
Damian masih merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Untuk sesaat ia mengira dirinya berada di alam lain yang bertemu dengan dua alien. Dan kedua alien itu kini duduk berhadapan dengannya dengan posisi yang serupa. Duduk tegak dengan kedua kaki yang rapat lalu kedua tangan diletakkan di atas paha.
Damian menyoroti keduanya silih berganti. Satu jam yang lalu, ia masih berada di ruang rapat. Membahas proyek baru tentang pembangunan hotel di Sisilia. Rapat baru berjalan lima menit saat ponselnya berdering dari salah satu teman kencannya. Ia akan mengabaikannya begitu saja jika saja ia tidak meminta wanita itu menjemput putrinya untuk makan siang bersama.
Lalu apa yang ia dengar. Laporan yang sama bahwa Dulce Lawrence kembali bolos sekolah. Mau jadi apa putrinya jika dalam sepekan, Dulce bolos selama empat hari, dan terkadang bahkan setiap hari.
Dan di sinilah dia berada. Di rumahnya dikejutkan oleh alien besar yang tidak ia kenali.
"Siapa wanita itu, Damian?"
Grenda, wanita yang berebut sepatu dengan Grace bertanya dengan tatapan terarah pada Grace dengan penuh keheranan.
"Grace," Sahutnya tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua objek di depannya.
"Grace? Siapa dia?"
"Aku tidak tahu."
Damian melihat Grace mencibikkan bibir. Entah apa dari arti cibikan itu. Apakah Grace kesal karena Damian mengatakan tidak mengenalnya? Damian tidak berbohong sepenuhnya. Ia hanya mengutip apa yang dikatakan putrinya. Ini Grace. Artinya wanita itu adalah Grace. Siapa Grace adalah kemungkinan pertanyaan selanjutnya yang bagi Damian sendiri bukan sesuatu yang penting. Yang ingin Damian tahu, kenapa Dulce bolos kali ini dan kenapa wanita itu ada bersama putrinya di rumah ini. Sejauh dalam ingatannya, ia tidak mengenal wanita bernama Grace.
Damian tentunya ingat nama-nama wanita yang pernah berkencan dengannya. Dan tidak ada Grace dalam daftar tersebut.
"Tidak tahu?" Grenda kurang yakin dengan jawaban Damian."
"Bagaimana aku tahu jika wajahnya saja masih dibaluri tepung."
"Ini masker," Grace mengoreksi.
Tepung? Heh? Sejak kapan ada manusia dibaluri dengan tepung. Dasar bodoh! Grace mengumpat di dalam hatinya.
"Dan masker kami sudah retak karena terkejut mendengar suaramu, Dad."
"Apa pun namanya, bisa kalian bersihkan wajah kalian?!" Damian mendesis menahan kesal.
"Kami perlu melihat timernya." Astaga, bisa-bisanya Grace masih mengikuti petunjuk cara penggunaan masker.
"Ya. Minimal 15 menit. Kami harus mendiamkannya selama itu." Dulce membenarkan apa yang dikatakan Grace. Wah, mereka benar-benar sohib yang saling mendukung.
"Kami memulainya jam 12. 15." Grace kembali bersuara.
"Apa yang mereka katakan," Grenda memandang kedua alien itu dengan ekspresi geli dan Grace harus menahan diri untuk tidak melompat dan mencakar wajah Grenda. Ia masih memiliki dendam kepada wanita itu dan ia tidak suka pada penampilan Grenda yang selalu anggar daada menurutnya.
Damian melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Ini sudah jam 12.32. Artinya tepung itu sudah berada di wajah kalian selama 17 menit. Bersihkanlah."
"Daddy mengatakan kita sudah bisa membersihkannya, Gre."
Grace mengangguk. "Tanyakan kepada ayahmu apa kita boleh kembali ke kamarmu. Pembersihnya ada di sana."
Grenda memutar bola matanya. Suara Grace terdengar sangat jelas.
"Kenapa kau meminta Dulce yang mengatakannya jika kau sendiri juga mempunyai mulut untuk bertanya secara langsung."
"Dad, apa kami boleh kembali ke kamar? Kami harus membersihkannya di sana?"
Semuanya mengabaikan sindiran Grenda.
"Kembali lah dalam lima menit. Daddy harap kau memiliki jawaban atas ulahmu ini, Pie."
Dulce tidak menyahut, ia segera menarik tangan Grace agar berdiri.
"Pie?" Grace langsung bertanya kepada Dulce begitu mereka sudah menjauh dari Damian.
"Hmmm. Cutie Pie. Di matanya aku terlihat lucu dan menggemaskan. Semua barang-barang pembeliannya menurutnya adalah hal yang bagus untuk kukenakan. Dia hanya tidak tahu bahwa putrinya selalu diejek di sekolah karena seleranya yang konyol!"
Grace terkekeh mendengar celotehan gadis kecil itu. "Tapi kau tidak keberatan sama sekali mengenakan barang pembelian ayahmu."
"Agar dia senang."
"Apakah ayahmu tahu kau diledek teman-temanmu karena cara berpakaian yang menurut mereka aneh?"
"Tidak ada yang tahu selain dirimu. Kau melihat kami. Jadi kau menyaksikan kebenarannya."
"Apa aku harus merahasiakannya?" Grace mendorong pintu kamar, mempersilakan Dulce masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ya. Sesuatu yang memalukan dan tidak menyenangkan tidak harus dibagi."
"Hm, baiklah. Aku akan menjaga rahasiamu. Berbagilah denganku. Omong-omong, apa aku juga boleh memanggilmu seperti itu, Pie?"
"Tentu saja. Asal kau bersedia membawaku ke circle pertemananmu dengan Helli Lepisto." Dulce memberikan syarat. Kecil- kecil sudah pintar bernegosiasi.
Circle? Hampir saja Grace terbahak. Baru beberapa jam bersama Dulce, ia sudah langsung jatuh hati pada gadis manis itu. Dalam beberapa menit, Dulce bisa terlihat sangat menggemaskan, menit berikutnya Dulce berubah menjadi anak kecil yang suka iseng dan membantah, Ducle juga pintar melakukan drama seolah menyesal atas kesalahan yang diperbuat. Terbukti di hadapan Damian, ia hanya menundukkan kepala walau sesekali ia melirik ke arah ayahnya. Dulce juga anak yang pintar dan cara berpikirnya juga cukup dewasa mengingat usianya masih 11 tahun.
"Baiklah. Kau akan menjadi teman kami. Kita bertiga akan menjadi teman baik yang saling mendukung. Tapi kau harus lebih mencintaiku daripada Helli."
Dulce mengerutkan hidungnya hingga maskernya semakin retak.
"Karena aku lebih mencintai Helli dibanding siapa pun. Jika kau mencintai Helli artinya kita akan bersaing merebut perhatiannya. Aku tidak ingin bersaing dengan anak kecil."
"Aku bukan anak kecil lagi. Tapi, baiklah, aku akan lebih mencintaimu. Yang penting aku mempunyai teman." Dulce mengulurkan jari kelingkingnya. Tentu saja Grace tahu artinya itu. Dulu ia juga sering melakukan hal seperti itu kepada ayah, ibunya dan juga Gavin. Janji kelingking.
"Baiklah, teman, waktunya membersihkan wajah."
"Aku tidak sabar melihat hasilnya," ucap Dulce.
"Kau ingin aku membersihkan wajahmu, Pie?"
"Aku bisa melakukannya, kau bersihkan saja wajahmu."
"Oke. Kau memang anak yang sangat mandiri."
Mereka segera menuju toilet untuk membasuh wajah. Dan begitu masker yang disebut Damian sebagai tepung sudah menghilang dari wajah mereka, Grace dan Dulce kompak berteriak histeris.
"Arrrgggghhh..."
_____
"Gre, bagaimana ini?" Dulce menangis sambil menggenggam tangan Grace. Sementara Damian terlihat sedang berbicara dengan seorang dokter kulit.
Ya, Grace dan Dulce dilarikan ke rumah sakit. Wajah keduanya penuh dengan bentol merah. Terlihat seperti cacar air. Rasanya juga sangat gatal sekali. Tangan mereka tidak berhenti untuk menggaruknya. Selain gatal, perih juga terasa.
"Bukannya terlihat cantik, wajah kita menjadi mengerikan, Gre."
"Se-semuanya akan baik-baik saja. Dokter akan memeriksa wajahmu. Kau pasti akan sembuh." Sesungguhnya Grace juga ingin menangis. Tapi melihat Dulce yang sudah rewel, ia menahan kepanikannya.
Damian mendekati mereka dan Grace langsung menunduk, tidak berani menatap wajah pria itu. Ia sudah siap untuk dimaki.
"Dokternya hanya ada satu. Dokter yang lain akan segera menyusul. Dulce akan diperiksa terlebih dahulu."
Grace mengangguk, ia melepaskan tangannya dari genggaman gadis kecil itu.
"Apakah wajahku akan disuntik, Dad? Aku takut jarum suntik." Dulce masih saja menangis.
"Mereka hanya akan memeriksanya. Tidak akan disuntik."
"Terakhir kali kau juga mengatakan seperti itu saat aku sedang demam. Meraka menusuk bokongku."
"Kali ini Daddy tidak berbohong. Mereka tidak akan menyuntik wajahmu. Mereka hanya akan memeriksanya dan berhentilah menggaruk wajahmu, Pie."
"Ini gatal sekali, Dad. Rasanya juga sangat perih dan panas. Apa aku akan berubah menjadi jelek?"
"Kau tetap yang tercantik. Ayo, berbaringlah."
"Aku takut."
"Daddy ada di sini. Apa yang kau takutkan?"
"Kau hanya akan diam saat mereka menyuntikku. Itulah yang kau lakukan dulu."
"Kenapa kau selalu mengungkit hal itu."
"Itu kebohongan pertamamu padaku."
"Itu demi kebaikanmu. Kau sembuh setelah itu dan kembali berulah. Tapi kali ini, Daddy sungguh tidak berbohong padamu. Tidak akan ada yang menyuntikmu."
"Mereka akan mengembalikan wajahku seperti semula?"
"Tentu saja. Wajahmu akan kembali cantik asal kau bekerjasama dengan baik. Masuklah ke ruang periksa dan berbaring dengan manis. Dokter akan melakukan tugas mereka dengan benar."
__ADS_1
Grace memperhatikan interaksi antara anak dan ayah tersebut. Tadinya, Grace mengira jika Damian adalah tipikal ayah yang keras. Ternyata di saat tertentu, pria menempatkan dirinya sebagai ayah yang baik. Ia membujuk Dulce dengan sabar. Meladeni celotehan gadis itu dengan tenang. Pemandangan yang cukup hangat dan menghibur.
"Bagaimana dengan Grace? Apa wajahnya akan kembali cantik, Dad?"
"Wajah kalian berdua akan kembali seperti semula. Masuklah, Dokter sudah menunggumu."
"Gre, kau takut jarum suntik?"
Grace mengangguk jujur.
"Kau memang temanku. Tapi kau tidak usah takut, Daddy mengatakan jika dokternya tidak akan menyuntik kita."
"Ya, aku mendengarnya. Masuklah."
"Kau akan diperiksa setelah aku. Kau jangan pergi kemana-mana."
Grace kembali menganggukkan kepala. Akhirnya Dulce masuk dan pintu ditutup. Tinggal dirinya bersama Damian.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu..." ucapan Grace menggantung saat Damian berbalik dan menatapnya.
Damian mengembuskan napas. Wanita di hadapannya benar-benar kejutan. Si kelinci betina.
Damian masih tidak mengerti kenapa Grace ada di rumahnya dan bermain-main dengan putrinya. Menciptakan suatu karya konyol di wajah mereka.
"Berhentilah menggaruk wajahmu." Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan kebingungannya.
"Ini gatal sekali."
"Dulce juga mengatakan hal yang serupa. Tapi tahanlah jemarimu jika kau tidak ingin wajahmu yang mulus meninggalkan bekas luka di sana."
"A-aku tidak terlalu paham tentang kosmetik." Grace tidak mengatakan kepada Damian bahwa membeli kosmetik ini adalah ide Dulce. Ia hanya menuruti keinginan gadis itu.
"Aku bisa melihatnya," Damian menimpali dengan malas tidak bermaksud melecehkan.
"Aku sudah menghubungi saudaramu. Dia akan segera menuju kemari."
"Ouh, kau pengertian sekali. Dari tadi aku ingin melakukannya tapi ponselku tertinggal di kamar putrimu."
Damian tidak menimpali. Ia kembali memutar tubuhnya, berjalan mendekati pintu ruangan di mana putrinya sedang diperiksa. Pria itu tampak cemas dan khawatir.
"Grace,"
Mendengar suara yang begitu familiar, Grace menoleh. Gavin dan Helli akhirnya datang.
"Oh Tuhan. Apa yang kau lakukan dengan wajahmu di hari pertama kau bekerja?!" Gavin bergidik geli. "Inilah alasan kenapa kau tidak dibiarkan keluar kandang. Ada saja ulah yang kau lakukan!"
Grace melirik ke arah Damian yang ternyata memang sedang memperhatikan mereka. Ia bersumpah akan merobek mulut Gavin begitu mereka sampai di rumah. Kandang? Heh?
"Gavin, jangan memarahinya seperti anak kecil di sini," Helli menegur suaminya. Helli yang pengertian memang selalu menjadi penyemangat bagi Grace.
"Ini pasti sangat gatal dan perih. Apa kau juga merasakan panas di kulitmu?"
Grace menganggukkan kepala. Ia mendorong saudaranya untuk merapat dengan Helli. Helli langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ini perih sekali. Wajahku yang tidak seberapa cantik berubah kacau," adu Grace sambil terisak. Ia sengaja memunggungi Damian agar pria itu tidak tahu jika ia sedang menangis.
"Jika kau tahu wajahmu tidak seberapa cantik kenapa masih berani membuat ulah dengan wajahmu," celetuk Gavin yang langsung mendapat pelototan tajam dari istri dan juga adiknya.
"Kenapa kau membawa suamimu kemari, Helli? Sakit di wajahku semakin terasa."
"Dia lah yang membawaku kemari."
"Kau sudah di sini, bolehkah kau menyuruhnya pergi?"
"Aku tidak akan kemana-mana tanpa istriku. Dan di mana dokternya, kenapa kau belum diperiksa?!"
"Dokternya sedang memeriksa putriku."
Gavin dan Helli menoleh ke arah sumber suara.
"Ah, Mr. Lawrence," saat menerima panggilan dari Damian, Gavin sedikit bingung. Bagaimana bisa pria itu mengabarinya tentang ulah yang dilakukan adiknya.
"Kau di sini juga rupanya?" Gavin mendekati pria itu. "Putrimu juga mengalami masalah dengan kulitnya?"
__ADS_1
"Ya. Adikmu dan putriku bekerjasama menciptakan seni di wajah mereka."