
Gavin salah perkiraan. Saat ia menghubungi Steven Ivarez, desainer terkenal asal Spanyol, pengusaha muda yang memiliki bisnis di berbagai bidang. Ck! Gavin melupakan keahlian pria itu. Keahlian yang bisa membuatnya bisa berada di mana saja. Sangat kebetulan sekali jika Steven sedang ada di London, di negaranya.
Helli yang mencuri dengar perbincangan itu mendesak calon suaminya agar mengajak pria itu untuk bertemu.
Daripada berdebat mengenai pembatalan kontrak dengan Rusell, akhirnya Gavin menyanggupi keinginan Helli. Mengundang Steve untuk makan malam. Waktu bertemu pun ditetapkan. Jam 19.00.
"Oh Tuhan, aku tidak memiliki gaun yang layak untuk kukenakan." Helli mulai heboh dan terlihat sangat antusias.
"Bukan hanya gaun, aku juga membutuhkan tas, sepatu, dan beberapa hal lainnya. Bisakah kita ke rumahku? Aku membutuhkan barang-barangku, Gavin!" Terlalu bersemangat, sampai-sampai Helli tidak menyadari perubahan raut wajah Gavin yang ditekuk. Terlihat sangat kecut.
"Kau tahu, Gavin, model dari produk hasil desain seorang Steven Ivarez adalah mimpi bagi kami. Aku pernah diundang sekali dalam ajang fashion yang ia adakan. Aku pernah bermimpi bisa menjadi salah satu modelnya."
"Kau akan mendapatkannya," Kecemburuannya tidak berarti apa-apa dibanding kebahagiaan yang terpancar di wajah Helli.
"Terima kasih, Gavin!" Helli menghambur ke dalam pelukan Gavin, menghadiahi pria itu dengan banyak kecupan. Kekesalan Gavin pun sirna seketika.
"Apa yang harus kukenakan, Gavin?"
"Pakailah sesuatu yang bisa menutupi setiap jengkal tubuhmu."
Helli terkikik, ia mengacak rambut Gavin dengan gemas, "Maafkan aku. Aku hanya mengaguminya, itu saja. Aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Kau adalah pemenang di hatiku. Pria yang mampu membuatku mendesaaah," bisiknya dengan nakal.
Cukup sudah, rayuan yang sangat tepat sasaran. Manik Gavin berbinar cerah, seperti anak kucing yang baru mendapatkan daging impor terbaik.
"Aku tahu. Tidak ada pria terbaik selain diriku."
"Hmm, kau benar 100 persen. Kau pria terbaikku. Omong-omong, kau pasti mengenal banyak para desain ternama. Bisakah kau meminta salah satu dari mereka untuk mengirimkan salah satu dress terbaik mereka untukku," Helli memasang wajah menggemaskan, melayangkan jurus andalan wanita.
"Mandilah, begitu kau selesai mandi, dress yang kau inginkan sudah ada di kamar Grace."
"Gavin, kau memang yang terbaik." Cup! Satu kecupan lagi mendarat di pipi Gavin sebelum gadis itu beranjak dari tempatnya.
"Kami para pria memang tercipta untuk diperbudak oleh wanita," ucap Gavin begitu Helli sudah tidak terlihat lagi.
🐿
__ADS_1
"Helli Lepisto?"
Wajah Helli bersemu merah, sungguh ia tersipu malu, tidak menyangka jika pengusaha seperti Steven Ivarez masih mengingat tentang dirinya. Mereka hanya pernah bertemu satu kali.
"Aku tersanjung kau masih mengingatku," Helli mengulurkan tangan yang langsung disambut pengusaha tampan tersebut.
"Perusahaanku pernah mengundangmu secara khusus dan ingatanku sangat kuat. Kau dan dia datang bersama?"
Gavin berdecak, "Kau jelas melihat kami memasuki pintu utama. Pertanyaan macam apa ini?" Gavin menarik tangan Helli yang masih bergenggaman dengan Steve. "Duduklah," ia persilakan Helli duduk di kursi yang sudah ia tarik.
"Terima kasih," ucap Helli tanpa melepaskan tatapannya yang penuh kekaguman terhadap sosok di hadapan mereka.
"Ucapanmu kemana, matamu kemana, Helli."
Sindiran halus Gavin dibalas Helli dengan tepukan pelan di lengan sang kekasih.
"Dia tunanganku dan kami akan menikah dalam beberapa hari." Gavin sengaja menegaskan dan rekan bisnisnya tersebut hanya menganggukkan kepala dengan santai. Tanggapan yang terkesan seperti basa basi.
"Kau khawatir dia tertarik padaku?" Helli berbisik di telinganya.
"Kekhawatiranmu sia-sia. Sepertinya dia tidak tertarik dengan wanita. Ayo, bicarakan tentang kerja sama. Hm, bagaimana jika memintanya untuk membuat gaun pengantin untuk kita. Kita bisa menunda pernikahan kita sembari menunggu gaunnya selesai."
"Sepertinya hanya aku yang antusias dalam pernikahan ini."
"Aku juga antusias, Gavin. Sama besarnya dengan keantusiasanmu."
"Pembohong. Kau bahkan rela mengundurkan pernikahan hanya karena sepotong gaun buatannya."
"Ini keinginan bayi kita. Bayi kita ingin Ibunya mengenakan gaun buatan temanmu. Aku akan terlihat sangat cantik." Alibi seorang wanita hamil. Janin selalu dikambinghitamkan.
"Kau sudah terlihat cantik meski tidak mengenakan apa-apa, Helli Lepisto."
"Ehhm," sebuah deheman menginterupsi perbincangan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.
"Seingatku, kau menghubungiku, mengundangku untuk makan malam. Apakah acara malam ini berubah menjadi tontonan gratis atas pertunjukkan wayang yang kalian lakoni? Aku bukan peminat wayang, terlebih yang dimainkan tema roman picisan."
__ADS_1
Gavin dan Helli kompak tersedak mendengar kesinisan yang dilontarkan Steven kepada mereka. Astaga, apakah pria itu baru menghabiskan sebakul cabe hingga kata-kata yang terlontar dari mulutnya begitu pedas. Wayang? Roman picisan?
Ingin marah, tapi Gavin masih membutuhkan pria itu. Setidaknya, sikap dingin Steve membuktikan bahwa pria itu tidak akan memiliki ketertarikan khusus pada tunangan cantiknya yang nakal.
"Seperti yang kukatakan tadi, kami akan menikah dalam beberapa hari lagi. Masalahnya, kami tidak menemukan gaun yang pas. Helli menginginkan desainmu."
"Bisa kau berdiri," Pria itu memberi perintah kepada Helli dan Helli langsung berdiri. Mata pria itu langsung menyapu seluruh tubuh Helli dengan satu lirikan cepat.
Gavin berdecak, tidak menyukai apa yang ia lihat. Pun ia menarik Helli agar kembali duduk.
"Kemana matamu melihat, Ivarez?!"
"Mengukur bentuk tubuh calon istrimu."
"Cih! Kau butuh pengukur untuk itu."
"Aku hanya menyentuh gadis-gadis tertentu di tempat khusus. Hanya untuk menebak ukurannya, aku hanya perlu melihat."
Oh Tuhan, Gavin baru menyadari jika ada pria yang lebih tengil darinya.
"Kapan pernikahannya?"
"Tentu saja setelah gaunnya selesai. Kami bisa menjadi modelmu jika itu bisa menambah keuntungan untukmu."
"Aku akan memberikan gaun desainku secara cuma-cuma kepada Helli."
"Ciihh! Kudengar, enam bulan lagi kau akan mengadakan fashion show di New York."
"Alasan kenapa aku memberinya cuma-cuma agar calon istrimu itu bersedia menjadi salah satu modelku. Apa kau berminat bergabung denganku, Helli? Aku akan memberikan penawaran khusus."
Tawaran yang sangat menggiurkan. Kesempatan dari seorang Steven adalah hal yang tidak akan ia tolak.
"Sungguh aku sangat tersanjung dan tidak mungkin bagiku menolak. Tapi sayang sekali, saat ini aku sedang mengandung, enam bulan ke depan kandunganku sudah membuncit. Kecuali kau memang mengadakan fashion khusus ibu hamil."
"Aku berhasil membuatnya hamil," pernyataan konyol Gavin mendapat sorot tatapan aneh dari Steve.
__ADS_1
"Haruskah aku berkata wow?"