
Kruk... Kruk...
Nyanyian memalukan itu terdengar dari perut Helli di tengah kemarahan dan kecemburuan wanita itu pada bayangan para wanita yang sudah disentuh oleh kekasihnya itu. Ah, entah kenapa menyatakan kepemilikan atas nama kekasih terasa sangat benar dan pas.
"Suara apa itu?" Gavin menahan senyumnya. Wajah memberengut Hellli mengurungkan niatnya untuk melepaskan tawa. Bisa-bisa dia diputuskan di hari pertama mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Itu bukan hal yang diinginkan Gavin tentunya.
"Baiklah..." Gavin mengusap kepala Helli lalu menyingkap selimut, turun dari ranjang. "Aku akan mandi dan memasak untuk kita.Tapi omong-omong siapa pria yang menciummu?"
"Pria yang menciumku?" Helli menelan ludahnya, kerongkongannya mendadak kering melihat pemandangan di hadapannya. Wajahnya sontak menghantarkan bara panas yang langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Bagaimana bisa Gavin berdiri dengan santainya di hadapan Helli tanpa merasa risih sama sekali dengan kondisi tubuh yang polos. Dan bagaimana bisa Helli masih terus memandanginya meski merasa malu.
Helli menarik ujung selimut, perlahan Helli turun dari ranjang seraya melilitkan selimut tersebut ke dalam tubuhnya. Helli merotasi ruangan, mencari sesuatu, dan begitu mata indahnya menangkap apa yang ia cari, pun Helli berjalan ke arah benda tersebut.
"Mau ke mana?" Gavin bertanya dan Helli tidak menghiraukannya. "Aku sedang bertanya kepadamu, Helli."
Helli tidak menjawab, ia sedikit berjongkok, memungut celana Gavin lalu membawanya ke arah prianya tersebut.
"Pakailah.." Helli memberikan celana Gavin yang baru ia pungut beberapa saat lalu. Gavin mengerutkan hidungnya, tapi tangannya tetap terulur menerima celananya tersebut. "Aku terlalu tergila-gila kepadamu. Wajahmu yang menawan sudah cukup membuatku kehilangan kendali dan nyaris memohon-mohon kepadamu. Jika kau dengan kejam memamerkan tubuhmu yang indah ini, bukan hanya memohon lagi yang kulakukan, tapi berlutut atau mungkin tiarap."
Hampir-hampir Gavin dibuat tersedak mendengar penuturan Helli yang blakblakan. Wajah Helli menimbulkan bias merah membuat darah Gavin berdesir hebat. Lututnya mendadak kehilangan kekuatan, ia nyaris meluruh dan berlutut. Hei, jantungnya meletup-letup mendengar penuturan nakal Helli yang disampaikan dengan mimik polos dan lugu. Benar-benar perpaduan yang sempurna untuk membuat seorang pria menggila.
"Kau membuatku berdebar," Gavin memegangi dadaanya. "Inikah cara para wanita menghindari pertengkaran? Memuji para prianya dan jujur saja, ini menyenangkan Helli. Aku tahu aku sangat menawan juga mengagumkan, banyak wanita yang sudah melayangkan pujian serupa, tapi rasanya berbeda saat kau yang mengatakannya," Gavin menghapus ruang diantara mereka hingga tidak ada jarak yang tersisa. Dicakupnya kedua pipi kekasihnya itu, lalu diberikannya satu kecupan kilat di bibirnya. "Tapi aku pria yang sangat mudah cemburu, jadi katakan siapa pria itu?"
"Kenakan celanamu terlebih dahulu."
"Kau tidak bisa berkonsentrasi?"
Helli mengangguk, "Ya."
Gavin tergelak, "Baiklah. Putar badanmu, aku akan mengenakannya."
__ADS_1
"Kenapa aku harus berbalik? Aku sudah melihat semuanya."
"Pengintip!" Gavin terkikik seraya mengenakan celananya. "Selesai. Sekarang aku menunggu penjelasannmu?"
Mereka berdua kembali duduk di tepi ranjang. Acara sarapan ditunda untuk sementara waktu. Ada hal yang lebih penting daripada memuaskan rasa lapar, yaitu menuntaskan kecemburuan.
"Aku tidak tahu pria yang kau maksud." Dan Helli jujur dengan apa yang ia katakan. Ini sedikit membingungkan sebenarnya. Ia tidak pernah berkencan dengan pria mana pun selain Gavin. Tapi entah bagaimana Addrian mengarang cerita itu. Helli harus berterima kasih pada pria itu karena memiliki andil terhadap hubungannya dengan Gavin.
"Pria yang berciuman denganmu?"
"Aku sungguh tidak mengetahuinya. Seingatku, satu-satunya pria yang berkencan denganku hanya kau. Kecuali saat sedang syuting kemari. Ada beberapa adegan yang mengharuskan aku berkencan dengan pemainnya..."
"Sial! Aku tidak memikirkan hal itu." Gavin menyela. Kenapa ia tidak memikirkan kemungkinan itu. Diambilnya ponsel miliknya untuk melihat foto yang dikirimkan Addrian kepadanya. Benar saja, setelah ia perhatikan dengan seksama, pria itu adalah lawan main Helli di film yang sedang wanita itu bintangi.
"Kau lapar? Ayo tunjukkan dapurnya," Senyum menawan ia persembahkan untuk Helli. "Kau juga kenakan pakaianmu terlebih dahulu... Ah, kurasa sebaiknya kita mandi terlebih dahulu." Dengan satu gerakan gesit, Helli sudah berada di dalam gendongannya. Membawa gadis itu ke dalam toilet.
"Aku senang saat kau memasak untukku," Helli memeluk Gavin dari belakang, menempel layaknya cicak sejak mereka memasuki dapur.
"Dan aku senang merawatmu," sahut pria itu sambil mengocok telur. Hanya ada roti dan telur di sana. "Harusnya dari awal aku menyadari perasaanku. Aku tidak keberatan bangun pagi hanya untuk memastikan perutmu terisi dengan benar. Aku bukan pria yang mau direpotkan dengan perkara seperti ini."
"Oh, Gavin, aku merasa terharu dan tersanjung."
"Ya, memang itu yang harus kau lakukan agar kau lebih mencintaiku."
"Aku akan menemukan diriku semakin mencintaimu tiap detik Gavin Vasquez! Astaga, Vasquez memang sangat cocok disematkan pada nama belakangmu. Dan kau tahu, aku akan semakin, semakin, semakin mencintaimu setelah mengetahui jika kau adalah seorang Vasquez," Helli mempererat dekapannya, membenamkan wajahnya di punggung lebar pria itu sembari menggesek-gesekkan hidung mancungnya di sana.
Gavin tergelak, ia tahu tidak ada kebohongan dalam ucapan wanitanya itu.
"Apa pelukanku membuatmu kerepotan?" Tanya Helli saat Gavin berjalan penuh hati-hati hanya untuk mengambil roti untuk dipanggang. Helli masih saja menempel di punggungnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku senang saat kau dekat denganku. Aku hanya tidak ingin kau kesulitan menyamai langkahku. Kau suka mentega yang banyak atau sedikit?"
"Sedikit,"
Gavin mulai mengoleskan mentega sesuai permintaan Helli. Memanggang, lalu menyajikannya dengan telur orak arik buatannya. Keduanya siap menyantap sarapan yang ala kadarnya.
"Setelah ini, kita harus bagaimana?" Helli bertanya di tengah kunyahannya.
"Kita akan berkunjung ke rumah sakit lalu berkunjung ke rumah keluargaku."
"Untuk apa ke rumah sakit?"
"Mengunjungi ibumu."
Helli menggeleng, "Ibuku menolak untuk melakukan perawatan di rumah sakit."
Ya, saat Helli menebus obat tersebut, ia yang menyadari perubahan fisik ibunya dibuat penasaran dengan sakit apa yang sedang dialami sang ibu. Pun ia bertanya dan sangat kebetulan sekali, dokter yang menangani Lonela lewat. Dokter tersebut membawa Helli ke dalam ruangannya dan memberikan hasil test sang ibu. Lonela ternyata sudah mengidap penyakit mematikan itu sejak satu tahun yang lalu.
Kemunculan Lonela ke lokasi syuting meminta uang untuk pengobatannya. "Kami juga bertengkar setelah aku bertanya tentang penyakitnya. Entah karena ia merasa malu atau bagaimana,"
Helli masih ingat saat ibunya melontarkan kalimat yang cukup mengejutkan bagi Helli. "Kau mungkin senang bukan? Aku akhirnya mendapat karma karena sudah menelantarkanmu, tapi Helli, aku tidak menyesal sama sekali karena kelahiranmu memang tidak pernah kuharapkan," kata-kata kejam itulah yang ibunya ucapkan sebelum pergi meninggalkan Helli.
Gavin mengulurkan tangan, menyentuh tangan Helli, menggenggam dan mengusapnya dengan lembut. "Kita akan membujuknya kembali."
Helli mengangguk, "Kalau begitu kita akan bertemu keluargamu terlebih dahulu."
"Jangan melayangkan tatapan memuja kepada ayahku. Aku bisa cemburu."
"Permintaanmu sangat sulit, Gavin. Tapi, aku akan berusaha."
__ADS_1