My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mona Sahabatku


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Gavin merenungi apa yang baru saja terjadi. Keterkejutan dan kebingungannya jelas membuatnya tidak nyaman. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa yang ia lakukan itu adalah bagian dari akting.


Ia berusaha menunjukkan perannya sekompetitif mungkin untuk menunjukkan peforma yang meyakinkan. Ia mulai merasa tenang setelah mendapat pembenaran atas perbuatannya bahwa yang terjadi hanya untuk kepentingan pertunangan palsu yang mereka jalani.


Ia akan membantu Helli untuk mengatasi si Calvin Hugo yang licin dan brengsek itu dan sebagai gantinya Helli akan membantunya mendapatkan Mona.


Gavin langsung menuju bengkel. Sesampainya di sana. Ia melihat Ben sedang memperbaiki sebuah mobil Jaguar.


"Ada masalah?" Gavin menghampiri Ben yang tampak kesulitan menemukan apa yang salah dengan mobil tersebut.


"Mobil ini sudah lama disimpan, klien hanya ingin kita memeriksanya. Starter kurang responsif. Itulah yang dikatakan pemiliknya. Ben menunjukkan ke arah pria yang sedang duduk bersama seorang wanita pirang. Gavin memicingkan matanya, wajah pria itu terasa tidak asing. Ia mencoba menggali memori, di mana kira-kira ia melihat pria tersebut.


Ah! Kekasih Mona. Ya, tidak salah lagi jika pria itu adalah tunangan sahabatnya. Gavin memperhatikan gerak gerik keduanya dengan seksama. Selama dalam lima menit, ia melihat tangan pria itu mengusap pipi wanita di hadapannya. Wow! Gavin menemukan sesuatu yang janggal. Ia mencium aroma-aroma pengkhianatan.


"Mereka datang berdua?" Gavin membuka kap mobil. Mulai memeriksa dengan seksama.


"Ya. Kau mengenalnya?"

__ADS_1


Gavin diam, memilih untuk tidak menjawab.


"Apa ada masalah dengan mobilku?"


"Aku masih memeriksanya," sahut Gavin tanpa menoleh kepada pria itu.


"Ah, ini Gavin, pemilik bengkel ini." Ben memperkenalkan.


"Dude, dia datang atas rekomendasi Steven." Gavin akhirnya menegapkan tubuhnya, berbalik untuk berhadapan dengan Rusel begitu nama Steven disebut. Nama salah satu sahabatnya.


"Oh, jadi kau pemiliknya. Rusel Hamilton," pria itu mengulurkan tangan. Tidak ada raut kebingungan sama sekali. Gavin mengambil kesimpulan jika Mona tidak pernah menunjukkan wajahnya kepada pria itu.


"Wanita itu kekasihmu?"


Rusel sedikit terkejut dengan pertanyaan Gavin yang terdengar sedikit tidak pantas mengingat mereka baru bertemu kurang dari lima menit.


"Melinda? Ya, dia kekasihku. Hm, sekretarisku."

__ADS_1


Gavin menggeram, merutuki kebodohan sahabatnya yang tidak becus dalam memilih pria.


"Apa kau sudah bertemu dengan Mona?"


Rusel terperanjat. Wajahnya menunjukkan kepanikan. Tidak kentara tapi Gavin berhasil menangkapnya dengan mata jelinya.


"Aku adalah temannya. Mungkin Mona lupa memberitahumu," sarkas Gavin dengan mimik tenang.


"Ah, aku mengingatnya. Mona tentu saja berbicara banyak tentangmu. Aku sudah bertemu dengannya dan hari ini dia sedang ada di rumah kecantikan. Melakukan perawatan." Rusel tertawa sumbang, terkesan panik.


"Kalau begitu santai saja. Tidak usah panik begitu. Aku tidak akan melapor kepadanya tentang keberadaanmu di sini bersama kekasihmu, hmm, maksudku sekretarismu." Gavin ahlinya melontarkan kalimat sarkas yang membuat lawan bicaranya mati kutu.


"Kau jangan salah faham begitu..."


"Coba kau nyalakan mesin mobilmu." Gavin menyela dengan cepat.


Rusel mengembuskan napas kasar sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Gavin mengangkat tangannya memberi isyarat agar Rusel mematikan mesin mobilnya. Tidak ada lagi suara yang tersendat.


"Mobilmu sudah bagus," Gavin meninggalkan pria itu dengan kepanikan yang masih terpatri di wajah Russel.


__ADS_2