
"Ah, kukira kau sudah pergi,"
Gavin yang memang sedang menunggu Helli sejak dua jam yang lalu di ruang utama segera berdiri begitu mendengar suara gadis itu. Gavin memperhatikan penampilan Helli dari atas ke bawah.
Seperti biasa, Helli tampil memukau, cantik dan luar biasa. Tapi kali ini, Gavin tidak menyukai dress yang dikenakan gadis itu. Mini dress yang tampak anggun Helli kenakan. Berwarna dasar biru. Namun, hanya mampu menutupi setengah paha gadis itu. Helli tahu bagaimana caranya menonjolkan keindahan yang ada pada dirinya.
"Kau berharap aku pergi?"
"Mana bisa aku berharap. Ini rumahmu," Helli berkelakar sambil tertawa.
Gavin tidak merespon. Ia hanya menatap wajah Helli dengan seksama. Helli menantangnya, melakukan hal yang sama.
"Kau akan pergi?"
"Hm," Helli menganggukkan kepala. "Aku hanya menunggu jemputanku datang."
"Pria?"
"Ya."
Gavin menggeram, untuk sejenak keheningan kembali menghinggapi.
"Kekasihmu?"
"Teman kencan mungkin."
__ADS_1
"Kurasa bajumu tidak cocok kau kenakan. Ini terlalu pendek, Helli."
"Modelnya memang seperti ini, Gavin. Didesain untuk memamerkan kaki jenjang para wanita. Termasuk aku yang memiliki sepasang kaki yang indah," Helli mengerling nakal. Untuk menutupi apa yang terjadi tadi malam, Helli mengelabui Gavin dengan berpenampilan dan bertingkah sedikit liar.
"Kau tidak bekerja?" Helli duduk di sofa sembari menumpukan lututnya ke lutut lainnya.
"Aku tidak bisa fokus."
"Kenapa?"
"Apa pedulimu." Sinis pria itu yang membuat Helli sedikit terhenyak. "Addrian mengatakan kau menangis."
Pernyataan Gavin semakin membuatnya tersentak, apa saja yang sudah dikatakan si kaku itu.
"Helli..." Gavin bersimpuh di hadapan Helli. Menggenggam kedua tangan gadis itu, menatap manik Helli dengan lamat dan dalam.
"Aku bertengkar dengan ibuku."
"Lalu?"
"Lalu aku menangis."
"Selain ibumu."
"Maksudmu?"
__ADS_1
Suara klakson mobil membuat perbincangan itu berhenti. Gavin mengumpat lirih.
"Sepertinya teman kencanku sudah datang. Kau juga pergilah. Ajak Mona berkencan." Helli menarik tangannya dari genggaman Gavin.
"Tanpa harus kau suruh, aku juga akan pergi berkencan. Jika kau sangat penasaran dengan hubunganku dan Mona, kami berlibur selama satu minggu ke Sisilia."
"Wah, aku iri mendengarnya." Helli menerbitkan senyum terbaiknya walau hatinya menangis. Bayangan tentang Gavin yang menyentuh Mona membuat dadaanya sesak. "Baiklah, aku pergi. Mungkin tiga hari lagi aku akan pindah."
"Lakukan sesuai inginmu." wajah pria itu mendadak dingin.
Helli segera berlari kecil menuju pintu utama, Gavin mengikutinya. Seorang pria melambaikan tangan begitu melihat Helli. Helli pun menyunggingkan senyum lebar sembari membalas lambaian pria itu. Gavin memperhatikannya dengan mimik datar. Tidak terbaca.
"Jadi, ibuku menyuruhmu menjemput uang?" senyum di wajah Helli menghilang, berubah menjadi dingin begitu mobil meninggalkan pekarangan rumah Gavin.
"Hmm," gumam pria itu singkat.
"Aku tidak mempunyai uang lagi."
"Ibumu akan berurusan dengan rentenir dan polisi kalau begitu. Cepatlah, Helli, berikan uangnya. Aku sedang terburu-buru. Ibumu bisa dalam masalah."
"Hentikan mobilnya," Helli memberikan perintah. Pria itu pun melakukannya sesuai permintaan Helli.
Helli mengeluarkan amplop dari dalam tasnya. "Kau carilah pekerjaan yang benar dan menikahlah dengan wanita yang seusiamu." Helli melemparkan uang tersebut ke atas pangkuan pria itu.
"Akan kuingat nasehatmu, Helli."
__ADS_1
Helli memilih untuk tidak merespon. Ia segera keluar dari mobil. Menghadapi para gigolo ibunya adalah hal yang memuakkan baginya.