
Gavin merasakan pusing yang luar biasa. Kesadarannya dipaksa kembali saat desakan dari dalam perutnya meronta ingin dimuntahkan. Menyingkap selimutnya, Gavin berlari ke dalam toilet, memuntahkan semua isi perutnya.
"Alkohol sialan!" desisnya.
Dibasuhnya wajahnya dengan kasar sebelum keluar dari dalam toilet. Rasa pening itu masih tersisa. Terkadang ia heran melihat beberapa temannya yang mampu mentolerir alkohol di tubuh mereka tanpa kehilangan kewarasan. Gavin mengerutkan hidungnya saat menyadari jika dirinya berada di rumahnya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh yang terjadi, tapi otak dan memorinya tidak bisa mengingat hal itu.
Gavin merotasi kamarnya, mencari petunjuk tentang apa yang terjadi saat ia mabuk. Meski kepalanya menyisakan pening, Gavin tidak merasakan hal serupa pada tubuhnya yang ringan. Ia merasa puas, tapi tahu apa yang menyebabkan kepuasan yang ia dapatkan tersebut.
Gavin duduk di tepi ranjang, masih mencoba mengingat apa yang sudah ia lewatkan. Sumpah demi apa pun, tidak ada satupun yang ia ingat kecuali saat ia bersama Addrian.
Gavin berdiri, memungut pakaiannya dan mengenakannya secara asal. Ia keluar dari kamar menuju kamar Helli. Saat ia membuka kamar tersebut, ia tidak menemukan Helli di sana. Ia kecewa. Ini sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu.
Gavin segera turun ke bawah. Moodnya rusak saat tidak menemukan Helli. Bukankah Addrian mengatakan syuting sudah selesai. Lalu kemana Helli pagi-pagi begini?
Ponselnya berdering saat ia berada di pertengahan anak tangga. Ia mengeluarkan ponsel dalam kantongnya. Mona lah yang menghubunginya. Gavin segera menggulir tombol hijau.
"Ya, Mona." ucapnya begitu panggilan tersambung.
Gavin pun terus melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia bernapas lega begitu melihat sosok yang sangat ingin ia lihat. Di sana, di depannya, Helli sedang berjinjit hendak mengambil mangkuk yang diletakkan di tempat yang cukup tinggi. Tanpa menimbulkan suara, ia mendekati gadis itu. Mengulurkan tangan mengambil apa yang dibutuhkan Helli.
"Arghh..." Helli memekik kaget hingga punggungnya membentur da-daa Gavin dan bibir Gavin mendarat di kepalanya.
__ADS_1
"Hati-hati, Helli."
"Kau mengagetkanku!" Helli refleks memutar tubuhnya dan menemukan dirinya terperangkap. Gavin meraih pinggangnya saat gadis itu hendak mundur karena tersentak.
"Kau bersama Helli?" Terdengar pertanyaan dari seberang telepon.
"Ya, aku akan menghubungimu nanti, Mona." Gavin memutuskan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya.
"Apakah Mona yang menghubungimu?"
"Hmm. Selamat pagi, Helli."
Gavin pun menuruti ingin Helli. Pria itu memberikan mangkuk yang hendak diambil gadis itu tadi.
"Lama tidak bertemu."
"Hm, kita sama-sama sibuk."
Aku sibuk melupakan dirimu. Kau sibuk mengejar cintamu.
"Merindukanku?" Gavin menarik kursi agar Helli duduk.
__ADS_1
"Secuil," aku gadis itu sembari mendudukkan dirinya di kursi yang ditarik pria itu untuknya. "Bagaimana kondisimu? Kau mabuk. Aku tidak tahu apa obat pereda rasa mabuk. Tapi aku membuat teh jahe untukmu. Minumlah."
Gavin menatap minuman itu sesaat sebelum menyesapnya. "Helli..."
"Hmmm?"
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh."
Deg! Jantung Helli berdegup tidak karuan.
Jangan katakan jika Gavin mengingat kejadian tadi malam. Aku akan dianggap gadis murahan yang rela menyodorkan diri begitu saja. Tidak. Gavin tidak boleh mengingat hal tersebut.
"Sesuatu yang aneh?"
"Apa semalam kau masuk ke dalam kamarku?" Gavin menangkap gurat ketegangan di wajah Helli yang salah ia artikan. "Maaf Helli, maksudku, apa semalam kau mengalami gangguan tidur?"
Aku bahkan tidak tidur sama sekali.
"Tidak. Gangguan tidurku hanya akan kumat jika aku dalam keadaan tertekan." Bohong Helli.
Gavin menatapnya dengan seksama dan hal itu membuat Helli tidak nyaman. Pria itu seakan sedang menelannjanginya. Tubuh Helli bereaksi, sentuhan tangan Gavin di kulitnya masih meninggalkan rasa yang teramat nikmat. Helli tidak ingin melupakan hal itu. Gavin menyentuhnya sambil menyebutkan namanya. Bukan nama wanita lain. Biarkan Helli mengingat momen itu.
__ADS_1