
Gavin melihat jam dinding yang sudah menunjuk ke angka delapan pas. Lalu ia kembali menoleh ke arah tangga, tidak ada tanda-tanda bahwa Helli sudah bangun.
Helli juga melewatkan makan malam, mengabaikan saat Gavin mengetuk pintu kamarnya bahkan saat Gavin mengatakan jika Addrian datang mengantar barang-barangnya, Helli tetap bungkam. Akhirnya Gavin meletakkan tas gadis itu di depan pintu kamar. Saat ia bangun, tas itu sudah tidak ada di depan pintu.
"Apa dia benar-benar marah dan merajuk?" Gavin bermonolog, menatap kembali ke arah tangga dengan harapan Helli sudah muncul untuk menunjukkan batang hidungnya.
"Apa sebaiknya aku kembali ke atas dan membangunkanya? Mungkin saja alarmnya memang tidak berbunyi tepat waktu."
Gavin melintasi ruang utama menuju tangga. Baru di undakan pertama ia kembali berbalik.
"Jika aku mengganggu tidurnya, bisa-bisa dia bertambah marah."
Pria itu meninggalkan tangga, berjalan menuju ke dapur. Ia ada janji dengan keluarganya untuk sarapan bersama. Sepertinya ia harus membatalkan janji tersebut. Gavin mengeluarkan ponsel untuk menghubungi ayahnya.
"Ya, Son?"
"Dad, sepertinya aku tidak bisa bergabung untuk sarapan. Katakan pada Mom aku minta maaf."
__ADS_1
"Mom mendengarmu, berandalan! Kenapa? Apa kau sedang bersama tunanganmu?" terdengar suara ibunya. Ya, kebiasaan ayahnya yang selalu mengaktifkan speaker ponsel jika sedang bersama ibunya.
"Kau bisa mengajaknya untuk sarapan bersama," usul ibunya kemudian. "Kita hanya perlu menambah satu piring lagi. Mom memasak makanan kesukaanmu."
Gavin menggeleng, itu bukan ide yang baik, meski ia sangat tergoda. Hubungannya dengan Helli memiliki masa tenggang yang akan berakhir jika waktunya sudah tiba. Lagi pula, Helli tidak tahu tentang dirinya yang seorang Vasquez dan keluarganya juga tidak tahu jika dirinya menyembunyikan identitasnya yang sesungguhnya dari Helli.
"Dia sedang sibuk, Mom. Mungkin lain waktu," Gavin memberi alasan.
"Gavin, kau bersama Helli?" Kali ini suara adiknya lah yang terdengar. Gavin mendengus. Kekesalannya pada adik tersayangnya itu belum sepenuhnya pulih.
"Aku sedang sendiri, ada apa?"
"Di kamar."
"Gavin! Jadi kau bermalam bersama tunanganmu?!" Ibunya kembali bersuara. "Mom akan mengkibiri milikmu jika kau berbuat macam-macam Gavin Vasquez!!"
Gavin meringis ngilu, spontan ia memegang miliknya, melindungi kebanggaannya itu.
__ADS_1
"Mom, ucapanmu barbar sekali. Aku adalah anak baik yang sangat memperhatikan norma dan moral. Aku sedang berada di ruang tamu, menunggunya bersiap di kamar. Aku menjemputnya untuk mengantarnya ke lokasi syuting. Aku pria yang bertanggung jawab."
Entah dimana letak norma dan moral yang ia katakan disaat lidahnya begitu lancar dan natural saat melontarkan rentetan kata yang penuh dengan kebohongan tersebut.
"Kenapa sangat sulit mempercayai ucapanmu, Son?"
Hais, sekalinya ayahnya membuka mulut justru kalimatnya mengandung racun yang menggiring opini ke arah negatif.
"Itu karena darahmu mengalir di dalam darahku, Dad. Aku mewarisi apa yang ada pada dirimu."
"Tidak dengan ahli dalam berbohong."
"Kau pria, aku pria. Ayolah, Dad, jangan biarkan aku membongkar rahasiamu di hadapan Mom dan putri kesayanganmu."
"Dasar anak berandalan!"
Tut! Panggilan telepon terputus. Gavin meletakkan ponselnya. Jam 8.30, Helli belum turun juga.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu setengah jam lagi. Jika dia belum bangun dan turun, akan kudobrak pintu kamarnya."
"Tapi jika dia sudah bangun, apa yang harus kukatakan? Menyapa seperti biasa seolah tidak ada masalah?"