My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Bahagia


__ADS_3

Hari bahagia itu akhirnya tiba. Hari pernikahan Gavin dan Helli. Vasquez menyambutnya dengan penuh suka cita mengingat ini adalah perayaan pertama penerus Vasquez. Bukan hanya Gavin saja yang gugup tapi juga ayahnya, Glend Vasquez. Bahkan jika dilihat, pria setengah baya itu jauh lebih gugup daripada putranya.


Berulang kali Glend memperbaiki dasi putranya. Berulang kali juga pria itu mengusap keringat di keningnya.


"Kau tampan sekali, Son." Glend menepuk wajah putranya sembari tersenyum tipis yang terlihat sangat dipaksakan.


Kegugupan Gavin menjadi teralihkan hanya karena melihat ayahnya yang terlihat aneh. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat ayahnya gugup bahkan saat menikah dengan ibunya. Saat menikah dengan ibunya, Gavin melihat jika sang ayah terlihat sangat bersemangat dan antusias. Oke, ayahnya memang menangis haru saat janji suci terucap, tangisan karena merasa lega dan bahagia.


"Aku mewarisinya darimu, itu yang kau katakan padaku saat perayaan ulang tahunku dan juga Grace beberapa saat lalu, Dad."


"Kau benar," Glend mengangguk-anggukkan kepala sambil menepuk pundak putranya.


"Kau tahu apa yang akan kau katakan nanti?"


"Janji suci."


"Good. Kau sudah menghafalnya dengan benar?"


"Sejauh ini aku masih mengingatnya. Hafalan terpendek tapi butuh waktu lama untuk bisa menghafalnya dengan baik dan benar."


"Ya, itulah maksud Daddy. Kau pasti sangat gugup. Itu sangat wajar."


"Aku tidak menyangkalnya. Tapi yang kulihat kau jauh lebih gugup, Dad. Apa yang membuatnya panik begini."


"Aku khawatir deretan para mantanmu tiba-tiba muncul dan merusak kebahagiaan ini," Jawab Glend, tidak sepenuhnya bohong mengingat jam terbang Gavin yang bergaul dengan banyak wanita.


"Itu tidak akan terjadi." Gavin berdecak kesal. Ia tidak berani membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Astaga, bisa-bisa Helli menceraikannya sebelum ikrar suci yang ia hafal selama dua minggu ini terucap.


"Jangan memberikan sugesti buruk kepadaku. Mendadak aku menderita ambien karena ucapanmu, Dad." Gavin melongos menjauh dari ayahnya.


"Daddy mengatakannya agar kau bisa mengantisipasi tindakannya. Omong-omong, apakah Mrs. Lepisto jadi datang?"


"Kuharap Mrs. Lepisto bersedia datang." Gavin menarik napas panjang. Wanita itu benar-benar keras kepala, Lonela menolak bujukan yang dilakukan Helli agar mendapat perawatan.


Kemarin, Gavin masih menyempatkan pergi ke sana secara diam-diam tanpa sepengetahuan Helli. Sungguh ia tidak menyangka jika kedatangannya justru membuat suatu rahasia terungkap.


Dora kembali menemui Lonela. Gavin yang berada di balik pintu mencuri dengar pembicaraan mereka. Mendengar nama Rudolf disebut. Pun ia segera pergi tanpa sempat menemui Lonela. Ia bertanya kepada ayahnya tentang pengusaha bernama Rudolf Hall. Gavin yang merupakan seorang pengusaha berkedok montir merasa tidak asing dengan nama keluarga Hall.


Nasib baik, salah satu teman ayahnya mengetahui alamat Rudolf Hall. Gavin pun pergi menemui pria itu. Dan ini akan menjadi kejutan terindah buat Helli. Kejutan manis di hari yang begitu sangat spesial.


___


"Oh, Helli, kau terlihat seperti peri yang luar biasa sementara saudaraku terlihat seperti vampir rakus yang menyebalkan."


Siapa lagi yang menolak untuk mengakui ketampanan Gavin jika bukan saudari kembarnya sendiri. Grace.

__ADS_1


Helli terkikik geli mendengar penuturan adik iparnya itu. "Di mataku dan jutaan wanita di luar sana, dia sangat menawan."


"Ck! Jangan sampai dia mendengar pujianmu yang berlebihan. Astaga, haruskah aku juga mengenakan gaun seperti ini? Langkah kakiku sedikit terbatasi." Grace mengenakan gaun panjang senada dengan gaun putih yang dipakai oleh Helli.


"Kau juga terlihat sangat anggun, Grace. Gaun itu sangat cocok di tubuhmu. Omong-omong, apakah Oscar akan datang hari ini?"


"Aku tidak tahu, tapi aku mengundangnya. Kuharap dia datang dan melihatku mengenakan gaun ini."


"Aku penasaran seperti apa pria yang kau cintai itu."


"Lebih menawan dari suamimu."


"Aku tidak akan setuju denganmu sebelum aku melihatnya secara langsung."


"Astaga! Kau meragukan penglihatan dan penilaianku? Baiklah, semoga kau tidak menyesal menikah dengan Gavin setelah melihat crush-ku yang aduhai."


Helli kembali tertawa, setiap membahas Oscar, Grace memang selalu bersemangat. Hanya pujian yang keluar dari mulut gadis itu mengenai sosok Oscar.


Ketukan di pintu menghentikan perbincangan mereka. Grace segera melintasi ruangan untuk membuka pintu.


"Uncle Justin," Grace mengernyitkan hidung melihat sosok pria kurus yang duduk di kursi roda.


"Biarkan kami masuk, gadis manis."


Grace mempersilakan dan Justin pun mendorong kursi roda masuk ke dalam ruangan.


Helli tersenyum manis menyambut keduanya. Saat ia melihat pria di kursi roda itu juga tersenyum lebar kepadanya dengan tatapan haru, Helli merasakan hatinya berdenyut nyeri.


"Ini adalah Rudolf Hall. Salah satu sahabat kami," Justin menjelaskan. Rudolf mengulurkan tangan yang langsung disambut Helli dengan ramah.


"Helli Lepisto," ucapnya masih dengan senyum indah yang terpatri di wajahnya yang cantik.


Rudolf menganggukkan kepala. Sebulir kristal bening meluruh dari manik pria itu. Genggamannya di tangan Helli semakin kuat.


"Terlihat sangat mirip," Rudolf berkata dengan suara tercekat. "Kau sangat cantik, sama seperti ibumu."


Helli terlihat bingung, dipandanginya pria itu dengan seksama, manik pria itu menarik minatnya. Ia memang terlihat mirip dengan ibunya. Mereka bagaikan pinang dibelah dua. Hanya saja, ia tidak mewarisi manik ibunya. Maniknya sama dengan Calvin Hugo, itulah dulu mengapa ia yakin jika Calvin adalah ayah biologisnya.


Helli tercengang dengan pemikiran yang tiba-tiba muncul di benaknya. Ia langsung menarik tangannya, sedikit kasar sehingga membuat Rudolf tersentak.


"Oh, maafkan aku," Helli kembali meraih tangan pria itu dan menggenggamnya.


Rudolf yang tadinya sudah muram kembali tersenyum. Pria itu menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa," ucapnya sambil mengambil bingkisan yang dari tadi ada di atas pangkuannya.


"Selamat atas hari bahagiamu, Nak." Ia serahkan bingkisan tersebut kepada Helli.

__ADS_1


"Ouh, ini hadiah pertamaku. Terima kasih, Mr. Hall."


Saat Helli hendak membuka bingkisan tersebut, Rudolf menahan tangannya. "Lakukanlah nanti setelah resepsi selesai."


Helli mengangguk, tidak keberatan sama sekali.


"Jika kau tidak keberatan, bolehkah Mr. Hall yang mengantarmu menemui calon suamimu, Helli?" Justin mengutarakan keinginan Rudolf. Pria itu tidak berani untuk meminta langsung.


"Aku akan merasa sangat tersanjung. Terima kasih lagi, Mr. Hall."


Wajah Rudolf sumringah seketika. Pria itu mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Helli. Keduanya saling menggenggam tangan sementara Justin yang harusnya mendampingi Helli, kini bertugas mendorong kursi roda.


Sampai di aula, Helli mendadak berhenti melihat sosok ibunya duduk menyudut di bangku belakang. Ibunya memang menutupi wajahnya, tapi Helli bisa mengenalinya dengan mudah.


"Mom," Ia sungguh terharu, tidak menyangka jika sang ibu benar-benar datang menyaksikan hari bahagianya.


Bukannya menatap Helli, Lonela justru terkejut melihat kehadiran Rudolf yang menggenggam tangan putrinya. Pemandangan itu terlalu jelas sehingga Helli langsung menyadarinya. Kedua insan itu saling menatap dengan tatapan yang hanya bisa Lonela dan Rudolf artikan.


"Arrgghh..." Teriakan Grace akhirnya memecah keheningan sesaat itu. Gadis itu menginjak gaunnya sendiri dan jatuh di pangkuan seorang pria.


___


Buku Harian Milik Helli Hall Vasquez


Tidak ada yang lebih menggembirakan selain berhasil meraih mimpi terbesarku. Keluarga. Yes! Aku mendapatkannya!


Fakta bahwa aku bukan terlahir dari berbagai kumpulan sper-ma para pria adalah kabar baik yang membuatku lebih percaya diri. Maafkan aku, Mom, maafkan putrimu yang sempat berprasangka buruk kepadamu. Sekarang, dengan lantang aku bisa menyuarakan bahwa aku terlahir dari buah cinta antara Lonela Lepisto dan Rudolf Hall. Aku terbentuk dari dua insan yang saling mencintai.


Aku memiliki Ayah dan Ibu yang jelas! Ini hebat! Dan kebahagiaanku semakin sempurna karena sekarang aku menjadi seorang istri dari laki-laki hebat yang mencintaiku. Menantu dari dua insan yang begitu hangat dan kakak sekaligus sahabat dari gadis yang begitu manis. Terima kasih, Tuhan. Engkau Maha baik.


Aku tidak bisa menjadi apa pun selain yang sudah ditakdirkan kepadaku sejak lahir. Dan ini lah takdirku, takdir yang begitu indah.


Mom, Dad, semoga kalian tenang di sisi-Nya. Aku mencintai kalian berdua.


Helli menutup buku catatannya dengan senyum manis yang begitu indah. Di sisa akhir hayat ayah dan ibunya, mereka menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Rudolf menyetujui pernikahan yang diatur orang tuanya demi kebebasan Lonela dan ayahnya. Rudolf tidak mengetahui jika ancaman yang dilayangkan orang tuanya tetap berjalan meski Rudolf sudah menikahi Dora. Ayahnya memang menikah, tapi tidak pernah mencintai Dora hingga wanita itu berselingkuh di belakangnya. Setelah kesalahpahaman itu selesai, Ayah dan ibunya memutuskan untuk hidup bersama dan saling merawat hingga ajal menemui Lonela dan Rudolf. Kematian keduanya hanya berselang satu hari. Tiga minggu setelah pernikahan Helli dan Gavin.


Dan mengenai bingkisan yang diberikan ayahnya di hari pernikahannya, Helli baru membukanya beberapa menit lalu. Surat kuasa atas semua kekayaan yang dimiliki ayahnya. Helli mendadak kaya. Warisan yang diberikan ayahnya bukan satu atau dua perusahaan. Keluarga Hall mungkin dinyatakan bangkrut, tapi tidak dengan Rudolf yang memilliki banyak bisnis pribadi yang ia rahasiakan dari Dora hingga pada akhirnya tercium oleh Dora. Itulah mengapa Dora sangat membutuhkan tanda tangan Helli untuk pengalihan surat kuasa.


"Minum ini dan istirahatlah," Gavin membawa beberapa suplemen untuk ibu mengandung. Tiga minggu ini merupakan hari yang bahagia juga berat bagi mereka. Setelah resepsi, Rudolf drop dan dilarikan di rumah sakit. Mereka menghabiskan waktu menjaga kedua orang tua Helli hingga takdir berkata lain.


"Terima kasih." Helli menelan obatnya. "Aku baik-baik saja. Aku tidak merasa lelah sama sekali. Aku masih bisa melayanimu. Malam pertama kita disibukkan dengan menjaga ayah ibuku. Kuharap malam ini tidak mengecewakanmu."


"Oh, Helli..." Gavin jelas tidak menolak tawaran tersebut. Pun ia segera menggendong Helli. Baru saja Gavin merebahkan sang istri. Terdengar ketukan di pintu.


"Helli, kau sibuk? Aku membutuhkan bantuanmu."

__ADS_1


"Grace si pengacau! Pergi kau!!!"


__ADS_2