My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mesum!


__ADS_3

"Mom, kenapa kau tega. Aku tidak mencintainya! Maksudku, cinta yang kumiliki tidak seperti cinta yang kau pikirkan, Mom," Helli mengigau, kepalanya menggeleng ke kiri ke kanan.


Gavin yang berada di sebelahnya terang saja dibuat terkejut. Pria itu segera menundukkan kepala, memperhatikan wajah Helli yang terlihat begitu memelas. Sebulir air mata keluar dari sudut matanya. Helli terlihat begitu sedih dan tersiksa. Gavin tidak menyukai apa yang ia lihat saat ini. Sejak kapan ia begitu mudah tersentuh? Semenjak bertemu dengan Helli, entah berapa banyak kata sejak kapan yang ia pertanyakan. Gavin seolah tidak mengenal dirinya. Ia bertanya-tanya apakah ia memiliki keperibadian ganda?


Jemarinya terulur mengusap air mata di wajah gadis itu. Gavin menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Helli. Dahi gadis itu mengerut dalam. Ia lagi dan lagi mengusapnya secara perlahan, menghilangkan kerutan tersebut.


"Aku tidak bersalah."


"Tidak ada yang menyalahkanmu," Gavin menyahut igauan Helli.


"Dengarkan aku, dengarkan penjelasanku."


"Dari tadi aku mendengarkanmu, Ms. Flamingo."


"Aku tidak bersalah. Tolong percaya padaku."

__ADS_1


"Aku percaya padamu. Ck! Mimpi apa sebenarnya yang sedang mengusiknya? Helli, bangunlah... Oh, Sial!!" Gavin memaki dengan suara tertahan.


Deringan ponselnya membuat ia kaget sendiri. Siapa yang menghubunginya pagi-pagi buta begini. Gavin hendak mengambil ponselnya, otomatis ia harus mengendurkan pelukan mereka. Namun, saat ia bergerak, Helli justru semakin mempererat pelukan tangannya di perut Gavin hingga kuku gadis itu menancap di perutnya.


"Jangan lakukan itu, kumohon." Helli menggeleng dalam tidurnya. Kembali kerutan di dahi gadis itu muncul. "Tidak, jangan lakukan."


"Aku belum melakukan apa pun, Nona." Bisiknya lembut seraya mengusap kening Helli kembali.


"Aku tidak akan melakukan apa pun tanpa izinmu, jadi tidurlah dengan tenang," jemari Gavin turun ke wajah Helli, menari-narikan ibu jarinya di sana.


"Anak baik harus tidur dengan nyenyak. Hapus semua mimpi burukmu, Helli." Gavin merapatkan tubuh mereka kembali, kini hidung mereka bahkan bersentuhan. "Hapus mimpi burukmu, tidurlah yang tenang, Sayang."


Helli tiba-tiba membuka matanya, Gavin dibuat terkejut, tapi keterkejutannya tidak lantas membuat pria itu menjauhkan diri atau melepaskan pelukannya dari Helli.


"Hai," Gavin justru menyapa dengan konyol.

__ADS_1


Helli mengerjap berulang kali, sepertinya masih terjebak diantara mimpi buruk dan kenyataan. Tangan gadis itu terangkat, terulur ke wajah Gavin. Jemari Helli mengetuk hidung Gavin dua kali dan yang ketiga kalinya, Helli menariknya kuat.


"Akhhh.... Lepaskan, kau bisa membuat hidungku patah, Helli."


"Apa kau baru saja memanggilku sayang? Jangan memanggilku begitu! Aku tidak suka. Itu menjijikkan." Helli melompat keluar dari balik selimut dan berdiri seraya berkacak pinggang.


Reaksi pria normal, tentu saja menyapukan mata ke seluruh tubuh Helli yang terekspos. Ini jackpot bagi para pria. Termasuk Gavin, tentunya. Pria itu menjelajah dengan liar dan bahkan meneguk salivanya dengan kasar.


"Baru kupanggil sayang kau sudah protes. Sekarang katakan padaku bagaimana kau menyembuhkan rasa terkejutku dari pertunjukkan yang kau tampilkan. Mentalku terguncang, Helli."


Libidoku terangsang dan aku tidak berani merayumu, sialan! Kau justru merengek meminta perlindungan!


Menyadari ada yang salah dengan tatapan Gavin, pun Helli mencari sesuatu yang salah itu.


"Arghhh," Helli berteriak histeris begitu menyadari penampilannya. Ia berjongkok, memeluk dirinya sendiri, menutupi apa yang bisa ia tutupi.

__ADS_1


"Dasar tunangan kurang mampu yang minus dalam segala hal! Keluar kau dari kamarku, Mesum!"


__ADS_2