My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Jalan Damai


__ADS_3

"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," Grace membungkukkan badannya untuk ketiga kalinya di hadapan pria yang menatapnya tanpa minat, malah terkesan jengkel.


Pria itu masih diam membisu, memang tidak berniat menanggapi permintaan maaf gadis berambut pendek yang masih mengenakan seragam kriketnya. Tangannya sibuk memegang es dan mengompres benjol di kepala, hadiah kemenangan dari Grace dan jika ia boleh berkata sungguh ia sangat marah. Persetan dengan kemenangan gadis itu. Apa tidak ada selebrasi yang lebih gila dari sekedar melempar bola ke arah penonton.


Apes, benar-benar apes. Dia sudah begadang selama tiga hari berturut-turut dan saat ia ke rumah dari perjalanan bisnisnya, ia mengira bisa menggunakan waktunya beberapa jam untuk tidur sebelum menghadiri rapat di perusahaan. Keinginannya itu menguap begitu mendapat panggilan dari sekolah yang mengatakan jika putrinya membolos dan sedang pergi menyaksikan pertandingan kriket. Dan petaka itu pun terjadi saat dia melihat bola melayang ke arah putrinya.


"Sekali lagi saya mohon maaf. Saya akan membayar tagihan Anda."


Kali ini Grace meminta maaf dengan bahasa yang lebih formal. Saat ia kembali membungkuk, pintu ruangan dibuka, Gavin dan Helli muncul di sana.


Pria yang mengalami benjol itu menatap datar ke arah Gavin dan Helli.


"Dimana Da,- di mana Mr. Vasquez?" Gavin bertanya kepada adiknya.

__ADS_1


"Sudah pulang. Aku meminta agar dia menurunkanku di sini. Dia tidak perlu menemaniku. Aku bisa mengatasi masalahku."


"Oh ya? Kau terlihat seperti sedang membual," Gavin melayangkan tatapan meledek kepada adiknya yang dibalas Grace dengan mencibikkan bibirnya.


"Mr. Lawrence, saya meminta maaf dengan apa yang terjadi. Ini sungguh sangat disayangkan tapi saya bisa menjamin jika itu adalah unsur ketidaksengajaan. Kebetulan sekali jika Anda adalah objek yang menjadi sasaran bola kriket sialan itu. Saya yakin rasanya pasti sakit luar biasa. Mohon maaf, Mr. Lawrence."


"Kau mengenalnya?" Helli dan Grace berbisik di masing-masing telinganya. Gavin berdecak, dan kedua gadis itu pun kompak menjauhkan diri dari telinganya.


"Aku tidak mengerti kenapa melempar bola ke arah penonton itu sangat penting. Kuharap gadis itu mengganti caranya melakukan selebrasi. Bagaimana jika bola itu mendarat di kepala putriku?"


"Bolanya tepat sasaran, Dad. Bolanya mencium kepalamu." Celetukan itu terlontar dengan enteng tanpa menoleh kepada orang-orang dewasa yang sedang berunding untuk mengajukan perdamaian.


"Kau akan mendapatkan hukuman setelah ini," pria itu melayangkan ancaman kepada putrinya. "Usiamu masih 11 tahun, bagaimana bisa kau berkeliaran di luar dan sampai ke pertandingan?"

__ADS_1


"Aku memiliki tiketnya," sahut gadis itu enteng. Untuk pertama kalinya gadis itu menoleh dan wajah cantiknya seketika bingung melihat kehadiran Gavin dan Helli di sana. Gadis itu tidak menyadari sebelumnya.


"Helli Lepisto?"


Manik Helli membola, gadis kecil itu mengenalnya?


"Aku benar! Kau Helli Lepisto, bukan?" Gadis itu melompat dari atas bankar, melangkah lebar mendekati Helli. "Wuah! Kau memang Helli Lepisto!! Dad, aku benar, bukan? Gadis ini sangat mirip dengan poster di kamarmu!"


Pria itu terbatuk-batuk, sementara Gavin menatap tidak suka.


Dia rupanya pengagum tunanganku!


"Ya, dia memang Helli Lepisto." Grace lah yang menjawab keraguan gadis itu. Grace segera menggandeng tangan Helli. "Kau menyukainya? Ingin tanda tangannya?"

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, "Ya, ya, aku menginginkannya. Aku akan mengambil bukuku, tunggu sebentar."


"Eitss, kau tidak bisa mendapatkan tanda tangan jika ayahmu belum memaafkanku."


__ADS_2