My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Awal Karir


__ADS_3

"Mom, apa sebenarnya pekerjaanmu?" Helli menodong ibunya dengan pertanyaan tersebut saat ibunya baru pulang di jam empat pagi hari.


Lenola melirik sekilas, lalu melangkah mengabaikan Helli dan pertanyaannya. Lenola melepaskan sepatunya, melempar tas begitu saja lalu merebahkan tubuh di atas karpet.


"Mom, aku sedang bertanya padamu."


"Aku lelah."


"Menjawab pertanyaanku tidak akan membuatmu kehilangan banyak tenaga seperti saat kau melayani nafsu para pria hidung belang itu."


Lonela menyorotnya dengan tajam, namun detik selanjutnya wanita itu tertawa. "Kau mengikutiku?"


"Ya," Jawab Helli berterus terang.


"Lalu kenapa kau bertanya disaat kau sudah menyaksikan dan melihatnya langsung."


"Itu menjijikkan! Yang kau lakukan itu menjijikkan, Mom!"


Lonela kembali tertawa. "Tidurlah, kau berisik sekali."


"Aku ingin kau berhenti bekerja. Aku ingin kau lebih banyak membaca kitab suci bukan menabur dosa setiap waktu, Mom."


"Ciih... kau benar-benar berisik."


"Mom,"


"Diamlah, Helli. Jangan mengurusi apa yang kulakukan di luar sana. Urus saja dirimu sendiri. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, bukankah itu yang kau inginkan. Kau bahkan tidak bersedia menerima sejumlah uang dari keluarga Griffin hanya untuk tidak bersedia datang sebagai saksi dan sekarang kau merasa berhak mengurus hidupku. Siapa kau?"


"Aku putrimu, Mom."

__ADS_1


"Putri yang tidak pernah kuharapkan sama sekali. Tidurlah!"


"Mom, aku terluka jika kau mengatakan begitu."


"Ck! Hidup ini keras, Helli. Jangan sentimen begitu. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Itu agar kau tidak berharap kepadaku. Tidak bertanya-tanya tentang kenapa aku tidak peduli padamu. Jangan bermimpi seperti orang-orang di luar sana. Di mana seorang ibu sangat dekat dengan putri dan anak-anaknya. Aku bukan tipe ibu yang seperti itu karena kehadiranmu saja tidak pernah kuharapkan, Nak." Lenola menyeringai sinis.


"Ja-jadi ayahku?"


"Ayahmu?" Lenola memasang wajah bingung yang dibuat-buat.


"Ayahmu? Kau menginginkan ayah yang seperti apa? Ah, aku juga bosan mendengarmu merengek meminta ayah. Bukankah kau sudah lama menghentikan tabiat burukmu itu?"


Ya, saat Helli kecil, ia selalu menanyakan keberadaan ayahnya, lalu ibunya membentaknya bahkan tidak jarang memukulnya atau bahkan mengancam Helli kecil untuk dibuang. Sejak itu, Helli bungkam menanyakan hal itu hingga malam kemarin membuat pertanyaan itu kembali bersemayam di hatinya.


"Ayahmu sangat banyak, Sayang. Banyak benih dalam pembentukanmu. Kau bisa memilih siapa saja yang kau inginkan untuk menjadi ayahmu. Sekarang, aku hendak tidur, diamlah!" Lenola segera memejamkan matanya. Dan Helli pun hanya bisa bergeming memandangi wajah ibunya. Ia terkejut akan pernyataan hina yang terlontar dari mulut ibunya. Kesimpulannya, ibunya tidak mengetahui siapa ayah biologisnya karena terlalu banyak pria yang menjamah ibunya. Tidak salah lagi jika ia terlahir dengan cara yang begitu kotor.


"Lalu, kenapa kau melahirkanku, Mom?"


Daripada bertanya lebih lanjut yang justru akan membuat hatinya lebih sakit lagi. Helli memutuskan untuk diam. Ternyata selain lahir dari perbuatan hina dan kotor, ia juga anak yang tidak pernah diharapkan sama sekali.


"Atau kau ingin kujajakan, Helli? Kau masih perawan? Pasti kita akan mendapatkan banyak uang."


Oh Tuhan, adakah ibu seperti ini?


Helli memilih tidak menanggapi. Ia segera merebahkan diri dan memunggungi ibunya. Menangis dengan suara tertahan, bertanya kepada Tuhan, kenapa dan kenapa?


Helli pun tertidur dalam keadaan menangis.


Keesokan paginya, Helli bangun dan segera pergi setelah meletakkan satu potong roti dan satu kotak kecil susu. Ia akan mencari pekerjaan. Berharap ia mendapatkan pekerjaan yang bisa memberikannya gaji seperti yang diharapkan sang ibu.

__ADS_1


Setelah hampir tiga jam berkeliling, Helli tidak berhasil mendapat pekerjaan sama sekali. Bahkan hanya untuk sekedar cleaning service, ia harus memiliki sebuah ijazah.


Helli berhenti di sebuah halte. Helli mengibaskan tangannya di depan wajah, mengusir penat dan dahaga. Tergoda untuk membeli sebotol air mineral, tapi uangnya hanya bersisa beberapa dollar. Satu dollar bahkan tidak sengaja ia temukan saat berjalan. Helli memutuskan untuk menahan dahaganya. Ia harus mengumpulkan uang untuk ibunya. Kepalanya mendongak, menatap billboard yang menayangkan sebuah wawancara. Pria setengah baya yang sangat menawan. Helli tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pria itu. Senyum dan tatapan pria itu begitu lembut dan hangat. Di sampingnya ada seorang gadis yang ia tolong beberapa waktu lalu. Grace O'neila Vasquez.


"Oh, ternyata mereka sangat kaya. Itu ayahnya?" Helli memperhatikan cara Glend menggenggam tangan putrinya, mengusap kepalanya bahkan mendaratkan kecupan hangat. Keduanya saling melempar tatapan penuh kasih sayang. Acara itu ditutup dengan cuplikan yang sangat manis, pelukan hangat diantara ayah dan putri itu.


"Pasti rasanya sangat nyaman," bisik Helli lirih.


"Semua orang pasti pernah merasakan putus asa, itu sangat manusiawi. Tapi cinta akan menguatkanmu. Dan disaat kau tidak percaya dengan cinta, ingatlah ada Tuhan yang merangkul kita semua. Semuanya akan indah pada waktunya. Tuhan, sudah memberikan porsi dan kadar yang tepat dan pas pada masing-masing hambanya."


Kalimat penutup dari Glend yang menjadi pegangan bagi Helli. Tidak menemukan cinta dari manusia, maka ia memutuskan untuk menjalaninya sesuai garis yang ditetapkan.


Hari menjelang sore, Helli memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dengan hasil nihil. Hampir saja ia mendapatkan pekerjaan di sebuah minimarket. Sialnya, ia tidak terlalu pintar menghitung. Pekerjaan itu gagal ia dapatkan.


"Dasar jaalangg murahan! Beraninya kau merayu suamiku. Menjijikkan."


Begitu sampai di depan rumahnya, Helli dihadapkan pada pertengkaran yang terjadi antara ibunya dengan dua orang wanita yang diduga Helli sebagai istri dan anak dari salah satu pria yang memakai jasa ibunya.


"Kenapa datang kemari dan menyalahkanku atas keberengsekan suamimu?" Lenola bersedekap sombong. Tidak ada raut bersalah sama sekali. "Percuma mendatangiku, apa kau yakin suamimu hanya memakai jasaku, Nyonya? Jika kau takut suamimu berpaling, jadilah pelacuurnya di atas ranjang."


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah ibunya. Alih-alih membalas, ibunya justru terbahak. "Tidak bisa memuaskan suami, tapi menyalahkan orang lain."


"Akan kuberi kau pelajaran, lacur murahan!" Wanita itu berbalik, menarik putrinya meninggalkan tempat kumuh mereka.


Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa motel itu sudah dibongkar dan akan dibangun supermarket. Jalanan sempit yang biasa sebagai tempat mangkal ibunya juga sudah dibasmi habis. Banyak lacur dan para preman yang diamankan polisi. Wanita yang menyambangi ibunya ternyata wanita yang memiliki kuasa.


Ibunya kehilangan pekerjaannya. Namun, hal itu tidak membuat ibunya berhenti berulah. Ibunya mulai memasuki klub-klub mahal. Tentu saja penampilannya kalah dengan para pramunikmat berkelas lainnya yang jauh lebih muda dan segar. Tidak bisa mengubah sikapnya yang suka berjudi, Lenola mulai meminjam uang yang membuat masalah dalam hidup Helli bertambah.

__ADS_1


Ide untuk menjadi model akhirnya tercetus dari mulut ibunya. Ibunya mengontrak rumah dan membawa Helli ke salon kecantikan untuk mempertegas kecantikan gadis itu. Dari sanalah karirnya sebagai model bermula.


__ADS_2