
Acara makan siang selesai. Rusell dan Mona berpamitan pulang. Tidak ada yang lebih melegakan bagi Gavin dari pada berakhirnya acara sialan ini. Ia harus menyelamatkan Helli dari liarnya tatapan para aligator yang ada di sini, termasuk the *****ing Rusell.
Wait, bagaimana dengan dirinya? Benarkah Gavin bisa mengendalikan jiwa predator yang seolah tertanam di jiwanya sejak lahir? Gavin tidak ingin repot-repot memikirkan jawabannya. Yang ia inginkan saat ini, ia dan Helli bisa keluar dari restoran ini.
Ck! Double date yang benar-benar berantakan. Bagaimana tidak berantakan, Rusell sering melontarkan kritikan-kritikan pedas dan menohok baik pada dirinya juga kepada Mona. Gavin tidak punya waktu merespon ucapan si sialan Rusell dan tidak bisa menghibur Mona karena perhatiannya berpusat kepada Helli. Ia harus mengawasi pergerakan Helli dan menjaga Helli dari tatapan jahil yang kurang ajar. Astaga, ia seperti seorang ibu yang melindungi anaknya.
No! Ia lebih terlihat seperti seorang pria yang posesif terhadap wanitanya. Gavin tersentak dengan pemikiran-pemikiran konyol yang berseliweran di kepalanya dan itu sedikit mengusiknya. Dan daripada ia terganggu dengan hal itu, ia tidak ingin repot-repot mengambil pusing untuk mencari jawabannya, baik itu menolak atau pun membenarkan. Baginya alasan pertemanan sudah cukup sebagai jawaban. Ya! Ia menemukan jawabannya. Jawaban yang ia yakini tentunya.
Teman, ya kami berteman. Inilah alasannya. Aku harus menjaga temanku. Temanku yang nakal dan perayu! Lama-lama kucekik juga wanita ini.
Gavin mendengus kasar saat melihat Rusell melambaikan tangan yang dibalas Helli dengan segera juga senyuman indahnya sebagai bonus.
Dengan kesal, Gavin menarik tangannya dengan sedikit kasar.
Helli yang tidak menyadari kekusutan hati dan pikiran Gavin, menurut-menurut saja saat Gavin menyeretnya berjalan menuju mobil.
__ADS_1
Gavin membuka pintu penumpang untuknya, melindungi kepala Helli dari kemungkinan terbentur walau kemungkinan itu sangat kecil.
Naluri teman! Gavin membatin dan ingin rasanya ia meninjukan tangannya ke dinding paling keras. Sejak kapan tangan kekarnya itu begitu mulia dengan memperlakukan gadis begitu manis.
Masih dengan suasana hati yang kekesalannya meningkat tinggi, pria itu membanting pintu, sampai-sampai Helli berjengit kaget seraya memegangi dadaanya.
"Dia pikir ini mobil nenek moyangnya!"
"Apa yang kau lakukan?!" Hardik Helli begitu Gavin duduk di belakang setir kemudi. Helli masih tidak peka dengan wajah masam Gavin.
"Apa?" Sahut pria itu dengan malas.
"Lalu?"
"Lalu?!" Helli membeo dengan nada penuh tekanan. Gavin mendengus.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana jika ada yang lecet? Apa kau kira perawatannya murah?"
"Jelas aku tahu. Aku ahli dalam hal itu."
"Jika kau sangat ahli dalam hal itu, lantas kenapa kau dengan bodohnya membantingnya. Apa kau punya uang untuk membayar perbaikannya. Tentunya aku tidak akan mau berbagi, apa istilahnya, hmm, ah ya, patungan membayar servicenya. Aku tidak semulia itu, Gavin. Aku tidak ingin membuang uangku sia-sia."
"Apa yang dikatakan wanita ini?" Apa dia tidak melihat wajahku sedang ditekuk kesal.
"Apa yang kukatakan? Yang kukatakan..."
"Aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk memperbaikinya," Gavin menyela dengan segera.
"Oh ya, karena kau seorang montir?"
Karena aku pemilik mobil ini, Helli sialan!
__ADS_1
Astaga! Hampir saja ia meneriakkan kalimat itu di wajah Helli. Sikap Helli yang meributkan masalah sepele tidak membantu suasana hatinya membaik sama sekali. Justru semakin bertambah buruk!
"Tapi tetap saja.. Auuchh!! Gavinn!!!"