
"Apakah masih ada pers di luar sana?" Helli berbaring di dalam dekapan kekasihnya.
Astaga, tidak henti-hentinya hatinya meneriakkan bahwa ia memiliki seorang kekasih. Kekasihku, priaku, belahan jiwaku, kucing garongku, singa liarku, Entah sebutan apa lagi yang menari-nari di benaknya. Montir, Mr. Pelayan, Gelandangan Kumuh, panggilan itu sudah dihempaskan sejak ia tahu jika Gavin adalah seorang Vasquez. Masih sulit baginya untuk mempercayai semuanya karena terlalu indah. Terbiasa dengan hal buruk dalan hidupnya, hingga lebih mudah baginya menerima jika masalah lah yang datang.
Helli menatap guratan otot di tubuh Gavin, tergoda ingin memainkan jemarinya kembali di sana. Tapi ia malu. Jadi yang ia lakukan adalah mencuri-curi pandang seperti si Kancil yang ingin mencuri belimbing. Dicintai adalah sesuatu yang luar biasa bagi Helli, bercinta juga sesuatu yang baru baginya. Tapi semua hal itu benar-benar membuatnya ketagihan karena yang menawarkan semua itu adalah seorang Gavin.
"Tentu saja. Mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan." Jemari pria itu mengusap-usap lembut bahu polosnya. "Kau ingin memberikan sesuatu kepada mereka?" Gavin menundukkan kepala sementara Helli mendongak.
"Memberi?"
"Hmm, sesuatu yang manis. Mungkin kita bisa berciuman panas di balkon. Besok, semua media akan memuat hal itu."
"Saat ini media bukan sesuatu yang kusukai." Helli menundukkan kepalanya. Ia yakin, ke depannya, para pencari berita itu akan lebih giat mencari tahu tentang dirinya. Mengulitinya hingga ke akar.
"Lalu apa yang kau sukai?" Gavin mendaratkan bibirnya di kening kekasihnya itu.
"Kau."
Gavin tergelak, "Lalu apa alasan di balik drama tadi? Kau membiarkanku salah faham. Kukira kau yang sakit. Ingin mengujiku?"
Wajah Helli bersemu merah. Ia ketahuan. Ya, itulah memang tujuannya. Ingin tahu sebesar apa perasaan pria itu. Meski ia mencintai Gavin, tetap saja ia tidak berani untuk percaya begitu saja. Ayolah, ia korban perasaan juga pengkhianatan.
"Kukira kau mencintai Mona."
"Kukira juga begitu."
Helli mendongak, menatap manik pria itu. Mencari sesuatu di sana. Ya, apa yang membuat Gavin berputar arah hingga menoleh ke arahnya. Mona mengatakan mereka akan menikah, tapi Gavin mengatakan tidak pernah ada pernikahan.
"Lalu apa yang terjadi?" Helli bertanya dengan nada pelan yang terdengar seperti bisikan. Ia penasaran tapi juga takut mendengar jawaban yang mungkin tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Yang terjadi? Aku tidak merasa cemas saat dia tidak terlihat olehku."
"Kau cemas saat tidak melihatku?"
"Lebih dari itu. Si Addrian keparat itu bahkan tidak mau menjawab panggilan juga pesanku. Kami bermusuhan. Adikku yang menjengkelkan tidak kalah menyebalkan. Semuanya membuatku marah."
"Kau menghubungi Addrian untuk mengetahui kabarku?" perasaan Helli dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu.
"Aku bahkan harus menahan diri untuk tidak menghubungi Rusell. Aku khawatir tidak bisa mengendalikan diriku."
"Aku merasa bersalah pada pria itu," pernyataan Helli sontak mendapat tatapan protes dari Gavin.
"Aku kekasih yang posesif. Aku juga baru menyadarinya. Apakah karena wanitanya adalah dirimu, aku tidak mengerti. Jadi, Helliku sayang, tolong kerja samanya. Aku tidak menyukai saat kau peduli dan cemas dengan pria lain. Tolong jaga kewarasanku."
Oh Tuhan, Helli benar-benar melambung tinggi. Dia senang dan merasa bahagia jika Gavin bersikap posesif. Baginya, itu menandakan bahwa pria itu benar-benar terkena sihirnya. Itulah pentingnya tidak pernah berburuk sangka kepada Tuhan, karena pada akhirnya semua akan indah pada waktunya. Helli merasakan itu sekarang. Saat ini, ia berada di puncak kebahagiaan.
"Kau cemburu?"
"Hmm. Jika kau penasaran seperti apa kegilaanku saat sedang cemburu, teruslah berbicara tentang kelebihan pria lain. Aku juga penasaran dengan hal gila apa yang akan kulakukan setelah keinginan untuk mencekik leher adikku sendiri."
"Kau mencekik leher Grace?"
"Hampir saja kulakukan. Sebelumnya, dia adalah wanita kesayanganku. Kau menggeser posisi itu."
"Jangan sampai Grace mendengarnya. Dia gadis kesayanganku."
"Kau tidak bertepuk sebelah tangan. Kami bersaing dalam hal menarik perhatianmu. Kuharap rasa sayangmu lebih besar kepadaku dibandingkan kepadanya."
Helli tergelak mendengar penuturan Gavin yang diucapkan dengan mimik serius.
"Meski dia adalah adikku. Tetap saja aku cemburu."
"Gavin, hentikan. Kau membuatku melambung terlalu jauh. Aku takut terhempas."
"Terhempas? Ada aku yang akan menangkapmu."
"Ck, tidak heran banyak wanita yang terkapar di daratan karena mendengar rayuanmu yang maut. Bukankah kau pergi berkencan dengan Mona?"
__ADS_1
"Aku dan Mona? Ya, satu minggu. Di Sisilia. Kami berciuman. Dia mengatakan bahwa dia menginginkanku dan mencintaiku. Saat itu aku sadar, bukan dia yang kau inginkan..."
"Tapi aku?" Helli menyela secara spontan yang berakhir dengan rasa malu. Karena detik itu juga ia melihat Gavin mengulumm senyumnya dengan kilatan mata geli.
"Aku belum menyadarinya saat itu, Helli. Aku baru mengetahuinya setelah Grace mengabarkan berita itu. Tepatnya dua hari yang lalu."
"Ceritakan padaku apa yang kalian lakukan di Sisilia."
"Kau yakin?"
Helli menganggukkan kepala.
"Kau akan cemburu dan mungkin bisa membunuhku."
"Aku tidak akan melakukannya," Helli berjanji.
"Saat sampai di Sisilia, hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi Addrian." Gavin memulai ceritanya.
"Siapa yang kau hubungi?" Saat itu Gavin sedang berada di balkon, sibuk menghubungi Adrrian yang sejak satu minggu lalu tidak kunjung menjawab panggilannya. Ratusan pesannya juga diabaikan begitu saja setelah dibaca.
Syuting dimana? Apa Helli sudah makan?
Helli tidak bisa minum kopi terlalu banyak, jangan berikan dia kopi.
Dude, angkat telponku! Aku ingin melihat wajah Helli.
Addrian Keparat, kenapa mengabaikan panggilan dan pesanku?!
Tolong berikan makan siang yang sehat untuk TUNANGANKU, perutnya sangat sensitif.
Semua pesan yang dikirim olehnya, tidak satu pun dijawab oleh Addrian.
"Addrian?" tebak Mona saat itu.
"Hmm," sahut Gavin singkat tanpa menoleh ke arah Mona. Pria itu sibuk menarikan jemarinya di atas layar ponsel. Mengirim pesan untuk kesekian kalinya kepada Addrian meski tahu jika pria itu tidak akan meresponnya.
"Itu karena dia mengabaikan panggilan dan pesanku."
"Ada apa?"
"Helli memiliki gangguan pencernaan, aku harus memberi peringatan kepada Addrian."
"Kenapa tidak menghubungi ponselnya?"
"Helli? Aku yakin wanita itu bahkan tidak tahu dimana ia meletakkan ponselnya."
Mona terdiam, tidak merespon apa lagi yang dikatakan oleh pria itu. Sudah lima hari mereka di Sisilia, dan selama lima hari itu juga mereka tidak melakukan apa pun. Hanya berdiam diri di dalam villa. Liburan yang sangat membosankan. Ia bersama Gavin, tapi pikiran pria itu tercurah kepada Helli. Ia cemburu. Gavin juga sangat mengenal tabiat kekasihnya, membuat kecemburuan Mona semakin menjadi. Hampir seumur hidup mereka berteman, Gavin tidak pernah memperhatikan kebiasaannya sama sekali. Mona bahkan yakin jika Gavin tidak mengetahui apa warna kesukaannya.
"Gavin?"
"Hmm?" Gavin masih fokus ke layar ponselnya.
"Kita sudah lima hari di sini dan..." Mona menghentikan ucapannya karena Gavin mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Mona diam begitu sebuah notif pesan terdengar masuk.
Balasan dari Addrian. Sebuah foto. Helli sedang berkencan.
Rahang Gavin mengeras seketika. Terlihat Helli seperti sedang berciuman dengan seorang pria yang membelakangi kamera. Tanpa sadar Gavin meremass ponselnya.Ia tidak suka dengan apa yang ia lihat.
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan Mona menyadarkannya.
"Ya, ayo kita berkencan." Ia meninggalkan ponselnya di kamar.
Mereka berdua pun memutuskan untuk ke pantai. Berenang, berjemur, memainkan wahana water sport. Semua hal itu tidak bisa mengalihkan pikiran Gavin tentang bayangan Helli yang berciuman dengan pria lain. Ada rasa tidak terima. Bernostalgia dengan Mona, membicarakan kenangan masa kecil mereka juga tidak berhasil*.
Gavin mulai merasa ada yang salah dengan dirinya, tetapi ia tidak tahu di mana letak kesalahan itu. Moodnya memburuk setelah mendapat balasan pesan dari Addrian si brengsek. Ia butuh pengalihan dan ternyata pengalihan yang ia lakukan pun tidak berhasil.
__ADS_1
Bagaimana bisa Helli berkencan dengan pria lain setelah kencan manis yang mereka lakukan. Bahkan sampai sekarang, setelah satu bulan berlalu, Gavin masih bisa mengingat dengan jelas apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bicarakan*.
Hatinya panas tidak terkendali. Pengalihan.
Jika Helli bisa melupakan kencan itu dan berciuman dengan pria lain, kenapa ia tidak bersenang-senang juga dengan Mona. Bukankah tujuannya kemari juga untuk menyenangkan dan menghibur Mona.
Didorong oleh rasa kesal terhadap Helli. Ciuman antara dirinya dan Mona pun tidak terhindarkan. Satu, dua, ada empat kali ciuman, bayangan Helli tetap saja tidak bisa ia tepis begitu saja. Bahkan saat Mona menawarkan hiburan, alih-alih merespon
tawaran itu, Gavin justru menolaknya.
"Gavin, aku mencintaimu."
Bukankah ini yang diinginkannya? Bersanding dengan Mona. Respon normal yang seharusnya ia berikan adalah mengatakan hal serupa kepada Mona, lalu keduanya akan kembali berciuman atau mungkin bercinta. Namun, semua itu tidak terjadi. Ia terkejut menyadari bahwa ia tidak
seantusias dulu lagi.
"Aku juga," respon singkat darinya karena tidak tega melihat tatapan Mona yang mengiba. Ia takut harga diri wanita itu hancur karena baru saja ia menolak untuk bercinta dengan Mona.
"Sebaiknya kita kembali ke villa. Kau harus membersihkan tubuhmu."
Sesampainya di Villa, Gavin langsung masuk ke dalam toilet. Mengguyur tubuhnya dengan pancuran shower. Bertanya-tanya tentang perasaannya.
Terdengar pintu toilet dibuka. Gavin menoleh, terkejut melihat kehadiran Mona di sana.
"Toilet kamarku rusak." ujar wanita itu.
"Aku sudah selesai. Kau bisa menggunakannya." Gavin menarik handuk dan membalut tubuhnya. Ia melewati Mona begitu saja. Langkahnya terhenti saat wanita itu tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Gavin..."
Gavin terdiam untuk sesaat, dibiarkannya Mona memeluknya untuk sementara. Satu menit berlalu, Gavin berbalik, ditatapnya wajah sahabatnya itu.
"Maaf Mona, aku tidak bisa menerima penghiburan yang kau tawarkan dan aku tidak bisa memberi penghiburan yang kau harapkan. Kurasa aku harus pulang malam ini."
Mona tersentak, ia malu dan kecewa, tidak menyangka jika Gavin akan menolaknya seterus terang itu.
"A-apakah karena tunanganmu?"
Gavin memilih tidak menjawab, ia hanya mengusap wajah Mona lalu berbalik pergi, keluar dari toilet. Malam itu juga, Gavin memilih untuk menginap di hotel.
"Ya, begitu lah ceritanya. Astaga, wajahmu bersemu malu-malu kambing. Kau tersanjung?"
"Ciih!! Tetap saja kau berciuman dengannya!"
"Tapi aku marah saat Mona membuatmu menangis. Apa yang dikatakannya sehingga kau menangis?" Gavin memainkan jemarinya di pucuk kepala Helli.
Helli sangat menyukainya. Hal sesimpel itu bahkan berhasil membuat debaran jantungnya meluap-luap.
"Mona mengatakan, kau dan dia akan menikah. Tapi kenapa kau tahu aku menangis?"
"Si keparat Addrian itu mengirim fotomu tanpa kuminta dan akhirnya aku berakhir di klub. Aku marah kepadamu, karena tidak pernah menunjukkan sisimu yang rapuh di hadapanku. Setelah semua itu, tetap saja aku belum menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta padamu." Gavin terkekeh, menertawakan kebodohannya.
"Lalu bagaimana caramu mengetahuinya?"
"Aku merasa pijakanku hancur saat membayangkan kau akan hancur karena fotomu yang tersebar. Aku merasakan jantungku berhenti berdetak saat membayangkan kau pergi lagi melarikan diri untuk bersembunyi dan aku tidak bisa menemukanmu. Untuk pertama kalinya aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Kau sedang jatuh cinta, Dude. Itulah yang dikatakan ayahku saat aku hampir saja tumbang."
"Jadi kau benar-benar jatuh cinta padaku, Gavin?"
Gavin menatap Helli tidak percaya, apa yang sedang dipikirkan wanita itu. "Setelah kita bercinta, kau masih menanyakan hal itu, Helli?"
"Kau sudah sering bercinta."
"Tapi tidak pernah bermain lembut seperti yang kulakukan kepadamu. Saat aku menyentuhmu, aku bahkan memikirkan apa sentuhanku membuatmu terluka. Aku takut menyakitimu."
"Jadi kau sungguh sering bercinta?!"
Helli mendorong tubuh Gavin menjauh, menatap pria itu dengan sorot mata membunuh.
__ADS_1
Selamat datang hubungan percintaan yang penuh drama keposesifan dan kecemburuan