
"Well... sungguh kesenangan tidak terduga melihat dirimu di sini, Angelo mia."
"Gavin," Jane menyentuh lengan pria itu.
"Tinggalkan kami, Jane," ucap pria itu dengan nada sehalus sutra. Gavin juga melepaskan tangan Jane dari lengannya. "Ikuti aku," melalui ekor matanya, ia memberi perintah kepada Helli. Helli memutar bola matanya dengan jengah melihat sikap Gavin yang sok cool di matanya.
Dia kira dia sudah terlihat keren. Hm, memang lumayan juga. Helli bermonolog di dalam batinnya.
Pintu terbuka, Helli masuk ke dalam sebuah ruangan kontemporer yang belum pernah ia lihat. Tembok-temboknya dihiasi foto berbagai model mobil dan otomotif lainnya. Sangat berbanding terbalik dengan pemandangan di luar yang penuh dengan wajah para model wanita cantik.
Gavin berdiri di depan meja kaca dengan ukuran yang sangat besar juga memiliki ukiran yang cukup rumit. Pria itu bersedekap menatap Helli yang berdiri di hadapannya.
"Jelaskan?"
__ADS_1
"Hah?" Helli tersentak dari keterpukauannya mengagumi ruangan tersebut. Gavin juga terlihat begitu berkelas tanpa bersusah payah meski hanya mengenakan thsirt polos yang dipadukan dengan celana biru.
"Jadi yang ingin kutanyakan, Helli Lepisto. Dari mana kau mendapat keberanian untuk melibatkan hidupku dengan kehidupanmu yang kacau. Apa kau sedang mempermainkan hidupku?"
"Kenapa kau tidak membayar wanita itu?!" Helli menggertak.
Gavin melengkungkan alisnya mendengar pertanyaan wanita itu yang justru terdengar seperti perintah. "Jika aku membayar semua wanita yang ingin menjual cerita tentangku ke pers, aku bisa bangkrut. Aku hanya seorang montir, Nona Pembohong." Flamingo, Ms. Scandal dan sekarang Nona pembohong. Sepertinya Helli akan memiliki julukan yang lebih banyak lagi ke depannya.
"Alih-alih terlihat seperti montir, kau lebih mirip seorang kolektor foto model wanita indah dan cantik." Helli tidak bisa menahan diri untuk tidak melayangkan kalimat tersebut. Ia bingung apa tujuan para model itu dipajang. "Apa wanita yang menempelkan dadanya ke lenganmu adalah kekasih barumu?" Helli bertanya tentang Jane.
"Jangan konyol!" Helli memutar bola matanya dengan jengah. "Aku tidak peduli dengan foto siapa yang kau pajang dan siapa yang berhubungan denganmu."
"Benarkah?" Gavin mengulumm senyumnya. Mata nakalnya mengawasi Helli dengan seksama.
__ADS_1
"Aku baru-baru ini mendengar seseorang mengikrarkan bahwa aku satu-satunya pria di dunia untuknya hingga mengumumkan pertunangan secara sepihak."
Helli terlihat gusar mendengar respon tenang yang diberikan Gavin. Karirnya sedang di ujung tanduk sementara pria itu masih bisa tenang dan santai macam di pantai.
"Aku hanya tidak ingin lebih banyak lagi judul berita negatif lagi tentang diriku," Helli bergumam.
"Demi membersihkan namamu, kau mengotori namaku, Helli," nadanya masih sama, ringan dan halus seperti sutra. Berbanding terbalik dengan makna di balik ucapan itu. Menohok!
"Jangan memancing amarahku, Gavin. Aku bisa marah padamu."
"Akan bagus untukmu jika mengekspresikan emosi secara jujur sekali-sekali." Ada saja jawaban yang dilontarkan pria itu. Helli baru tahu jika ada jenis pria yang pandai bersilat lidah seperti sosok di hadapannya saat ini.
"Jangan main-main denganku, Gavin!" Helli melangkah maju. Ia benar-benar marah melihat sikap Gavin yang tidak terlihat serius. Hanya Helli yang tahu sekeras apa usahanya untuk membangun karirnya kembali. Ditusuknya dada pria itu dengan jarinya dan sekarang ia menyesalinya karena ia bisa merasakan otot pria itu. "Jika kau tidak terima dengan kebohongan yang kuciptakan tanpa sengaja. Ini juga terjadi karena ulah sembronomu yang menciumku secara tiba-tiba. Akulah yang merugi di sini, bukan dirimu! Dan berkat dirimu, aku hampir dipecat dari pekerjaan yang bahkan belum kumulai! Ingat, aku tidak memilih untuk menciummu, kau yang tiba-tiba menarikku. Untuk itu, bekerjasamalah untuk sementara."
__ADS_1
"Aku tidak ingat kau meronta-meronta menolak," Gavin sangat tenang hingga membuat Helli kesal. "Perlu dua orang untuk menciptakan ciuman seperti itu, ciuman penuh hasrat."