
"Kau senang?"
Gavin mengantar Helli ke depan pintu kamar. Hampir jam sebelas malam mereka baru sampai di rumah. Helli benar-benar merasakan kebebasan. Tidak ada beban sama sekali. Mereka tampak seperti sepasang kekasih sungguhan. Berjalan sambil bergandeng tangan. Minum dari gelas yang sama. Menikmati kembang gula lalu berciuman. Tidak ada batasan. Sebelas kali, Helli menghitung bahwa mereka berciuman sebanyak sebelas kali. Ciuman dia atas bianglala adalah favoritnya. Saat itu mereka sedang berada di puncak paling tinggi.
Yang membuat Helli semakin senang adalah saat ponsel Gavin berdering dan panggilan itu berasal dari Mona. Pria itu mengabaikannya, tidak menjawabnya sama sekali.
Tapi ada harga yang harus dibayar untuk itu. Malam ini juga Gavin memutuskan pindah kembali ke apartemennya. Ada Mona di sana yang sudah menunggu. Ini adalah harinya. Hari dimana ia harus kembali kepada kenyataan.
Jika Helli tahu pertunangan ini akan membawa cerita menyenangkan juga menyedihkan, ia lebih memilih kabur lagi ke Indonesia daripada harus merasakan sakitnya melepaskan saat belum bisa digapai.
Ck! Dimana kata-kata bijaknya tentang bianglala saat perpisahan ini begitu nyata.
__ADS_1
Hei, Helli, sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini. Bukankah selama ini kau tidak pernah mendapatkan apa yang kau inginkan! Terimalah, takdirmu sudah seperti itu. Sebagai pemeran utama di flim yang diperankan, bukan berarti hal serupa akan kau alami di dunia nyata. Kau hanya figuran!
Helli menyunggingkan senyum dengan sangat terpaksa. Ia menatap Gavin dengan lekat, menyimpan pahatan, bentuk, rupa dan keindahan pria di benak dan memori terdalamnya. Ia akan mengenang Gavin sebagai pria yang merupakan cinta pertamanya.
Oke, Helli, kau tidak boleh patah semangat. Bisa merasakan cinta sudah cukup membahagiakan. Setidaknya aku tahu bahwa aku memiliki hati dan ruang untuk seseorang yang kuanggap berarti.
"So..?" Helli bersuara. Tidak sia-sia ia menjadi seorang aktris. Suaranya tenang, seperti air yang mengalir.
Helli menganggukkan kepala, "Semoga kau sukses. Sukses meluluhkan hati Mona."
"Terima kasih," Gavin mengusap kepala Helli, lalu mendaratkan satu kecupan di kening Helli dengan begitu sangat dalam, lama, dan hangat.
__ADS_1
Helli mencengkram kemeja Gavin, menahan diri agar tidak menjatuhkan diri ke dalam pelukan pria itu. Jika hal itu ia lakukan, ia tidak yakin bisa selamat lagi. Helli mempertahankan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki.
"Pergilah, Mona menunggumu." Helli mendorong tubuh Gavin agar menjauh. Rasanya benar-benar sakit.
"Masuklah. Aku akan pergi setelah kau masuk. Kunci kamar dan jendela sebelum kau tidur. Tenangkan pikiranmu agar gangguan tidurmu tidak kumat."
Katakan siapa yang tidak akan jatuh cinta pada sosok Gavin. Dalam waktu dua bulan, Gavin mengenal betul tabiatnya. Tidak ada yang pernah mengkhawatirkannya seperti cara Gavin. Pria itu tulus tanpa ada niat terselubung.
"Ya. Ya. Aku akan mengingat semuanya. Selamat tinggal." Helli masuk ke dalam kamar dan saat Helli menutup pintu, Gavin menahan daun pintu.
"Tidak. Jangan katakan selamat tinggal. Sampai jumpa. Kita pasti akan bertemu lagi."
__ADS_1
Helli tersenyum walau hatinya menjerit menangis, "Ya, sampai jumpa, Gavin."