My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Penyuka Pria Matang


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Menghindari masa laluku." Gavin duduk di sebelah Helli. Matanya melirik sekilas tangan Helli yang memijat kakinya.


Jadi bukan hanya aku yang bersembunyi ternyata. Helli membatin. Mendadak ia merasa tenang karena memiliki seorang teman.


Helli tersenyum, "Wanita yang menamparmu? Kurasa kau tidak perlu menghindar lagi setelah melihat istrimu..."


"Dia bukan istriku," Gavin menyela dengan cepat. "Aku belum menikah." Gavin baru menyadari suaranya yang terlalu bersemangat dan akhirnya malu sendiri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, telinganya panas dan merah. Untung saja suasananya temaram, Helli tidak akan melihat perubahan warna di kulitnya. "Dia hanya seseorang yang kukenal, Helli."


"Kau mengenalku. Dua kali kau menyebut namaku."


"Siapa yang tidak mengenalmu, Helli Lepisto. Aku bahkan pernah melihatmu setengah telanjang." Ini saat Helli menjadi model Victoria's Secret. "Ya, Tuhan, kau sangat sekssi." kedua mata Gavin berkilauan, sangat berbahaya.


Helli merasakan jantungnya kembali berdegup liar. Ia merasakan panas dan dingin secara bersamaan. "I-itu sudah lama sekali." Sial, ia merasakan suaranya gugup dan bergetar.


"Kau juga memiliki kaki yang sama indahnya." Gavin memuji kaki Helli tapi tatapannya turun ke dadaa wanita itu. "Dan bagian-bagian tubuhmu yang lain. Aku ingat bahwa aku sangat cemburu dengan orang yang bekerja sebagai sutradaranya, siapa namanya? Calvin Hugo? Dia bisa melihatmu di luar dan di dalam set. Sungguh beruntung."

__ADS_1


Helli merasa seperti sedang dicekik. "Aku tidak ingin membicarakan orang itu."


"Kenapa? Kau malu? Bukankah dia kekasih ibumu yang kau rayu."


Helli semakin mengalami kesulitan dalam bernapas. Tubuhnya seperti sedang dililit oleh ular piton. Dengan susah payah ia merubah topik pembicaraan. "Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita cemburu yang marah-marah."


"Aku juga tidak." Gavin mengangkat kedua bahunya acuh tidak acuh. Tatapannya turun ke bibir Helli dengan ketertarikan yang ditunjukkan secara terang-terangan. Helli pun melakukan hal yang sama. Padat, sensual dan maskulin. Helli mencoba mengingat bagaimana rasanya saat bibir mereka saling menempel. Menyadari pikiran joroknya, Helli menggeleng jijik. Direbutnya gelas dari tangan Gavin dan meneguknya kasar.


"Ah, ini pahit dan panas."


"Kau harus menyesapnya, menikmati sensasi dari setiap tetesnya, Helli." Gavin mengambil gelas itu kembali dan menyesapnya sedikit.


"Tidak sepanjang malam, Helli." Gavin mengerang, menyesal kenapa wanita itu yang ia ajak berkencan beberapa hari lalu.


"Apakah kau pernah menghabiskan semalam penuh bersama wanita?"


"Tidak pernah! Mantraku adalah hingga fajar memisahkan kita. Bagaimana denganmu?" tanpa mereka sadari pembicaraan mereka mengalir begitu saja, layaknya dua orang yang sudah saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


"Aku kurang menyukai komitmen romantis." Rasanya tidak nyaman mengingat beberapa kali ia menyangka seorang pria serius dengannya dan ternyata, pria itu hanya tertarik untuk menjualnya ke pers. Itu menjadi sarana pelatihan yang kejam untuk sebuah kemandirian.


"Ya, dari yang kudengar kau menyukai pria kaya, bukan begitu?"


Helli tergelak, "Ya, aku tidak akan menyangkal untuk hal itu. Aku menyukai pria kaya yang berkuasa. Kau sering mendengar gosip?"


"Ya, gosip selalu mampu membuatku tertawa. Jadi katakan yang sejujurnya, Helli Lepisto, pria seperti apa yang kau sukai? Jika diibaratkan dengan daging, apakah matang, setengah matang atau mentah?"


"Matang. Seperti Glend Vasquez."


Bibir seksii Gavin menyengir membentuk sebuah senyuman berkharisma. "Jangan katakan kau memang penyuka pria tua yang sudah memiliki keluarga."


"Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bersentuhan dengan pria."


"Jadi aku sedang menatap wanita yang sedang putus asa?"


"Kau sedang menatap wanita yang sedang terkendali. Aku tidak ingin lagi diperbudak oleh keinginan impulsifku dan pemikiranku yang naif."

__ADS_1


Kesunyian merebak diantara mereka. Tatapan mereka bertemu di tengah bayang-bayang keteduhan labirin. Gavin menundukkan kepala, mengikis jarak wajah mereka. Dan tiba-tiba mereka mendengar suara.


Terkejut menyadari mereka nyaris berciuman, Helli melirik Gavin yang justru tertawa terbahak. Helli tercabik, antara ingin tertawa dan panik. Ia tidak ingin ada yang memergoki mereka yang nantinya menciptakan sebuah gosip baru.


__ADS_2