
Grace menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Gedung yang akan memberi pengalaman baru untuknya. Entah itu bahagia atau justru duka. Tapi, apa pun itu, seperti yang dikatakan ibunya, ia harus siap menerima.
Namun, jika boleh berharap, Grace ingin segala sesuatunya dimudahkan. Baik itu pekerjaan atau pun percintaan.
Oscar Lawrence, adalah satu-satunya pria yang selama ini enggan membuatnya menoleh pada pria lain. Bertahun-tahun lamanya ia menyimpan rasa kepada pria itu. Ia terpesona pada Oscar, bukan karena rupa pria itu yang memang tidak manusiawi. Grace yakin para leluhur Yunani iri dengan ketampanan seorang Oscar Lawrence.
Grace tergila-gila kepada Oscar juga bukan lantaran mengikuti para wanita di luar sana. Oscar adalah impian banyak para wanita. Tampan, mapan, playboy, dan modern. Berlomba-lomba menarik perhatian seorang Oscar sudah menjadi trend di kalangan para wanita.
Bisa berkencan dengan seorang Oscar merupakan sebuah prestasi yang bisa mereka pamerkan dan banggakan. Tidak peduli hubungan itu hanya berlangsung satu hari atau hitungan jam. Dilirik Oscar seolah menjadi pengakuan bahwa seorang wanita tersebut menarik. Entah sejak kapan nilai seorang wanita tergantung pada cara Oscar meladeni wanita tersebut. Benar-benar konyol dan menggelikan.
Grace menyukai Oscar dan bertekad menarik perhatian pria itu bukan karena ingin mendapatkan predikat wanita menarik. Ia mempunyai alasan tersendiri kenapa hatinya memilih Oscar meskipun di tengah goncangan fakta bahwa Oscar adalah playboy yang tidak bisa bertahan dengan satu wanita. Oscar pria yang sangat lihai meluluhkan hati seorang wanita, tapi ia juga piawai dalam mendorong wanita agar menjauh darinya tanpa ia perlu melakukan drama murahan seperti yang dilakukan Gavin dengan berpura-pura menjadi pria miskin atau dengan mematahkan hati wanita secara frontal. Oscar tidak melakukan cara tersebut. Terbukti pria itu masih menjalin hubungan baik dengan deretan para mantannya.
Grace tidak pernah melihat berita tentang Oscar yang didatangi wanita dengan segudang makian atau dengan deraian air mata. Entah trik apa yang dilakukan pria itu.
Kembali ke alasan kenapa Grace menyukai pria itu. Tidak jauh berbeda dengan alasan kenapa Grace mengagumi Helli.
Saat itu, mereka masih berusia 19 tahun. Menghadiri acara pesta perayaan ulang tahun salah satu teman mereka.
Oscar dan teman-temannya selalu membuat suasana selalu ramai dan lebih hidup. Dimana ada Oscar, di situ ada keseruan.
Salah satu teman Oscar mengusulkan permainan truth or dare. Permainan yang mengajak orang untuk menjawab jujur dari pertanyaan diajukan. Pertanyaan berisikan tentang hal yang menantang kepribadian dan mental.
Grace hanya menonton, tidak ikut bermain karena memang permainan tersebut untuk mereka para pria.
"Hal paling menjijikkan yang pernah pernah kau lakukan saat sedang sendiri?"
Salah seorang teman Oscar bertanya kepada pria yang memilih untuk berkata jujur.
"Membayangkan Grace saat sedang di toilet dan ternyata tidak membantu sama sekali. Wajahnya yang cantik tidak didukung dengan aset yang menarik. Astaga, bagaimana bagaimana bisa seorang wanita memiliki tubuh datar seperti itu. Aku tidak menemukan sesuatu yang menonjol yang bisa menarik minat perhatian pria. Libidoku tidak terangsang sama sekali dan dia memiliki paha yang cukup besar. Ck! Tidak sedap dipandang."
Semuanya tertawa seakan membenarkan apa yang dikatakan pria tersebut. Hanya Oscar yang tidak tertawa sama sekali.
"Bukan objek fantasimu yang bermasalah, tapi otakmu lah yang terlalu kotor. Grace yang manis tidak sudi muncul sekalipun dalam fantasimu. Kau benar-benar menjijikkan," Oscar beranjak dari tempat tersebut dan meninggalkan pesta. Tidak ada yang menyadari jika Grace ada di sana. Mendengar semuanya.
Tidak hanya sampai di sana, pria yang menghina Grace ternyata sangat mabuk. Pria itu dengan kurang ajarnya menyerang Grace, mencium paksa Grace dan meraba kasar pahaa Grace yang pria itu hina. Kata-kata jorok dan hinaan juga terlontar dari mulut pria tersebut. Lagi, Oscar lah yang datang menyelamatkannya.
Grace menggeleng, mengenyahkan kenangan buruk tersebut. Alasan mengapa ia tidak percaya dengan bentuk tubuhnya.
Grace melangkahkan kakinya, tersenyum ramah saat melewati security. Grace juga menyapa gadis cantik yang bertugas menjaga meja resepsionis. Memperkenalkan diri dan si resepsionis langsung menyebutkan ruangan Oscar.
Lantai 27, Grace berdiri di depan lift. Menanti pintu itu terbuka. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Oscar. Kali ini, ia akan melakukannya dengan benar. Bukan seperti saat di pernikahan Gavin dan Helli di mana ia mengalami hal memalukan dengan menginjak gaunnya sendiri hingga terjatuh. Untung saat saat itu ada Oscar yang sigap menangkapnya hingga tidak terjungkal ke lantai.
"Apa yang akan kukatakan nanti. Hai?" Grace berdehem, menoleh sekitarnya yang masih sepi. Bisa-bisa ia dianggap mempunyai gangguan jika ada mendengarnya berbicara sendiri.
"Oscar, apa kabar? Terima kasih karena sudah memilihku untuk menjadi sekretarismu. Aku akan bekerja dengan baik. Tidak akan mengecewakanmu."
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka, pun ia segera masuk. Ia semakin gugup ketika lift berhenti di lantai 27. Hanya ada satu ruangan di sana. Pun ia membawa kakinya melangkah menuju pintu yang bertuliskan nama Oscar.
Di depan pintu ada dua meja, mungkin salah satunya akan menjadi miliknya selama dia bekerja untuk Oscar.
"Apakah Oscar sudah datang?" Grace bergumam mengingat ia memang datang terlalu pagi.
Grace memilih untuk duduk sembari menunggu. Menyibukkan diri dengan lembaran berkas yang terletak di atas meja yang kebetulan merupakan jadwal pertemuan Oscar.
Lima belas menit berlalu, belum ada tanda-tanda kehadiran Oscar sama sekali. Dari ruangan Oscar tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh.
Grace langsung bergegas menuju ruangan tersebut.
"Arggh.. Ouh... Astaga!!" Grace menutup matanya dengan kedua tangannya, tapi ia masih bisa mengintip dari celah jari-jarinya tersebut.
Seorang wanita terkapar di atas meja dan seorang pria sedang bermain-main di atasnya. Di lantai, beberapa barang berserakan.
Pria yang sedang bermain-main di ceruk leher wanita terkapar, mengangkat kepala melihat siapa gerangan yang berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk.
"Grace?!"
"Y-ya, aku. Apa yang kau lakukan?"
"Berciuman dan hampir bercinta. Lalu apa yang kau lakukan di sini." Oscar menegakkan tubuh. Wajahnya masih menyisakan gairah yang begitu kentara tapi mimik wajahnya juga menyiratkan kebingungan sebesar hasrat yang belum sempat terpuaskan.
"Bekerja."
"Bekerja?" Oscar memindai ruangan. Mengira jika dirinya dan Melisa, sekretarisnya terdampar di salah satu perusahaan Vasquez.
"Ini ruanganku," ia bergumam pelan. "Perbaiki pakaianmu," ucap Oscar kepada Melisa. "Agar dia bisa menurunkan tangannya dari wajahnya."
"Apa kau baru saja mengatakan kau di sini untuk bekerja?"
"Ya." Perlahan Grace menurunkan tangan yang menutupi wajahnya.
"Ini perusahaan Lawrence, bukan Vasquez."
"Kau benar."
"Ya, aku memang benar. Ah, apakah Gavin mengutusmu untuk bertemu denganku? Apakah dia berubah pikiran dengan tawaran kerja sama yang kuajukan?" Oscar mengikis jarak diantara mereka dan kini keduanya berhadapan. Oscar menyapu penampilan Grace yang terlihat berbeda. Terlihat seperti wanita karir yang sangat profesional.
"Ehmm," Grace berdehem. Tatapan Oscar seakan melucutinya. "Gavin tidak mengutusku. Akulah yang datang sendiri." Grace tiba-tiba berjongkok, memungut dua butir anak kancing tepat di dekat sepatu Oscar. Pria itu refleks mundur.
"Wanitamu terlihat bingung mencari kancingnya." Grace meringis sambil menyodorkan dua anak kancing yang baru ia pungut. "Kuharap dia memiliki jahit yang siap sedia dibawa kemana-mana. Kau membuatnya dalam masalah."
Oscar tersedak dan salah tingkah. Ia menerima kancing tersebut dan berbalik, memberikannya kepada Melisa yang memang terlihat bingung untuk menutupi dadaanya.
Oscar menyampirkan jas miliknya ke pundak Melisa. Pria itu juga membantu untuk mengancingnya guna menutupi dadaa si wanita.
__ADS_1
"Aku sedang ada tamu, tunggulah di luar."
Wanita itu mengangguk patuh, saat melewati Grace, wanita itu menunjukkan raut tidak suka. Apa Grace peduli, tentu saja tidak!
"Duduklah," Oscar mempersilakan.
"Jadi, bisa kau jelaskan pekerjaan seperti apa yang kau lakukan di sini, Grace?"
"Hah? Harusnya aku yang bertanya, kira-kira seperti apa pekerjaanku selain mengatur jadwalmu."
"Kenapa kau harus mengatur jadwalku?" Kebingungan ini semakin menjadi.
"Karena aku sekretarismu."
"Sekretarisku? Sejak kapan?"
"Sejak hari ini."
"Bagaimana bisa?"
"Bukannya kau yang menerimaku?"
"Kapan?"
"Kemarin, tepatnya jam empat sore."
"Sepertinya terjadi kesalahan. Jika kau mendadak menjadi sekretarisku, lalu apa yang terjadi dengan Melisa?"
"Siapa Melisa?"
"Wanita yang baru keluar dari ruangan ini. Dia belum mengundurkan diri dan aku belum berniat untuk memecatnya. Selama enam bulan ini dia bekerja sebagai sekretaris untukku. Jelaskan kepadaku kenapa aku harus memiliki dua sekretaris?"
"Aku tidak tahu. Kau lah yang menerimaku."
"Aku tidak menerimamu.'
"Jadi kau menolakku?"
"Aku juga tidak menolakmu. Hanya saja aku bukan orang yang menerimamu bekerja di sini. Dan kenapa kau harus bekerja di sini? Vasquez bangkrut?"
"Aku ingin bertemu denganmu."
"Apa?"
"Oh," Grace gelagapan karena keceplosan. "Maksudku, aku ingin mencari pengalaman baru dan kebetulan sekali perusahaanmu sedang membuka lowongan, mencari sekretaris handal dan di sinilah aku. Aku bisa kau andalkan."
"Oscar..." Melisa tiba-tiba masuk dengan wajah pucat. "Aku dipecat." Melisa mengangkat tangan yang menggenggam selembar amplop putih. "Ke-kenapa aku dipecat?"
__ADS_1
"Si keparat itu membuat ulah lagi." Oscar menggeram kesal. Ini pasti ulah ayahnya yang selalu ikut campur dengan semua urusannya.