My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Mengirim Sinyal


__ADS_3

"Mr. James menaruh harapan besar kepadamu." Mr. Kraby menyorotnya dengan tatapan tidak suka. Tapi percayalah, Helli lebih menyukai cara pria itu menatapnya dibanding cara Mr. James. "Kami menginginkan publisitas. Publisitas yang bagus tentunya. Kami tidak ingin masa lalumu terkuak kembali."


Helli menarik napas panjang. Kesalahan-kesalahannya dulu memang diungkap terlalu blakblakan hingga tidak ada yang tidak mengetahui reputasinya. Ms. Scandal mendadak sebutan itu memang pantas disematkan padanya.


"Masa laluku bukan urusan siapa-siapa kecuali urusanku sendiri." Namun, selalu melekat padanya seperti kotoran yang tidak bisa ia gosok bersih. "Aku akan bersikap dan bertingkah baik, tidakkah kau melihat usahaku, aku bahkan tidak menyentuh sampanye sama sekali."


Mr. James tertawa renyah, "Minuman bisa membuatmu rileks, minum lah sedikit." Pria itu mengusap punggungnya yang membuat tubuh Helli tegang seketika.


Mr. Kraby berdehem, kembali Helli merasa bersyukur akan hal itu. Mr. James menyingkirkan tangannya dengan segera.


"Ingat, tugasmu adalah berbaur dengan orang-orang penting, bukan tebar pesona untuk merebut perhatian pria yang ujungnya merajut cinta denganmu. Kisah cintamu yang berantakan tidak ada di dalam set filmku."


Tadinya Helli mengira jika Mr. Kraby adalah pria tua yang membosankan. Ternyata Mr. Kraby adalah pria yang masih terbilang muda. Ya, dia memang membosankan dan sikapnya yang dingin membuat Helli justru merasa aman dengan pria itu. Setidaknya pria itu tidak berpura-pura di hadapannya.


"Jadi, siapa orang yang paling penting di sini? Beri aku arahan dan aku akan membuatnya terkesan."


"Semua. Semua tamu di pernikahan penting. Mereka sudah penasaran ingin berbicara denganmu. Helli Lepisto akhirnya kembali dari pengungsian. Mereka ingin tahu detailnya dan selentingan gosip sudah berdengung. Tidak ada wawancara sampai aku memperbolehkan."

__ADS_1


"Tidak masalah." Sahut Helli singkat.


"Mereka akan berusaha. Lagi pula, ada apa denganmu, kenapa kau memecat ibumu?"


"Aku memecatnya sebagai manajer, dan kebetulan ibuku lah manajerku saat itu."


"Orang memiliki ketertarikan dengan caramu menghancurkan hidupmu sendiri."


Helli hanya bisa menggigit bibir bawahnya, kepedihan itu datang kembali dan ia berusaha mendorongnya.


"Jangan terlalu menekannya, Mr. Kraby."


"Inilah caraku untuk membuat film ini sukses, Mr. James." senyumnya tampak dingin.


"Apa kesibukanmu selama beberapa tahun terakhir?" Mr. James mengubah topik pembicaraan.


Helli memendarkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat Gavin yang sedang berjalan dengan seorang wanita cantik yang sedang hamil, lalu detik berikutnya ia melihat Violet datang menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria itu. "Aku berusaha bersembunyi agar tidak menarik perhatian."

__ADS_1


"Jadi ini penampilan publik pertamamu sejak kau menghilang," tanya pria itu kembali. Helli hanya menganggukkan kepala. Perutnya berbunyi, ia semakin merasa lapar.


"Aku penasaran, kemana tepatnya kau menghilang selama ini, Lily?"


Tubuh Helli tegang seketika. Refleks ia menoleh ke belakang. Calvin Hugo berdiri tepat di belakangnya. Mimpi buruk. Ini mimpi buruk. Helli merasakan kakinya gemetar di bawah sana. Apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Kau di sini rupanya." Helli kembali dibuat tersentak. Ia menoleh kembali, Gavin sudah ada di sana. "Kau harus menjelaskan apa arti ucapanmu tadi. Adrian, aku ada urusan dengannya sebentar." Dengan entengnya Gavin menarik tangan Helli setelah meminta izin kepada Mr. Kraby, membawa gadis itu keluar


Helli mengembuskan napas panjang begitu mereka sampai di taman. Ia merasa lega. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus berakhir duduk satu meja dengan salah satu mimpi buruknya.


"Omong-omong apa yang harus kujelaskan?"


"Terima kasih. Harusnya itu lah yang kau ucapkan, Nona."


"Untuk?"


"Untuk pertolonganku. Bukankah kau mengirimkan sinyal melalui matamu yang indah itu agar aku datang menyelamatkanmu. Atau itu hanya modus agar kau bisa berduaan denganku." Gavin dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. "Kau selalu menatapku, aku tahu aku menawan. Biasanya aku tidak peduli dengan tatapan para wanita di dalam sana. Tapi tidak denganmu, aku terusik."

__ADS_1


"Bualan macam apa ini? Apakah satu tamparan belum cukup?" Ya, ia melihat saat Violet melayangkan tamparan pada wajah pria di hadapannya itu. "Istrimu sedang hamil. Bekerja lah yang becus agar kau memiliki biaya untuk kehidupan anakmu demi masa depan cemerlang."


__ADS_2