
"Apa isinya ini? Kenapa berat sekali."
"Semua ada di sana." Helli menjawab enteng. Ia juga tidak ingin berdebat di pagi hari ini. Jadi, saat Gavin memintanya untuk ikut mobil pria itu, ia tidak menolak.
Helli membuka mobil dan memberi ruang kepada Gavin untuk memasukkan barang-barangnya.
"Nicky, Lea, Derry, Noel, kita akan bertemu di lokasi. Aku akan berangkat bersamanya." Keempat wanita itu serempak mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.
Gavin dan Helli berjalan menuju mobil pria itu. Gavin membuka pintu untuknya, Helli mendelik, menatap pria itu penuh curiga.
"Ini bagian dari permintaan maafku atas sikapku yang kasar tadi malam. Maafkan aku."
Helli tertegun, tidak menyangka jika Gavin akan meminta maaf padanya.
"Masuklah, kita bisa terlambat jika kau terus memandangiku seperti itu. Apa kau mulai merasa bahwa aku sangat menawan?"
"Kau memang menawan," tandas Helli loyo. Pun ia segera masuk ke dalam mobil, tidak melihat ekspresi kaget di wajah Gavin.
"Ini, makanlah." Gavin memberikan sekotak bekal.
"Selama menjadi tunanganku, kau tidak boleh kelaparan. Jika kau takut gendut, kita bisa work out bersama. Aku ahli membuat para wanita berkeringat," ucapnya ambigu diselingi dengan lirikan mata nakal.
__ADS_1
Tapi sepertinya Helli tidak mengerti apa yang dikatakannya, wajah wanita itu tampak tenang dan malah sibuk membuka kotak bekal pemberian Gavin.
Helli tersenyum manis melihat isi bekal tersebut. Layaknya makanan anak kecil, dibentuk sedemikian lucu dan menggemaskan.
"Dulu, aku sangat menginginkan bekal seperti ini. Aku suka iri pada mereka yang bisa bersekolah dan membawa bekal yang menggemaskan seperti ini. Apa kau yang membuatnya?"
"Tidak. Adikku yang membuatnya."
Helli tampak kecewa saat mengetahui bukan Gavin yang membuatnya secara khusus.
"Sementara aku menjalankan mobil, kau nikmatilah sarapanmu."
"Ini terlalu lucu, aku tidak tega menghancurkannya."
Senyum di wajah Helli kembali terbit. Ia meraih botol susu itu dan meneguknya secara perlahan.
"Kau harus menemaniku berolah raga jika berat badanku melonjak."
"Ya. Itu bisa diatur. Kau sudah memaafkanku?"
"Ini sogokan?"
__ADS_1
"Ini service yang bisa dilakukan seorang tunangan berbakti."
"Omong-omong, kau meminta maaf untuk apa? Aku tidak ingat kau berbuat kesalahan."
"Jika kau tidak ingat, ya sudah, lupakan saja. Bagaimana sarapannya? Enak tidak?"
Helli hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dan rasanya memang seenak itu. Ini bekal pertama yang dibuat secara khusus untuknya. Andai rasanya lebih buruk dari empedu, ia tetap akan menikmatinya hingga suapan terakhir. Untungnya, bekal buatan adik Gavin sangat enak.
"Apa adikmu seorang koki?"
Gavin menoleh sekilas, sedikit bingung dengan pertanyaan yang menurutnya aneh. Namun, saat melihat bekal mulai kosong, ia mengerti jika Helli menyukai makanannya.
"Adikku seorang pengangguran. Ibuku lah yang memasaknya. Tugas adikku hanya membentuknya sedemikian rupa."
"Kau memiliki Ibu?"
"Kau pikir aku lahir dari mana? Ah... Aku memang terlihat seperti dewa. Tapi dewa sekalipun tetap terlahir dari rahim seorang ibu."
"Aku tidak tahu jika kau masih memiliki ibu." Helli mengabaikan banyolan konyol pria itu. Suaranya juga berubah sendu. "Kau juga bahkan memiliki seorang adik. Pasti hidupmu sangat sempurna."
"Kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa," jawab Gavin sok bijak. Yang ia katakan memang sangat benar 1000 persen. Tapi entah kenapa saat seorang Gavin yang melontarkan kalimat bijak tidak terbantahkan itu justru terdengar sangat menyebalkan.
__ADS_1
"Bangunkan aku kalau sudah sampai di lokasi," tanda Helli sembari memejamkan matanya. Artinya, percakapan mereka cukup sampai di sana.