My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Ajakan Kencan


__ADS_3

"Apa ada sarapan?" Helli menarik kursi, duduk dengan tenang. Kepanikan sudah tidak terlihat lagi di wajahnya. Pengendalian diri yang sangat bagus. Ia hanya berharap semoga Gavin tidak menyadari perubahan topik pembicaraan.


"Aku baru bangun, aku belum sempat membuatnya." Tentu saja ia berbohong. Ia menghabiskan waktu satu jam seperti orang bodoh dengan memperhatikan jam dinding dan tangga secara bergantian. "Bagaimana dengan sereal?"


Helli mengangguk, "Tidak masalah," Helli bernapas lega karena Gavin tidak bertanya lebih lanjut tentang pemecatan yang dilakukan Addrian terhadap Calvin.


Gavin segera berbalik mengambil mangkuk. Menuang sereal dan susu. "Makanlah," didorongnya mangkuk tersebut ke hadapan Helli.


"Apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau akan tinggal bersama Mona. Tidak usah sungkan untuk mengatakannya. Aku bisa mencari rumah."


Gavin menggeleng. "Tetap lah di sini selama hubungan ini berlanjut. Enam bulan katamu. Ini baru berjalan dua bulan, masih bersisa empat bulan lagi. Jika kau tidak nyaman bersamaku, aku akan kembali ke apartemen."


Helli menganggukkan kepala. Ada baiknya mereka mengurangi intensitas pertemuan mereka. Helli akan belajar mengenyahkan perasaannya terhadap pria itu.


"Sebaiknya kau segera melamar Mona."


"Begitukah menurutmu? Dia masih dalam suasana berkabung?"


"Ada yang meninggal?"


"Hatinya sedang hancur."


"Oh." Helli mengangguk faham. Hening untuk sejenak. Helli mulai menikmati sarapannya, Gavin menyesap kopi pahit buatannya.


"Kurasa saat-saat seperti ini, Mona butuh sandaran. Luangkan waktumu lebih banyak. Dengan begitu, kau akan lebih dekat pada tujuanmu," Helli kembali bersuara dengan memberikan saran yang masuk akal namun berhasil membuat hatinya berdenyut perih.


Bagaimana rasanya bersandar di bahu Gavin? Helli melirik bahu pria itu, lebar dan kokoh.


Pasti sangat nyaman sekali.


"Sepertinya kau sangat bersemangat sekali. Memangnya apa yang ingin kau minta jika memenangkan taruhan ini?"

__ADS_1


Sumpah demi apa pun, Helli sudah melupakan perihal taruhan itu jika Gavin tidak mengingatkan dirinya.


"Aku belum memikirkannya. Kapan kau akan pindah?"


Gavin tersedak. Ini rumahnya. Tapi mendengar pertanyaan Helli, ia merasa seperti sedang diusir.


"Hm, secepatnya. Bersiap-siaplah. Kita akan pergi berkencan. Mungkin ke depannya, kita akan jarang bertemu."


Helli merasakan hatinya diremass paksa. Cinta bertepuk sebelah tangan sudah cukup menyakitkan dan kini ia harus menyaksikan Gavin fokus mengejar wanita lain dan ia sebagai pemandu sorak yang memberi dukungan kepada Gavin.


"Ke-kencan?"


"Ya. Ini kencan pertama kita. Untuk hari ini, kau akan mendapatkan kebebasanmu. Kau harus menjadi dirimu sendiri. Bukan model atau aktris. Abaikan orang-orang yang menurutmu sedang mengintai dan mencuri fotomu diam-diam karena aku memiliki solusi untuk itu."


Cara dadakan yang ia temukan disaat memikirkan solusi untuk membujuk Helli yang sedang merajuk.


Bel pintu berbunyi, Gavin menjentikkan jari, "Ah, solusinya sudah datang. Tunggu di sini sebentar."


Gavin melintasi ruangan untuk membuka pintu. Seorang kurir memberikan dua paper bag. Gavin meletakkan dua benda tersebut di atas meja.


"Solusi. Bukalah."


Helli segera mengeluarkan isi paper bag tersebut. "Wig?"


Gavin mengangguk, "Kita akan berkencan dengan cara menyamar. Tidak akan ada yang mengenalimu. Ayo, kita mandi." Gavin tidak memberikan kesempatan bagi Helli untuk menolak atau pun melayangkan protes.


Lima belas menit kemudian, mereka kembali bertemu di bawah.


"Kau yakin aku harus mengenakan wig berwarna kuning ini? Oh, Tuhan..." Ia memekik kaget tatkala melihat Gavin sedang sibuk memasang wignya sendiri yang berwarna pirang.


"Kuharap kau menghargai kerepotan yang kulakukan untukmu. Bagaimana penampilanku? Apakah aku terlihat seksih sebagai pria berambut pirang?"

__ADS_1


Tawa Helli lepas seketika, "Kau terlihat luar biasa aneh. Rambut itu tidak cocok denganmu. Kenapa kau harus ikut mengenakannya dan kurasa kita tidak perlu mengenakannya. Ini terlalu cerah."


"Lakukan saja. Aku melakukan ini untukmu dan masih sulit bagiku untuk percaya bahwa aku melakukan ini untukmu." Gavin mengambil alih wig dari tangan Helli, membantu wanita itu memasang wig tersebut.


"Kenapa kau mau melakukannya untukku?"


"Karena katamu ini yang ingin kau lakukan. Bebas untuk bersenang-senang. Aku membantumu mewujudkannya."


Tatapan mereka bertemu dan ia melihat kekagetan di mata Helli. Sesungguhnya ia juga kaget dengan apa yang dilakukannya ini. Biasanya, ia bersenang-senang di atas ranjang bersama wanita. Ya, ia akan membujuk teman kencannya dengan memanjakan para wanita itu dengan cara yang memang sedikit nakal. Tapi ia tidak akan pernah melakukan hal murahan seperti itu untuk seorang Helli yang ia sebut dengan tunangan palsu garis miring teman.


"Terima kasih," Helli membisikkan kata-kata itu dan ada kilatan mengerikan yang tampak seperti air mata di mata Helli saat wanita itu mendekat dan menempelkan bibir mereka.


"Belum ada yang pernah melakukan seperti ini kepadaku, terima kasih, Gavin." Helli mundur sembari menerbitkan senyum manis yang sangat menawan.


Gavin lagi dan lagi merasakan hal yang aneh, terguncang oleh emosi yang tidak bisa ia artikan.


"Kau sengaja melakukannya?"


"Melakukan apa?" Helli mengerutkan dahi, benar-benar bingung dengan pertanyaan Gavin yang seperti sedang menuding.


"Menciumku dan hampir membuatku gila."


Helli tergelak, "Kau hampir gila karenaku? Apa kau jatuh cinta padaku?"


"Hah?" Gavin melongo. Jatuh cinta?


"Ingat, kita sedang berkencan. Kecupan di bibir adalah hal yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Ayo, kita berangkat. Kemana tujuan awal kita."


"Kita akan ke taman bermain. Kau bisa bermain sesukamu. Atau kau punya rencana lain, tempat yang ingin kau kunjungi?"


"Taman bermain. Aku suka. Aku belum pernah naik wahana yang ada di sana. Masa kecilku sangat suram. Dan masa sekarangku juga membosankan. Aku akan menikmati ini, Gavin. Semuanya memang selalu ada awal. Terima kasih lagi untuk kesekian kalinya." Dan akan ada akhir juga. Lirihnya dalam hati. "Setelah itu, kita akan kemana?"

__ADS_1


"Menonton. Kau suka."


"Sangat suka!"


__ADS_2