My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Acara Pertunangan.


__ADS_3

Ini alurnya saya percepat ya, Genk. Semoga setelah dipercepat idenya lancar jaya😌 Biar cepat selesai.


.


.


.


Semuanya terjadi begitu cepat. Sulit bagi Grace untuk mempercayai bahwa semua yang terjadi ini nyata. Meski sudah dua bulan berlalu sejak Oscar memintanya menjadi wanita pria itu, tetap saja apa yang sedang dihadapkan padanya saat ini sulit untuk ia percayai karena terlalu indah.


Di malam pesta amal, semua prediksi saudari iparnya, Helli, terbukti benar. Oscar penasaran kepadanya dan mulai mendekatinya bahkan memintanya secara khusus untuk menjadi kekasih pria itu. Hampir-hampir, Grace melompat kegirangan dan menganggukkan kepala menerima permintaan Oscar. Satu detik sebelum ia melakukan hal itu, wajah Helli tiba-tiba terbayang dan mengingatkan dirinya tentang pesan yang disampaikan iparnya tersebut. Harus memainkan tarik ulur. Dan akhirnya, ia menahan diri dengan menganggap ungkapan Oscar hanya sebuah gurauan atau pun lelucon.


Keesokan harinya, Oscar mengulangi pernyataannya di kantor, Grace masih menahan diri hingga akhirnya pertahanannya runtuh di hari ke lima. Ya! Grace resmi menjadi kekasih Oscar di hari kelima pria itu membujuknya dan sekarang.... Oh Tuhan, ini yang membuat Grace tidak habis pikir. Sudah sejak satu jam yang lalu ia memperhatikan wajah dan penampilannya di depan cermin besar. Senyum lebar yang begitu indah terpatri di wajahnya, menyuarakan betapa ia sangat bahagia hari ini.


Dua bulan menjalin kasih, Oscar langsung bergerak cepat melamarnya. Dan hari ini merupakan hari pertunangan mereka!


"Oh Helli, katakan aku tidak sedang tertidur yang terjebak dalam mimpi indah yang begitu nyata."


Grace tidak butuh MUA terkenal untuk merias wajahnya di hari pentingnya ini. Semua ia percayakan kepada Helli. Tidak ada yang lebih ia percayai selain saudari ipar yang merangkap menjadi sahabatnya itu untuk membuatnya tampil maksimal dan percaya diri.


"Ouuhhh," Grace memekik saat jemari Helli mencubit hidungnya.


"Kau tidak sedang berada di dalam nirwana, Gre! Ini nyata. Kau dan pria yang kau idamkan selama ini akan bertunangan!" Helli pun tidak kalah gembiranya. Jika tidak mengingat bahwa ia sedang mengandung, ia mungkin akan melompat-lompat seperti kelinci bersama Grace. Kehamilannya kini sudah masuk bulan kelima.


"Oh, Helli, aku sangat bahagia!"


"Aku juga turut bahagia untukmu."


"Bagaimana penampilanku?"


Grace mengenakan dress di bawah lutut berwarna putih gading. Dia benar-benar terlihat sangat feminin dan anggun sekali.


"Kau meragukan sentuhanku?" Helli memasang wajah cemberut, berpura-pura tersinggung.


"Bukan, bukan seperti itu," Grace melambai-lambaikan kedua tangannya seraya menggeleng. "Berkatmu, aku terlihat sangat cantik. Aku hanya gugup, Helli. Itu saja."


Helli tersenyum, lalu berkata, "Ini bukan berkatku. Kau memang sudah terlahir cantik. Oscar tidak akan bisa memalingkan wajahnya darimu dan mungkin saja dia akan menarikmu hari ini juga ke kantor catatan sipil."


"Kau berlebihan," Grace menoel lengan Helli dengan wajah tersipu malu. "Andai dia melakukan itu, aku tidak akan menolak," imbuhnya kemudian yang disusul tawa garing keduanya.


Ketukan di pintu menghentikan kekonyolan keduanya.


"Aku akan membuka pintu," Helli berkata sambil melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.


"Hai," sapaan riang dari seorang gadis cilik yang begitu sangat cantik.

__ADS_1


"Dulce!"


Gadis itu langsung menghambur ke dalam pelukan Helli. "Ouh, perutnya sudah membuncit, Helli... Oh ya ampun! Aku merasakan sesuatu menendang wajahku," wajah Dulce memekik kaget. "Apa yang terjadi?" bertanya sambil terheran-heran.


Helli terkikik geli, "Bayinya sangat menyukaimu. Yang terjadi barusan adalah sebuah ciuman."


"Bayinya menciumku?" Dulce masih tidak paham.


"Ya, bayinya menciummu, Sayang."


"Benarkah?"


"Hmm."


"Ya ampun, dia manis sekali. Apakah bayimu laki-laki atau perempuan?"


"Aku tidak tahu."


"Kurasa dia laki-laki."


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Hanya laki-laki yang melakukan tindakan seperti tadi. Mencium tanpa permisi."


"Apakah Grace sudah selesai?"


"Ya, dia sangat gugup. Kau mungkin bisa menghiburnya." Helli mempersilakan Dulce masuk dan keduanya menghampiri Grace sambil bergandeng tangan.


"Wow! Wah! Grace... Ini kau?"


"Aku terlihat seperti bidadari?" Grace memutar tubuhnya layaknya princess yang memamerkan gaun indahnya.


"Ya. Kau terlihat sangat luar biasa."


"Terima kasih. Kau juga terlihat sangat cantik dengan dress pink yang kau gunakan, Pie. Kali ini siapa yang memilih gaun itu untukmu?"


"Aku sendiri dan Daddy setuju jika aku akan terlihat cantik saat mengenakannya. Bolehkah aku memelukmu."


"Tentu saja. Kemarilah." Grace merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Dulce.


"Setelah kau bertunangan dengan Oscar, kau bukan lagi sekedar sahabatku, tetapi juga keluargaku. Aku sangat senang sekali, Gre! Oscar mendapatkan wanita yang tepat. Wanita baik hati yang penuh perhatian."


Grace dan Helli terharu mendengar pernyataan polos gadis itu.


"Selamat datang di keluarga, Lawrence, Gre."

__ADS_1


"Sambutan yang sangat manis." Grace menunduk memberikan kecupan di pucuk kepala Dulce.


"Kapan kau akan hamil?" Dulce mendongak, menatap wajah Grace dengan penuh harap. "Aku tidak sabar melihat perutmu menyimpan bayi seperti Helli. Kau akan memberikan bayi untukku?"


Helli tergelak mendengar permintaan Dulce. Gadis kecil yang memang sangat menginginkan bayi.


"Aku tidak bisa memberikanmu bayi, Pie. Seperti yang kukatakan sebelumnya, mintalah kepada ayahmu dan Grenda. Lagi pula perutku tidak bisa membuncit jika Oscar belum menikahiku," Grace menyentuh kedua pipinya yang mendadak terasa panas. Otak liarnya berulah, membayangkan ia dan Oscar sedang memproduksi bayi. Buru-buru ia menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran mesumnya yang semakin menjadi.


"Aku tidak ingin bayi dari Grenda. Kenapa kau dan Oscar tidak langsung menikah saja."


"Butuh banyak persiapan untuk hal itu."


"Persiapan apa? Daddy bisa meminjamkan hotelnya lagi untukmu dan Oscar." Ya, pertunangan ini dilakukan di salah satu hotel milik Damian.


"Ini bukan hanya perkara tempat, Pie. Kenapa kau tidak meminta Ayahmu saja yang menikah."


"Dia sedang menunggu ibuku."


"Oh."


"Kurasa sudah waktunya." Helli menginterupsi. Ia baru saja mendapat panggilan dari suaminya bahwa acara akan segera dimulai. "Kita sudah diminta turun."


Mereka bertiga pun segera meninggalkan ruangan. Kegugupan yang dirasakan Grace semakin menjadi.


"Aku ingin pipis," ucapnya begitu mereka berada di dalam lift.


"Tahan lah sebentar. Kau bisa pipis setelah kita sampai di bawah."


"Aku gugup sekali. Ini baru bertunangan, aku tidak berani seperti apa kegugupan yang akan melandaku saat aku dan Oscar melangsungkan pernikahan. Apa kau juga merasa gugup saat menikah dengan Gavin, Helli."


"Tentu saja aku gugup. Hanya saja, kebahagiaan yang kurasakan lebih besar dari kegugupanku. Aku menikah dengan pria yang kucintai, begitu aku melihat wajahnya, kegugupan itu sirna begitu saja. Kau akan merasakannya nanti."


Pintu lift terbuka. Grace langsung menghambur keluar dan berlari mencari toilet.


"Aku akan menyusulnya, kau beritahu Oscar bahwa kami akan segera datang." Helli memberi perintah kepada Dulce yang dipatuhi gadis itu tanpa bantahan.


_____


"Kamar 308. Aku akan menemuimu di sana."


"Cepatlah menyusulku. Kau tahu aku tidak suka menunggu."


Kedua sepasang kekasih itu berpelukan dan selanjutnya berciuman. Ciuman panas, liar dan membara.


Grace yang tanpa sengaja menyaksikan hal itu, mematung di tempat hingga maniknya beradu dengan manik pria yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


__ADS_2