My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Kendali Diri


__ADS_3

Set film penuh sesak dengan orang-orang ketika mereka sampai di lokasi. Gavin tadinya berniat hanya mengantar Helli dan langsung bertolak pergi. Tapi, melihat wajah polos Helli yang mendadak pucat, membuatnya mengurungkan niat tersebut. Gavin segera memarkirkan mobilnya di zona dilarang parkir.


"Kau baik-baik saja?"


Ia baru menyadari jika di bawah mata gadis itu ada bayangan gelap yang menandakan Helli kurang tidur atau mungkin terjaga sepanjang malam.


Helli menoleh, ekspresinya kosong, "Kau mengatakan sesuatu?" suara Helli gugup dan bergetar.


Melihat kerapuhan di wajah wanita itu membuat Gavin ingin menarik Helli ke dalam dekapannya. Astaga, reaksi macam apa ini?


Ia memalingkan wajah, menatap ke depan, melihat penyebab ketegangan wanita itu sedang mengintai di sana. Seperti seorang singa yang menanti seekor kelinci yang terluka.


Calvin Hugo. Pria tua itu segera beranjak dari posisinya. Gavin tahu jika Calvin melihat wajah pucat Helli, pria itu akan merasa menang karena menemukan korban yang sangat potensial.


Sambil mengumpat pelan, ia membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil. Ia mengitari mobil, membuka pintu penumpang. Tangannya terulur mengelus pipi Helli dengan bagian belakang jemarinya.


"Kau tampak kacau dan pucat. Seingatku, ini film tentang gairah pria tua, bukan film tentang vampir. Kuharap divisi rias wajah di film ini bagus untuk menyamarkan kekacauan di wajahmu."


"Astaga, bagaimana aku melupakan rias wajah," Helli kembali ketakutan. Gavin tampak berpikir, ia mengetukkan jemarinya di jok yang diduduki Helli.


"Harusnya aku menerima tawaranmu saat mengajakku tidur."


Helli terkejut mendengar penuturan Gavin yang tiba-tiba.


"Aku ingin melihat seliar apa seorang Helli Lepisto di atas ranjang. Kulihat sepertinya kau terjaga sepanjang malam. Apa kau tidak bisa tidur karena aku menolak keinginanmu?"

__ADS_1


"Kau kira aku sangat menginginkanmu?"


"Tidak usah malu-malu. Aku memang tipe pria yang sulit untuk ditolak, Helli."


"Wanita di luar sana mungkin memang tidak kuasa menolakmu. Tapi wanita itu bukan aku." Dua semburat merah menghiasi tulang pipinya karena marah. Gavin tersenyum. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Keluarlah, lupakan rias wajah, kau tidak memerlukannya lagi. Kau sudah siap untuk bertempur." Ya, Gavin sengaja membuatnya marah untuk menghilangkan pucat di wajahnya.


"Siap untuk apa? Siap untuk membunuhmu?"


"Beberapa menit yang lalu, wajahmu tidak ada bedanya dengan keju mozzarella. Sekarang kau terlihat seperti manusia. Amarah adalah perona pipi alami yang instan. Turunlah, hadapi apa harus kau hadapi dengan berani." Sambil merangkul pinggang Helli, Gavin menuntunnya turun.


"Jangan pernah menunjukkan ketakutanmu. Pergi dan berjuanglah."


"Kau sengaja membuatku marah?"


"Ada yang datang untuk menyambutmu, mungkin bukan orang yang kau harapkan. Tapi begitulah kehidupan. Terkadang tidak sejalan dengan yang kita inginkan. Ah, Calvin Hugo, kudengar kau kalah lagi dalam ajang F1 minggu lalu."


Calvin mengabaikan Gavin, matanya langsung menyoroti Helli, layaknya elang yang melihat bayi ayam.


Gavin melirik melalui ekor matanya, untungnya Helli terlihat tenang. "Selamat siang, Mr. Hugo."


"Lily sayang, akhirnya kita bertemu lagi."


"Namaku Helli,"

__ADS_1


"Aku tidak mentolerir pria lain merayu wanitaku, Calvin. Dan sepertinya wanitaku tidak suka dengan caramu memanggilnya. Berhentilah memanggilnya dengan panggilan sayang dan panggilan intim lainnya. Aku tidak seperti pecundang yang ada di set flim-mu yang memaafkan dan melupakan."


Gavin merangkul pundak Helli dengan posesif. Tatapannya melekat pada wajah pria tua yang ada di hadapannya itu, jelas-jelas menantang. Gavin membayangkan saat Helli berusia belia, dan ia tidak suka dengan apa yang ia pikirkan.


Calvin tergelak, "Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik, terlepas dengan masalah pribadi yang ada diantara kita." Calvin seolah menelanjangi Helli dengan kalimat yang diucapkan pria itu.


"Helli aktris yang berbakat. Kurasa kau jauh lebih tahu soal itu."


Calvin mengangguk, "Ya, dia selalu menerima arahanku dengan baik. Merespon apa yang kulakukan." Gavin tahu ada makna tersirat di setiap ucapan pria itu. Makna yang negatif tentunya.


Ia merengsek maju, hendak melayangkan bogeman ke wajah pria itu. Tapi cengkraman di tangannya membuatnya mengurungkan niat tersebut.


"Aku bisa mengatasinya," Ucap Helli.


Gavin mengangguk, "Baiklah, aku akan menjemputmu nanti."


Sebelum Helli memberikan jawaban, Gavin memegangi wajah wanita itu dan mencium bibirnya dengan lambat, lembut dan penuh hati-hati. Ciuman itu sengaja dipamerkan untuk pria tua di hadapan mereka. Tapi begitu bibir mereka saling menyentuh, Gavin justru menemukan dirinya tenggelam dalam gairah. Gavin menciumnya penuh hasrat tatkala Helli memberi akses kepadanya. Gadis itu bahkan membalas ciumannya. Semuanya terlupakan, seolah tidak ada orang di sekitar mereka. Hingga bunyi klakson mobil menyadarkan keduanya.


Helli terkejut dan sontak menjauhkan diri. Gavin menatap manik indah wanita itu dan juga menemukan dirinya yang tercermin di sana. Kebingungan.


"A-aku harus bekerja,"


Helli mengangguk, "A-aku juga."


Suara Helli serak dan Gavin terguncang oleh hasrat yang cukup besar. Ingin rasanya ia menarik Helli dan menciumnya kembali. Tapi yang ia lakukan justru berjalan mundur hingga menabrak seseorang.

__ADS_1


"Perhatikan kemana kau berjalan!" hardik Calvin Hugo. Pria yang Gavin tabrak.


Alih-alih menyahuti pria itu, Gavin melompat naik ke dalam mobil. Ia tidak pernah mengingat kapan ia begitu di luar kendali karena seorang wanita hingga tidak tahu tempat dan waktu. Jawabannya tidak pernah.


__ADS_2