My Naughty Fiance

My Naughty Fiance
Aku Suka Wangimu


__ADS_3

Bab sebelumnya direvisi lagi😅🙏


.


.


.


"Kau mau langsung istirahat?"


Gavin merebahkan tubuhnya di atas sofa begitu mereka sampai di rumah. Bukan hanya hati dan pikirannya yang lelah karena senantiasa berperang sepanjang hari, tetapi tubuhnya juga lelah.


"Kau masih ingin kutemani?"


Helli balik bertanya. Ia memilih berdiri daripada duduk menunggu jawaban pria itu. Ayolah, Helli wanita yang sedang jatuh cinta. Berbincang berlama-lama dengan Gavin adalah hal yang ia inginkan. Tapi, ia tidak ingin terlihat seperti wanita rapuh yang mengharapkan balasan cinta dari pria tersebut.


Helli sudah bertekad bahwa ia tidak akan pernah menunjukkan atau pun mengatakan perasaannya kepada pria itu. Helli tidak ingin mengusik fokus Gavin yang ingin mengejar cintanya, yaitu, Mona. Helli cukup tahu diri.


"Kau ingin istirahat atau tidak?"


"Kau ingin kutemani atau tidak?" Helli balik bertanya.


"Ya, duduklah."

__ADS_1


Seperti permintaan Gavin, Helli pun langsung duduk di sebelah pria itu. Aromanya berhembus, memanjakan lubang hidung Gavin. Segar dan enak. Sama seperti bibirnya. Gavin buru-buru menggelengkan kepalanya sebelum otak mesumnya mulai melebar ke mana-mana.


"Aku suka wangimu," sial, mulutnya lebih cepat bergerak dibanding yang ia duga.


"Enak." Oh hentikan ini!


"Menggoda." Sial, lidah sialan, jangan mengkhianati tuanmu!


"Aku tidak bermaksud menggodamu,"


Wajah Gavin merah padam menahan malu. Semua tercetus begitu saja tanpa bisa ia kendalikan. Ada apa dengannya? Ia pun tidak tahu. Bukankah setelah bertemu dengan Helli, hati dan pikirannya selalu berperang. Gavin merasa aneh, tetapi ia tidak mampu menerjemahkan apa yang ia rasakan. Yang ia tahu, Helli adalah tunangan palsu yang merangkap sebagai temannya dan sejauh ini, ia sangat menikmati perannya tersebut.


"Aku tahu." Jawab Helli lempeng. Tidak terusik dengan ucapan Gavin sama sekali.


"Aku tidak suka bau yang membuat mual. Sebisa mungkin aku harus tampil wangi."


"Tidak ada yang menyukai bau yang membuat mual, Helli." Gavin tergelak mendengar penuturan gadis itu. Itulah Helli, dalam sekejap gadis itu bisa membuat suasana santai kembali.


"Ya, kau benar." Helli tersenyum tipis. "Tapi, ada beberapa orang di dunia ini yang terpaksa dan harus terbiasa hidup di tengah bau yang menyiksa."


Helli berbicara tentang dirinya yang hidup selama puluhan tahun di tempat kumuh yang lebih layak dikatakan sarang tikus.


"Bahkan disaat mereka meninggalkan tempat tersebut, bau itu tetap senantiasa menempel di ujung hidung seolah menampar untuk mengingatkan bahwa seseorang itu berasal dari tempat tidak layak. Katakan, Gavin, apakah menurutmu semua orang yang hidup akan layak mendapatkan kebahagiaan yang rata satu sama lain?"

__ADS_1


Lagi dan lagi, Gavin dibuat terusik oleh tatapan kosong di manik indah milik Helli. Tatapan kosong yang membuat gadis itu semakin terlihat rapuh dan kecil. Bisikan, godaan dan dorongan terdengar agar Gavin menarik Helli ke dalam dekapannya. Namun, kembali hati dan pikirannya berperang.


"Kebahagiaan seseorang tidak bisa dipukul rata, Helli. Semua layak mendapatkan kebahagiaan. Tapi tidak lantas bentuk kebahagiaan itu harus sama. Kebahagiaan, kita yang menciptakan. Kau sangat mengagumi Grace, bukan? Kau ingin sepertinya. Pengangguran kaya. Jika kau tanya dia, itu bukan kebahagiaan baginya. Kebahagiaan baginya adalah saat ada orang yang mengakui kemampuannya tanpa embel-embel Vasquez di belakang namanya."


"Kau benar-benar sangat mengenalnya."


"Ya, bisa dikatakan begitu. Gadis menjengkelkan."


"Kau keterlaluan. Kau menyuruhnya turun dan benar-benar menghentikan taksi untuk mengantarnya pulang."


"Apa menurutmu Lawrence memang menarik?" Gavin berdehem sambil menggaruk kepala.


"Ya. Menurutmu, tidak?"


"Biasa saja."


"Dia memiliki putri yang sangat manis."


"Ya, aku tidak menyangkal hal itu. Kenapa mengatakan dia menarik? Bagian tubuhnya yang mana yang paling menarik menurutmu?"


Haiss, Gavin benar-benar sangat kekanakan. Seperti bocah penggosip yang cemburu jika pria lain lebih hebat dibandingkan dirinya. Ya, Gavin mempunyai alasan untuk merasa terusik. Ia kenal betul siapa Damian Lawrence. Pengusaha yang cukup berpengaruh.


"Yang menarik dari Mr. Lawrence?" Helli tampak berpikir, mencoba mengingat wajah Lawrence.

__ADS_1


"Kau tidak perlu membayangkan wajahnya!" merasa kesal, Gavin melempar bantal sofa ke wajah Helli.


__ADS_2