
"Aku benar-benar tidak paham denganmu. Bagaimana bisa kau mengajak anak kecil bermain salon-salonan dengan alat kosmetik abal-abal," Gavin menatap adiknya yang berbaring di sebelah Dulce.
Pada akhirnya Grace dan Dulce dirawat di ruangan yang sama dan diharuskan untuk menginap untuk mengawasi perkembangan keduanya.
Gavin harusnya tidak terkejut dengan ulah Grace. Jika tidak mengejutkan, bukan Grace namanya. Umur gadis itu bisa saja dikatakan dewasa, tapi terkadang pemikirannya yang naif sering kali menciptakan masalah.
Antara geli, kasihan dan khawatir, itulah yang dirasakan Gavin saat ini. Sebenarnya ia sudah ingin menertawakan adiknya itu andai Damian tidak ada di sana.
"Aku tidak akan melakukannya jika aku tahu hasilnya seperti ini," Grace menatap saudaranya dengan kesal.
"Ya. Ya. Dan sekarang kau harus menginap di sini dan mengacaukan malamku lagi bersama Helli."
"Itu azab karena mendurhakaiku. Pergilah, tinggalkan Helli di sini."
"Istriku harus ikut bersamaku!"
"Helki harus di sini menemaniku."
Kembar tidak seiras itu kembali berdebat. Keduanya tidak pernah melihat waktu, tempat dan sedang bersama siapa.
Damian adalah orang yang menyaksikan perdebatan tersebut. Sementara Dulce, untuk sesaat ia melupakan perih di wajahnya karena sibuk memandangi wajah Helli dengan penuh kagum.
"Kenapa kau cantik sekali?" puji gadis itu dengan polos.
Helli tertawa renyah, dipuja cantik oleh Grace dan Dulce benar-benar memberikan sensasi luar biasa. Ia tersipu setiap kali mendengar pujian dari keduanya. Pasalnya, di mata Helli sendiri, baik Grace atau Dulce adalah gadis-gadis yang sangat cantik dengan kepolosan mereka.
"Kau ingin kuberitahu rahasia?" Helli pura-pura berbisik.
"Apa itu?" Spontan Dulce ikut memelankan suara. Helli harus menahan tawa melihat tingkah yang begitu polos dan natural.
"Aku menggunakan kosmetik yang aman dan terpercaya."
Dulce akhirnya mendelik. "Apa kau sedang meledekku dan Grace, Helli?"
Helli akhirnya tidak bisa menahan tawanya. "Tidak. Tidak. Maafkan aku. Kau juga gadis yang sangat cantik. Katakan kepadaku, kenapa kau perlu menggunakan masker disaat kau memiliki kulit wajah yang begitu sehat dan mulus. Anak kecil seusiamu belum bisa menggunakan benda-benda seperti itu dan adikku, Grace, kurang memahami hal itu."
"Ya, harusnya aku menyadari saat Gre selalu meminta pendapatku. Tapi dokter mengatakan kulit wajah kami akan sembuh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Omong-omong apa kau tidak ingin berpisah dengan suamimu?"
Gavin yang tadi sibuk mengomeli dan menjahili Grace, seketika menoleh begitu telinganya mendengar ancaman.
"Kenapa istriku harus menceraikanku, little girl?"
"Agar Hellli bisa menjadi ibunya." Grace lah yang menyahut. Ia menatap segan kepada Damian yang memasang wajah datar meski mendengar apa yang dikatakan Grace. "Ingat, pria itu menyimpan poster Helli di kamarnya. Kau mungkin saja bisa mendekap, memeluk Helli setiap saat. Pria di sana juga memandangi wajah Helli saat dia hendak tidur," Lihatlah! Grace memang pembuat ulah. Bisa-bisanya dalam keadaan sakit dia mengompori saudaranya.
Ya, ia sengaja mekakukannya agar Gavin berhenti meledeknya. Dan usahanya membuat pria itu kesal ternyata sangat berhasil. Wajah Gavin langsung berubah masam. Gavin beringsut, menjauh dari Grace untuk mendekati Helli dan Dulce.
"Adik kecil yang manis, Istriku begitu mencintaiku. Dia tidak akan menceraikanku. Tidak akan meninggalkanku apa pun keadaannya. Aku adalah hidupnya dan dia napasku. Berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Istriku sedang mengandung anak kami." Gavin dan Grace tidak ada bedanya. Sama-sama kekanakan. Ucapan itu seolah ditujukan kepada Dulce tapi tatapannya tertuju pada Damian. Dan ia secara sengaja merangkul pundak Helli dengan posesif dan mengusap perut istrinya.
"Kau dan istrimu baru saja menikah. Bermalam rumah sakit bukan hal yang menyenangkan. Aku akan menjaga putriku di sini dan karena mereka ada di ruangan yang sama, aku akan menjaga keduanya," alih-alih melayani sikap kekanakan Gavin dan Grace, ia justru memberikan penawaran dengan bijak.
Awalnya Gavin menolak dan tetap memaksa akan menjaga adiknya. Tapi Grace menolak niat baiknya dengan alasan malas meladeni Gavin yang selalu mengajaknya berdebat.
Pintu ruangan terbuka. Oscar masuk bersama seorang wanita cantik. Sierra.
Tadinya Grace sudah senang dengan kedatangan pria itu. Tapi melihat Sierra juga ikut bersama Oscar, hatinya yang berflower-flower tadi kuncup seketika.
"Sierra?!" Gavin lah yang menyambut kedatangan mereka. Tentu saja mereka saling mengenal. Mereka berempat, Grace, Gavin, Oscar dan Sierra bersekolah di universitas yang sama.
__ADS_1
"Gavin!" seru wanita itu dengan senyum lebar di wajahnya. "Astaga! Ini sungguh dirimu?"
"Ya, ini aku." Gavin mengangkat kedua bahunya dengan gaya yang menurut Grace sangat konyol. Tapi bagi wanita di luar sana, semua yang dilakukan Gavin adalah seni yang menarik.
"Astaga!" Sierra melintasi ruangan bersiap untuk memeluk pria itu. Dulu, Sierra sangat tergila-gila kepada Gavin dan kabarnya, Sierra menerima perasaan Oscar untuk membalas penolakan Gavin terhadap Sierra. Gavin yang memang tidak memiliki rasa terhadap Sierra tidak merasakan apa pun saat keduanya menjalin hubungan. Alih-alih membuat Gavin cemburu. Grace lah yang harus mengalami hal itu.
"Istriku." Gavin menarik Helli ke hadapannya begitu jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi. "Kau tentu mengenalnya, Helli Hall Vasquez." Gavin tersenyum tanpa dosa. Sierra refleks menghentikan langkahnya.
"Oh, ya," ucapnya dengan kaku. Ia melupakan status Gavin. Pernikahan keduanya diberitakan selama sepekan lamanya. Gavin memang tidak mengundangnya. "Sierra Johanson." Sierra mengulurkan tangan kepada Helli. Berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Helli," sambut Helli dengan ramah. Ia tidak tahu masa lalu suaminya dan wanita itu, makanya ia bisa bersikap santai.
_____
"Apakah saat menjemput Dulce, ada lebah yang mengejar kalian berdua?" Oscar menelisik wajah Grace yang hampir penuh dengan ruam merah.
Pertanyaan nyeleneh itu, Grace anggap sebagai bentuk perhatian. Ia tersipu, wajahnya yang merona tertutupi oleh ruam tersebut.
"Aku dan Dulce mengalami iritasi dan harus menginap di sini. Aku tidak bisa bekerja dan aku tidak tahu harus menginap berapa hari."
"Tidak masalah. Fokuslah pada kesehatanmu."
"Terima kasih, kau sangat pengertian sekali."
Heh? Jika Gavin mendengar itu, sudah pasti saudaranya itu akan menoyor kepalanya. Entah dimana ucapan Oscar yang menunjukkan perhatian berarti. Tapi mau bagaimana lagi, Grace terlalu memuja Oscar sehingga sulit baginya membedakan perhatian dan kalimat basa-basi. Izin yang diberikan Oscar memang sudah sewajarnya. Itu bukan bentuk perhatian karena Grace tidak mungkin bekerja dengan kondisi wajah mengerikan.
"Apa ayahmu memecat sekretarismu lagi?" Damian ikut bergabung dengan Oscar dan Grace.
"Ya," sahut pria itu singkat.
"Dan sekarang dia bekerja untukmu?"
"Dia ayahmu," Damian menegurnya.
"Tidak ada yang mengatakan bahwa Jimmy adalah sopirku. Kau tahu apa yang dia katakan?" Oscar kembali mengulangi ucapannya.
Damian tidak merespon, dia hanya menunggu Oscar melanjutkan kalimatnya.
"Dia sengaja memilih Grace untuk dijadikan sekretaris agar aku tidak tergoda. Dasar playboy tua tidak tahu diri. Kurasa dia lah yang tidak tahan melihat para sekretarisku."
Damian kembali diam dan tidak merespon. Oscar memang sangat membenci ayahnya. Jimmy, pria yang suka bermain perempuan. Kebiasaan buruk yang membuat ibu Oscar makan hati. Wanita itu hanya diam hingga akhirnya satu tahun lalu meninggal dunia. Sejak itu, kemarahan Oscar pada Jimmy semakin menjadi. Di mata Oscar, Jimmy adalah penyebab ibunya meninggal.
Damian tidak bisa menyalahkan dugaan Oscar tersebut karena yang terlihat memang seperti itu. Tapi ada beberapa hal juga yang tidak diketahui Oscar tentang ibunya.
"Jadi kau yang meminta sekretarismu menjemput Dulce?"
"Ya. Dulce mengeluh sakit perut."
"Itu hanya akal-akalannya. Berhenti lah mempercayai putriku."
"Aku terlalu menyayanginya."
"Dan dia akan terus mengelabuimu dan berhenti jugalah meminta sekretarismu melakukan tugas yang bukan merupakan pekerjaan mereka."
"Aku akan mengingatnya, Brother. Mengapa wajah mereka bisa seperti ini? Mereka sungguh disengat lebah?"
Damian menoleh pada Grace dan seketika pria itu menarik napas panjang. Ia masih tidak habis pikir ada wanita dewasa yang tidak paham dengan kosmetik dan ia juga tidak menyangka dengan kecerobohan Grace yang tidak memperhatikan tanggal produk. Benar-benar tidak teliti.
__ADS_1
"Entahlah. Tanyakan saja pada yang bersangkutan."
"Aku salah memakai produk kecantikan dan Dulce juga memakainya," cicit Grace menahan malu. Ia tidak sanggup melihat reaksi Oscar yang mungkin akan menganggapnya bodoh.
"Oh, malang sekali. Hal seperti ini memang kerap terjadi jika kulit wajah kita sangat sensitif. Maafkan aku."
Manik Grace menatap penuh hari. Baginya, Oscar lagi-lagi memberi pengertian dan perhatian.
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Ya, seperti yang dikatakan Damian, tidak seharusnya aku memintamu menjemput Dulce. Hal semacam ini mungkin tidak akan terjadi."
"Tidak, tidak," Grace melambaikan kedua tangannya. "Ini bukan salahmu. Ini murni karana kecerobohanku." Grace melirik segan kepada Damian. Di benaknya, Damian mungkin mungkin sudah mengutuknya sebagai wanita pembawa bencana. Pertemuan mereka selalu memberikan kesan yang sangat buruk.
Pertemuan pertama mereka, Grace membuatnya pingsan. Pertemuan kedua, Grace berebut sepatu dengan kekasih pria itu dan pertemuan ketiga, hari ini, Grace membuat putrinya mengalami iritasi wajah. Benar-benar pertemuan yang sangat buruk.
"Setiap orang memiliki ceroboh. Setidaknya kau akan lebih berhati-hati memilik kosmetik."
Ah! Grace semakin dibuat jatuh hati. Oscar selalu menyikapi segala sesuatunya dengan positif.
"Ya, aku akan lebih berhati-hati." Grace menunduk malu.
"Istirahatlah. Aku harus kembali ke kantor. Esok aku akan kembali datang untuk menjenguk."
Aku rela dirawat di rumah sakit berhari-hari asal Oscar selalu menjengukku. Dia pria yang sangat perhatian.
Oscar mendekati Dulce, bergurau dengan gadis sebentar, lalu berpamitan.
Sierra juga berpamitan kepada Grace, mengucapkan beberapa kalimat basa basi seperti cepat sembuh, jangan khawatir, ruamnya akan segera hilang.
Dan kini kembali tinggal mereka berlima. Damian lagi menghubungi seseorang, membahas tentang pekerjaan.
"Mom dan Daddy sedang pergi mengunjungi Uncle Felix. Mereka belum mengetahui keadaanmu."
"Tidak usah beritahu mereka. Dokter mengatakan ruamnya tidak membahayakan. Pulanglah, Helli juga butuh istirahat. Aku juga sudah sangat mengantuk." Ia menoleh ke samping, melihat Dulce sudah terlelap.
"Tumben sekali kau pengertian," Gavin mengacak rambut adiknya dengan gemas. "Meski aku sangat kesal kau merecoki malamku bersama Helli, tapi sungguh aku tidak tega meninggalkanmu di sini. Melihatmu sakit seperti ini juga bukan sesuatu yang kuharapkan."
"Aku tahu kau sangat menyayangiku." Grace melingkarkan tangannya di pinggang Gavin. Saudaranya itu pun langsung merespon pelukannya dengan mengusap rambut pendek Grace dengan lembut.
"Cepatlah sembuh, adikku sayang," Gavin memberikan satu kecupan sayang di pucuk kepala Grace sebelum melepaskan pelukan mereka.
Damian juga sudah mengakhiri panggilannya. Pun ia kembali ikut bergabung dengan Gavin.
"Aku dan istriku harus pulang. Tolong hubungi aku jika ada sesuatu."
Damian hanya menganggukkan kepala.
"Bolehkah aku memberi saran padamu?" ujar Gavin kemudian.
"Silakan."
"Alangkah baiknya jika kau mencopot poster istriku dari kamarmu," saran bermotif perintah itu diucapkan Gavin dengan mimik serius.
"Jika kau meminta hal itu kepadaku, kurasa kau harus lebih bekerja keras," ucap Damian dengan ambigu. Pun ia meninggalkan Gavin, duduk di kursi di dekat ranjang putrinya.
"Jadi dia sungguh mengagumimu?" dengan wajah kesal, Gavin bertanya pada Helli.
__ADS_1
"Bukan hanya dia yang mengagumiku. Tapi kau lah pemenangnya. Aku tidur bersamamu. Aku milikmu. Jadi berhenti bersikap cemburu seperti itu," Helli mengusap wajah suaminya dengan lembut dan dalam seketika Gavin berubah menjadi cheetah jantan yang sangat jinak.