
"Teman?"
Gavin tersenyum melihat tangan mereka yang saling bertaut. Menggenggam satu sama lain, ibarat stempel yang mensahkan pertemanan mereka. Hari ini, selain menjadi tunangan palsu, Gavin dan Helli resmi berteman.
"Ya, teman. Berangkat sekarang?"
Helli menarik tangannya terlebih dahulu sebelum Gavin melepaskan genggamannya. Memang itulah yang harus ia lakukan. Menghalau perasaannya sebelum berkembang dan belajar melepaskan sebelum jatuh terlalu dalam.
Jika cinta sudah melekat, akan timbul sebuah harapan yang begitu kuat dan harapan selalu beriringan dengan kekecewaan yang akan mendarat pada kalbu yang sekarat. Cinta bertepuk sebelah tangan akan berakhir semenyedihkan itu.
Helli tidak ingin mengalaminya, sebelum perasaannya berkembang semakin menjadi-jadi, dia harus sudah menghentikannya. Mungkin ia tidak tahu kapan cinta itu mulai menyerang, tapi bukankah ia bisa menghentikannya.
Ayo, Helli, sadarlah!
"Ya, berangkat." Gavin menganggukkan kepala, mempersilakan Helli berjalan terlebih dahulu.
Gadis itu menyampirkan rambutnya ke bagian depan hingga memamerkan punggungnya yang mulus. Manik Gavin membeliak seketika. Ia melangkah cepat, menahan tangan Helli dan memaksa gadis itu berbalik menghadapnya.
"Ada apa?" Helli mengerutkan keningnya. "Kita hampir terlambat." Ia mengingatkan seraya menunjukkan jam tangannya ke wajah Gavin.
"Apa yang kau kenakan?!" Gavin terkejut sendiri mendengar suaranya yang menyiratkan keterkejutan juga ketidaksukaan.
Apa pedulinya dengan pakaian yang dikenakan Helli. Bukankah ia juga menyukai wanita-wanita yang mengenakan pakaian seksiih. Ini akan sedikit memanjakan matanya. Dasar pria mesum dengan akhlak setipis kulit bawang.
__ADS_1
"Hah?" Terang saja Helli bingung. Bukankah pria itu yang memberikannya pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Seseorang mengantarnya dan mengatakan bahwa kau ingin aku mengenakan ini. Kukira kau ingin agar aku terlihat memukau. Dan aku memang terlihat memukau, bukan? Bajunya sangat indah dan menakjubkan saat gadis cantik sepertiku yang mengenakannya."
Ya, Gavin tidak menyangkal soal kecantikan Helli dan semua yang dikatakan gadis itu benar adanya. Sangat valid. Gaun memukau dengan wanita cantik akan menampilkan suatu pemandangan yang menakjubkan. Ini valid.
Gavin memicingkan mata, memperhatikan gaun yang melekat di tubuh Helli. Ya, ini gaun pilihannya.
Tentu saja Gavin mengingat pakaian yang ia belikan untuk Helli. Desainer kepercayaan keluarganya lah yang langsung mengirimkan foto kepadanya. Gavin yang memilihnya sendiri. Kesalahannya, ia tidak menanyakan penampakan gaun tersebut dari belakang dan desainer tersebut juga tidak menjelaskan.
Sekarang, dirinya panik!
"Maksudku, kenapa bagian punggungmu terekspos?" Gavin menggaruk tengkuknya.
"Hah?"
"Wah! Kau keterlaluan!" Helli sedikit tersinggung mendengar pernyataan Gavin. "Apakah kau termasuk dari golongan pria yang kau katakan? Kau berfantasi?"
"Maafkan aku, bukan seperti itu maksudku. Ini gaun indah yang kurang bahan." Gavin menolak mengakui bahwa ia termasuk orang yang akan berfantasi liar. Tapi dibandingkan dengan dorongan gairah, rasa tidak relanya jauh lebih besar. Tidak rela berbagi dengan pria lain. Tidak rela apa yang lihat, disaksikan oleh pria lain.
"Modelnya memang seperti ini. Apa kau tidak memeriksanya saat memutuskan untuk memberinya kepadaku?" Helli memutar bola matanya dengan kesal. Perdebatan macam apa ini?
"Aku hanya melihat penampakannya dari depan. Aku akan menunggu jika kau ingin mengganti pakaian." Gavin memberi isyarat dengan sebelah tangannya, mempersilakan Helli kembali ke dalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengganti pakaianku? Ayo, Mona mungkin sudah menunggu."
Helli menolak. Ia menyukai pakaiannya.
"Tapi..."
Ah! kenapa ia tidak suka saat membayangkan Rusel akan melihat apa yang ia lihat. Pria itu pasti sibuk berfantasi begitu melihat punggung Helli yang terekspos. Apakah dia berfantasi? Ya, ia sudah mengakuinya tadi, meski tidak secara gamblang! Gavin membayangkan tangannya berada di sana, mengusap punggung Helli dengan lembut, seperti apa kira-kira rasanya. Ia membayangkan hal tersebut.
"Tidak ada kata tapi, kita sudah terlambat, Gavin!"
"Baiklah," ucapnya pasrah, ia membuka jasnya untuk menutupi punggung Helli. Gadis itu melayangkan tatapan protes.
"Cuaca panas begini." Helli menolak mengenakan jas tersebut.
"Kalau begitu tutupi punggungmu!"
"Astaga, kenapa kau membelinya jika kau tidak menyukainya." Helli mendelik kesal. Ia kibaskan rambut panjangnya ke belakang dengan wajah ditekuk. "Kau puas?!"
"Dasar pria aneh. Aku yakin kau sudah terbiasa melihat punggung wanita bahkan lebih dari sekedar punggung. Apa yang salah dengan punggungku?" Helli berjalan sambil menggerutu.
Gavin mengembuskan napas kasar.
Ya, apa yang salah?
__ADS_1