Nada Nara

Nada Nara
Bab 59. Melihatnya Teruka (Bagian 4)


__ADS_3

“Jadi sekarang kamu sadar kalau kamu hanya menganggapnya sebagai adik yang harus kamu manja dan jaga kan boss?” kembali laki-laki sok tahu itu bicara di telingaku saat aku sedang memperhatikan Pradipta dan Juli. Rasa marah yang kurasakan saat itu memang didominasi oleh rasa marah seorang kakak yang adiknya dipermainkan dan dimanfaatkan oleh laki-laki tak bertanggung jawab. Adrian tidak salah. Tetapi juga menurutku dia tidak benar. Aku tetap menganggap kalau Juli adalah kekasih dan cintaku. Dan lagi, tahu apa Adrian tentang cinta laki-laki pada wanita. Bahkan saat ini dia bisa meniduri kekasih-kekasihnya tanpa pernah mengucapkan cinta. Aku rasa hatinya juga sudah mati rasa. Hanya memenuhi kebutuhan dan keterikatan para laki-laki cantik itu dengannya demi sebuah kepuasan hasrat biologis yang dia tahu saat ini. Aku sangat kesal karena tidak tahu harus bagaimana. Menyangkal


kata-kata Adrian rasanya salah. Tapi untuk mengatakan dia benar, ranya juga salah. Karena tidak mungkin kan aku hanya menganggap Juli adik?  Karena asyik dengan pikiranku, aku tidak melihat lagi Pradipta dan Juli. Akhirnya aku berusaha mengalihkan pikiranku pada Nara.


Lain Pradipta lain pula Nara.  Tadi Aku melihatnya terluka lagi dan lagi, karena bajingan tengik itu. Entah mengapa aku sangat tidak rela melihat Nara terluka seperti ini. Aku tidak senang Nara menatap dan mengharap Pradipta lalu terluka. Semua itu menyakitkanku, melebihi sakitnya melihat Juli bermesraan dengan Pradipta.


Aku mengedarkan pandanganku. Kudapati Nara didekat meja minuman. Dia mencoba menenangkan diri sejenak disana sambil menikmati segelas orange juice. Aku membiarkan dia sendiri sejenak. Aku meminta Adrian untuk memberikan ruang untuk sendiri ditengah keramaian ini. Adrian setuju dan mengawasi dari jarak pandang yang sesuai. Setelah tenang Nara menarik nafas panjang dan menegakkan punggungnya. Dia mengedarkan pandangannya, mungkin mencari Pradipta. Oh, tidak aku salah. Dia mencariku. Wow, kenapa jantungku berdetak kencang dan perutku terasa aneh? Nara memberikan senyum manisnya padaku dan mengacungkan kedua jempolnya. Aku? Terpana tidak tahu mau bekata apa.


“ Aku harus bagaimana M? Bagaimana caraku menarik perhatiannya? Bagaimana aku mendekatinya? Bagaimana aku merayunya sekarang? Dia bahkan hanya melihatku sekilas dan tak bergerak dari sisi Juli,” kata Nara sangat pelan menyadarkanku dari sihir senyum Nara. Belum pernah aku merasa seperti ini hanya karena disenyumi wanita. Aku menarik nafas dalam dan berusaha konsentrasi pada misi kami.


“Berusahalah untuk menarik perhatian Pradipta Nara. Dia sudah melihatmu. Aku tahu dia tertarik padamu sesaat. Setelah itu entah kenapa dia memakai topeng dinginnya. Mungkin karena dia takut Juli tahu. Mungkin dia takut Juli marah. Apakah dia selemah itu? Setahuku selama ini diapun banyak bermain perempuan dibelakang Juli. Jadi


kamu  pasti bisa mendekatinya,” kataku meyakinkan Nara.

__ADS_1


Setelah mendengar apa yang aku katakan, aku lihat Nara bergerak menuju meja minuman. Pandanganku menyapu tempat yang dituju Nara untuk memastikan disana aman. Disana kulihat Pradipta tanpa dua orang yang tadi bicara. Matanya sedang menatap layar smartphone dengan serius. Dengan masih memperhatikan Smartphonenya, Pradipta mengambil gelas wine di meja. Pandanganku langsung beralih pada Nara. Firasatku mengatakan, wanita itu akan melakukan sesuatu. Tap, diraihnya gelas Pradipta, sebelum bibir gelas dan bibir laki-laki bajingan itu bertemu. Pradipta yang kaget dengan apa yang dilakukan Nara langsung mengerutkan kening. Untuk reflek Pradipta sangat buruh. Jika Pradipta yang melakukan itu pada Nara atau aku, saat ini laki-laki itu sudah pasti


terkapar dilatai.


“Maaf Tuan, saya rasa, sebaiknya gelas Anda diganti. Gelas itu sudah diminum oleh Nenek keriput yang dari tadi menatapmu seperti mau memakanmuitu,” kata Nara sambil menunjuk seorang wanita yang tak jauh dari mereka. Aku mengenal wanita itu sebagai salah satu orang yang memiliki kekuasaan tinggi di LC. Kalau tidak salah dia adalah direktur HRD LC. Mendengar jawaban Nara, Pradipta terdiam sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Dia melirik gelas ya ng tadi diletakkan oleh Nara di meja. Dia mengamati gelas itu lalu tersenyum


“Apa katamu? Kamu memanggilnya Nenek keriput? Wow, berani sekali kamu menyebut Madam direktur seperti itu,”


kata Pradipta sambil mengambil gelas wine baru yang diambilkan Nara.  Pradipta tertawa dengan gaya yang khas.  Hatiku bergemuruh saat melihat Nara yang terpesona kepada tawa Pradipta. Efek yang tidak diinginkan selain hatiku sakit adalah aku meremas gelas yang aku pegang sampai pecah.


“Apa? Cemburu? Kenapa harus cemburu? Memang Nara siapaku sampai aku harus ceburu hagh!” teriakku tanpa sadar membuat beberapa orang disekitarku menengok. Untung aku ada disisi Ballroom yang lumayan sepi hingga tidak benyak yang melihat kelakuan anehku. Ini semua gara gara Adrian.


Mataku kembali pada Nara yang mematung. Mulutnya terkunci dan badannya seperti membeku. Jangankan memperkenalkan diri, menahan langkah Pradipta yang pergi begitu saja, tidak mampu dilakukan Nara. Wanita itu

__ADS_1


benar benar membeku karena tawa dan sentuhan ringan jari Pradipta saat mengambil gelas wine tadi. Ya, secara singkat, Pradipta membelai jari Nara dengan jarinya ringan. Aku juga melihat bagaimana Pradipta tersenyum, bukan, bukan tersenyum. Tapi yang kulihat adalah seringai licik seorang Pradipta. Sentuhan dan seringai itu tak terlihat oleh orang lain mungkin, tapi aku melihatnya. Dan aku sangat yakin kalau kamera CCTVku menangkapnya. Cara Nara bereaksi pada tawa dan sentuhan Pradipta membuatku tidak suka. Entah kenapa dadaku sedikit sesak dan ini menyakitkan. Nafasku seperti tersengal dan sangat berat. Aku sangat tidak suka melihat Nara di dekat Pradipta.


“Are you okay Boss? Keep breating please. It’s not easy when you come to hart and feeling bro. Just breathing,” kata Adrian terdengar sedikit kuatir. Entah kenapa aku tiba tiba teringat pada Papa Shasa yang pernah mengingatkanku masalah hari dan perasaan. Tapi aku tahu ini bukan waktunya untuk mellow. Aku mencoba menarik nafas kembali dan mencoba untuk kembali  normal. Aku masih melihat Nara mematunng dan ini tidak baik.


“Adrian, dekati Nara dan cubit dia agar segera sadar!” kataku. Adrian segera mendekati Nara. Dengan gerakan seperti seorang asisten yang ingin memberikan informasi pada tuan putrinya, Adrian membungkuk disamping Nara dan berbisik sesuatu di telinga wanita itu. Menurut Adrian, mencubit wanita yang sedang membeku ini bukan pilihan terbaik. Aku mendengar dia menyebutkan nama Nara sangat pelan. Nara sama sekali tidak merespon bisikan Adrian.


“Sudah cubit saja, percuma Adrian. Kamu harus cepat!” kataku dengan tidak sabar sambil mengeraskan suaraku. Karena aku tidak mau orang curiga, maka aku pura pura menjatuhkan sebuah gelas diujung, tanpa disadari siapapun. Aku mencoba memanggil Nara dengan keras, sambil membungkuk seolah olah ingin membersihkan pecahan.


Wanita yang membeku itu sedikit tersadar saat mendengar bentakanku tadi. Sepertinya aku berhasil. Nara sepertinya kembali sadar dan mengembalikan dirinya pada posisi sebagai Nara, gadis yang  menjadi pusat perhatian.  Dia sedikit menggelengkan kepalanya dan mencoba mengambil gelas minumnya yang ada diatas meja. Bukannya minum, Nara kembali mematung. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang ini. Mungkin isi kepalanya dipenuhi oleh Pradipta, cowok bajingan yang sok-sok mafia itu.


“Adrian, do something! Orang-orang sudah mulai memandangi Nara dan berbisik,” kataku pada Adrian. Laki-laki itu kembali mendekati Nara dan memanggilnya pelan. Usaha kali ini berhasil. Nora tampak terkejut mendengar panggilan Adrian. Dia tampak sedikit linglung sambil memandang Adrian. Inilah efek trauma bercampur dengan efek akibat proses make over selama ini. Bagi orang lain,  bertemu mantan menyakitkan namun tidak akan membuat linglung. Tetapi tidak bagi Nara. Efeknya sangat jauh berbeda. Efek psikologisnya luar biasa. Tidak mudah mengatasi trauma, apalagi jika trauma iu disebabkan oleh orang yang sangat kamu percaya dan cintai. Pengaruhnya jauh luar biasa. Saat itu mataku menangkap pergerakan Pradipta yang meninggalkan Juli kearah luar. Aku mengikutinya, karena aku rasa Adrian bisa mengatasi Nara.


“Adrian, dekati Nara. Ajak dia bicara. Hanya kamu yang bisa menyadarkannya saat ini. Jika diperlukan, suntikkan obat tanpa diketahui siapapun. Jika sudah tidak memungkinkan, bawa dia pulangn,” perintahku.

__ADS_1


“Oke boss,” kata Adrian. Dari tempatku berdiri, kulihat Laki-laki-laki itu mendekati Nara dengan cepat dan meletakkan tangannya dipundak Nara. Jika dilihat sekilas, Adrian seperti seorang yang sangat dekat dengan Nara dan merayunya. Namun kamu salah jika mengatakan hal itu. Banyak wanita yang tergila-gila pada Adrian. Namun laki-laki ini selalu dingin dan tidak peduli. Dia jarang sekali tersenyum seperti ini. Jika para wanita melihat senyum Adrian saat ini, pasti mereka akan berteriak histeris. Nara? Aku tidak khawatir Nara akan tertarik pada Adrian. Wanita itu tahu persis siapa Adrian.


__ADS_2