My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Bermain Peran


__ADS_3

"Ah, begitu rupanya. Sekarang apa kau juga akan menggagalkan kencan kita demi sahabatmu, Gavin?"


Gavin dilema. Sungguh ia ingin bersama Mona karena tidak kuat melihat mimik kecewa di wajah cantik gadis itu. Tapi tendangan di kakinya terus saja berlanjut di bawah meja.


"Aku tidak mungkin menggagalkan kencan kita. Aku dan Mona bisa mengatur waktu untuk bertemu kembali."


Helli bersorak yes! Sebenarnya ia juga tidak tega melihat ekpresi Mona. Tapi ini adalah misi mereka. Ia harus bertindak sebagai kekasih yang sangat posesif demi melancarkan aksi mereka. Alih-alih seperti tunangan, ia justru merasa seperti seorang pelakor.


Helli berdiri dengan anggun, memberi isyarat dengan matanya agar Gavin juga berdiri dari kursinya.


"Kami permisi," pamit Helli seraya melingkarkan tangannya di lengan Gavin. Ia juga merebahka kepala dengan manja di bahu pria itu. Ia harus totalitas.


Mona hanya bergeming, hanya sekedar menganggukkan kepala pun tidak ia lakukan.


"Jangan menoleh!" Helli mencengkram lengan pria itu saat mereka sudah berada di ambang pintu.


"Apakah dia akan baik-baik saja?"


"Dia tidak akan baik-baik saja jika dia menyimpan sedikit perasaan padamu. Dan hal itu bisa manjadi kabar baik untukmu. Artinya kau masih mempunyai secercah harapan."


Gavin membenarkan apa yang dikatakan Helli. Jika Mona tidak memberikan reaksi, bukankah artinya Gavin memang mengalami cinta sepihak.


"Aku akan menghubunginya nanti."


"Tidak. Jangan lakukan itu. Biarkan ia merasakan jarak diantara kalian. Terima kasih," Ucap Helli saat Gavin membuka pintu mobil untuknya. Mendadak ia menjadi pakar cinta. Astaga, ia pun terkejut dengan keahliannya ini. Mungkin ke depannya jika ia sudah bergelut lagi di dunia entertaiment, mungkin ia akan membuka biro jodoh.


"Sepertinya dia masih memperhatikan kita," ucap Gavin begitu ia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik setir kemudi.


"Benarkah?" Helli menoleh. Benar saja, Mona masih di tempatnya. Memperhatikan ke arah mereka. Untung saja kaca mobil itu gelap hingga Mona tidak menyadari bahwa Gavin dan Helli sedang memperhatikannya.


"Apa yang kau lakukan?" Gavin melayangkan protes saat Helli dengan sengaja menurunkan kaca jendela mobil lalu secara tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arah Gavin hingga hidung mereka bersentuhan dan napas mereka saling menyapu kulit masing-masing.


Helli sengaja memiringkan kepala hingga dari posisi Mona melihat, mereka seperti sedang berciuman.


"Kita harus memberikan sedikit pertunjukkan," bisik Helli di atas bibir Gavin. "Agar lebih meyakinkan..." Maniknya membeliak lebar saat Gabin menyatukan bibir mereka. Dengan gerakan cepat, Helli kembali menaikkan kaca mobil.


"Apa yang kau lakukan, Montir?!" Ia mendorong tubuh Gavin menjauh darinya.


"Menciummu." Jawabnya sekenanya.


"Kenapa kau menciumku?!"


"Kau yang memintanya."

__ADS_1


"Kapan aku memintanya?"


"Kau tiba-tiba mencondongkan tubuhmu, memiringkan kepalamu dan mengatakan untuk memberi Mona sedikit pertunjukkan."


"Tapi tidak dengan berciuman secara sungguhan, Pelayan! Posisi yang kuberikan tadi sudah cukup untuk mengelabuinya. Jangan melakukan hal itu lagi. Kau mengambil keuntungan dariku dan itu menyebalkan!" Helli mengusap bibirnya dengan kasar lalu bersedekap dengan wajah menahan kesal. Ia selalu kecolongan. Dasar montir pelayan mesum!


"Kau tidak mengatakannya tadi," Gavin menyapu bibirnya dengan lidah sebelum menyalakan mesin mobil.


"Ini pertunangan palsu, jadi segala sesuatunya harus palsu! Tidak ada sentuhan, Gavin!"


"Kau memintaku memainkan peran dengan baik."


"Ya, tapi tidak mengambil keuntungan. Sudahlah, aku tidak ingin ada lain kali yang seperti itu lagi jika bukan dalam keadaan darurat."


"Darurat? Seperti apa keadaan darurat itu? Aku perlu antisipasi."


"Aku belum memikirkannya."


Pembicaraan mereka terhenti begitu mendengar suara ponsel Gavin yang berdengung. Alisnya terangkat begitu membaca pesan yang tertulis di ponselnya. "Ternyata kau sudah memiliki sutradara."


"Sungguh?" Helli tampak bersemangat. Meski tidak menyukai akting, tapi ini satu-satunya sumber uang yang bisa ia harapkan. Kelak, ia akan menggunakan uang tersebut untuk kebebasannya.


"Begitulah yang dikatakan Adrian. Calvin Hugo. Dia mengatakan pria itulah yang menjadi sutradaramu."


"Kau baik-baik saja?" Gavin melihat prubahan air wajah Helli yang berubah tegang.


Tidak! Aku tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa aku baik-baik saja, jika pria itu adalah ancaman terbesarku!


"Namanya pernah kudengar, bukankah dia pria yang terlibat skandal denganmu? Ibumu memergoki kau dan dia tidur di atas satu ranjang."


"A-aku..." Saat itu Helli masih berusia 16 tahun. Ia dan ibunya diusir karena utang yang menunggak. Saat itu, ia masih muda, rapuh, dan sangat kesepian. Ibunya tidak memiliki keahlian apa-apa untuk menunjang hidup mereka. Target sempurna untuk seorang oportunis yang penuh perhitungan seperti Calvin Hugo. "Ba-bagaimana dia bisa terlibat dalam film ini?"


"Apa perlu kutanyakan pada Adrian?"


Helli menggeleng. Ia tidak ingin menambah masalah lagi.


"Omong-omong, bukankah pria itu agak terlalu tua untukmu?"


"Apakah saat ini kita sedang membahas hubungan masa laluku?"


Gavin meminggirkan mobilnya. Ia menatap Helli dengan lekat. "Dari tanggapan defensifmu, apakah sangat sulit untuk bekerja sama dengannya?"


"Aku akan bekerja sama dengan siapa pun yang ditunjuk. Aku profesional."

__ADS_1


"Kau yakin?" Gavin masih menatapnya dengan intens. "Jika dia menyulitkanmu, katakan padaku. Setidaknya aku bisa memukulnya untukmu. Biar bagaimana pun, aku adalah tunanganmu."


Helli tertegun. Suaranya tercekat di tenggorakan. Apakah sangat menyedihkan jika untuk sesaat ia mengharapkan pertunangan ini nyata. Karena baru satu kali ini dalam hidupnya ada seseorang yang menawarkan dukungan kepadanya.


"Jika kau memukulinya, aku akan kehilangan sutradara lagi. Aku ingin segera berakting." Ia tidak ingin menghindari kerumitan ini. Ia juga akan menunjukkan kepada Calvin bahwa ia bukan gadis naif lagi. Ia harus terlihat berani untuk menghadapi mimpi buruknya.


Gavin menatapnya untuk waktu yang cukup lama. "Baiklah. Hubungi aku jika si Calvin itu melakukan sesuatu di luar batas. Aku cukup mengenalnya. Dia pria tua yang cukup membuat para wanita bergidik. Omong-omong, kau akan mulai syuting esok pagi. Kau tidak boleh terlambat."


"Aku penasaran kenapa Adrian mengirimi pesan."


"Ponselmu mati. Itulah yang ia katakan."


"Ah, sepertinya aku lupa mengisi dayanya lagi."


"Setelah aku mengantarmu pulang, sebaiknya kau isi daya ponselmu dan simpan nomorku di sana. Aku akan mengantarmu besok dan menjemputmu selesai syuting. Akan ada kehebohan besar. Ck! Pers memang memuakkan. Aku selalu menghindari mereka. Sejauh ini aku berhasil. Mereka tidak mengenaliku. Berkatmu, aku harus berurusan dengan mereka."


"Kau tidak perlu mengantarku jika itu memuakkan untukmu. Aku sangat tahu persis bagaimana rasanya."


"Tidak. Aku akan tetap mengantarmu dan sebaiknya si Calvin mesum itu menjauhkan tangannya darimu."


"Apa yang sedang kau perankan?"


"Tunangan berbakti." Gavin mengerling sembari menjalankan mobilnya kembali.


Kini Helli menyadari bahwa bukan hanya seorang Calvin Hugo yang berbahaya, tetapi pria setinggi 185 sentimeter yang terlampau seksi di hadapannya.


"Omong-omong film ini menceritakan tentang apa? Aku perlu mengetahui apa yang dilakukan tunanganku sepanjang hari."


"Tentang seorang wanita yang terperangkap dalam skandal pria kaya tua. Dimana pria tua itu sangat berhasrat terhadap si wanita. Wanita itu tidak bisa melakukan apa pun selain mengikuti keinginan si pria tersebut..."


"Stop! Kau sedang tidak curhat, bukan?"


Helli memutar bola matanya. "Sedikit menjijikkan memang. Kau tahu, judulnya juga membuatku muak. Menjinakkan Hasrat Pria Tua."


Tawa Gavin lepas seketika membuat Helli terkagum-kagum. Pria itu bahkan mengeluarkan air mata dari sudut matanya.


"Apakah ada sekuelnya?" Gavin bertanya di sela-sela tawanya.


"Itulah yang kupikirkan. Jika ada, aku tidak mangambil peran itu lagi."


"Sepertinya kau sangat putus asa hingga menerima pekerjaan ini."


"Ya, bisa dikatakan begitu."

__ADS_1


__ADS_2