terbaring tidak berdaya di kamar hotel.


Pekerjaannya terbengkalai. Untung Rusell pria yang sangat pengertian. Pria itu juga sudah banyak membantunya. Mulai membawa dokter ke kamar hotel hingga mencarikan rumah untuk ia tempati. Dan beberapa saat lalu, pria itu baru saja menghubunginya. Mengatakan bahwa rumah barunya sudah diisi dengan perabotan.


Ponselnya kembali berdering saat Helli baru saja hendak memejamkan mata. Kali ini bukan Rusell yang menghubunginya, melainkan Addrian.


"Ya, Addrian."


"Ada apa dengan suaramu? Kau baik-baik saja?"


"Sejujurnya aku sedang kurang enak badan. Ada apa?"


"Aku hanya ingin mengingatkan tentang promo yang akan kita lakukan. Penayangan perdana film-mu akan segera dimulai."


"Dua Minggu lagi, aku tidak akan melupakannya."


"Kita bisa menundanya jika kondisimu belum fit. Kabari aku secepatnya agar aku bisa mengatur ulang jadwalnya. Apa kau sudah ke dokter?"


"Terima kasih atas perhatianmu, Add. Aku sudah ke dokter dan aku akan baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah."


Panggilan ditutup. Helli menatap ponselnya dengan helaan napas panjang. Jika bukan Nicky, Rusell yang menghubunginya, pastilah Addrian. Hanya mereka yang mengetahui nomor ponselnya. Ponselnya yang lama, ia sudah tidak menggunakannya lagi karena Calvin mengetahui nomor tersebut.


"Astaga Helli! Memangnya apa yang kau harapkan? Ia langsung melarikan kakinya begitu Mona menghubunginya. Apa lagi yang kau harapkan?!" Maniknya mengembun diselimuti kabut air mata. Helli buru-buru mendongak, menghalau agar air matanya tidak meluruh. "Akhir-akhir ini aku sangat sensitif. Sakit ini sedikit menyiksa."


Helli menarik napas panjang, jemarinya mengusap-usap layar ponselnya yang tiba-tiba berkedap kedip. Nama Grace terpampang di sana. Ah, dia lupa jika Grace juga memiliki nomor ponselnya.


Helli dengan semangat menggulir tombol hijau.


"Grace!!" Di mana Gavin? Helli berteriak dalam hati.


"Helliku...." terdengar lengkingan sahutan dengan semangat yang berlebihan.


"Kau di mana? Aku merindukanmu."


Aku merindukan saudaramu. "Hm, aku di kamar."


"Apa yang kau lakukan di kamar jam segini?"


"Berbaring, menghitung anak kambing hingga terlelap."

__ADS_1


"Itu membosankan."


"Yupz." Apa Gavin baik-baik saja?


"Suaramu terdengar serak. Kau baik-baik saja?"


"Sebenarnya, tidak."


"Oh Tuhan, kau sakit?"


"Ya. Meriang. Merindukan kasih sayang."


"Kau lucu sekali. Kau sudah ke dokter?"


"Sudah."


"Sudah berapa lama?"


"Apanya?"


"Sakitnya."


"Lebih dari sepekan."


"What?! Doktermu tidak jago. Kirimkan lokasimu, aku akan ke sana dan membawamu berobat."


Helli akhirnya tertawa. Grace benar-benar sangat posesif. Setidaknya ia merasa terhibur perbincangan mereka.


"Helli, kenapa kau diam. Kirimkan lokasimu. Jika kau tidak kuat berjalan, aku akan membawa dokternya ke sana. Tunggu sebentar, aku akan meminta Daddy menghubungi sahabatnya.''


"Tidak, Grace... Itu tidak perlu. Aku hanya,-"


''Dad, hubungi Uncle Justin, katakan kepadanya segera datang. Sahabatku sekarat. Jadi perlu ditangani dengan segera!''


"Grace, aku tidak sekarat."


"Aku hanya melebih-lebihkan. Oh, Gavin, kau di sini. Apa kau tahu Helli sedang sakit. Kau tahu alamatnya, aku akan membawa Uncle Justin ke sana."


Helli merasakan jantungnya berdebar mengetahui Gavin ada bersama Grace. Ia menajamkan pendengarannya, betapa ia sangat merindukan suara pria itu. Ia berharap suara Gavin bisa menjadi imun untuknya.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu."

__ADS_1


Jleb!


Helli merasakan jantungnya ditusuk sembilu mendengar jawaban sinis pria itu. Terluka tapi tidak berdarah.


__ADS_2