Nada Nara

Nada Nara
Bab 18 Sakitku Mengubah takdirku (bagian 2)


__ADS_3

Setelah kemarin pesta mie instan dan makanan enak, tadi malam aku kembali berpuasa untuk memulai fase dua pagi ini. Aku yang semalam nyaris tidak tidur, sudah bangun pagi-pagi. Aku membersihkan diri, dan berlama-lama memandangi wajahku di kaca. Aku susuri wajahku dengan jariku untuk terakhir kalinya. Aku meraba setiap bagian dari wajahku. Jidatku, dahiku, alisku, kuraba perlahan. Kusentuh  mataku dan kelopak mataku sambil merasakan dengan jariku tanpa melihat. kututup kedea mataku, membayangkan wajah yang kusentuh. Aku juga meraba hidung, pipi, bibir dan daguku. Kuresapi setiap sentuhan. Aku ingin mengingat ini dalam memoriku. Ritual ini merupakan perpisahan terakhirku dengan wajah Nada. Setelah ini semua bagian dari Nada sudah hilang.


Mahardika mengatakan bahwa mulai hari ini aku akan mengalami rekonstruksi wajah melalui operasi besar. Tindakan kali ini akan mengubah mulai dari garis wajah, gigi, mata, hidung, dan segala sisi lainnya. Meskipun begitu, Mahardika mengatakan akan mempertahankan beberapa hal dari Nada yang memang sudah cantik, seperti warna mata yang meneduhkan sekaligus membawa kebahagiaan, bibir kecil tipis yang cantik dan alis mata yang tebal. Tidak banyak memang tapi paling tidak aku tidak benar-benar berubah nantinya. Bisa dipastikan fase dua merupakan fase penuh sayatan, memotong, menambah, menyedot dan membuang bagian dari wajah dan leherku melalui banyak operasi yang menyakitkan serta berisiko membuat orang cacat.


Aku bertekad kuat menjalani fase dua apapun yang terjadi. Aku adalah Nada yang kuat, dan bertekad besar untuk memenangkan perjuangan mengubah takdirku.Pagi ini aku bangun dengan tekad besar. Kubangun dengan semangat dan keceriaan yang terus kusuntukan pada diriku sendiri. Aku tahu, jika bukan diriku sendiri yang menghargai dan memberikan semangat pada diriku, lalu siapa lagi? Kebahagiaanku harus dimulai dari diriku sendiri.


Setelah mandi, suster mulai mempersiapkanku. Saat kutanya apakah mereka melihat Mahardika, suster Song mengatakan bahwa sejak semalam, Mahardika sudah sibuk dengan para dokter. Mereka juga sedang mempersiapkan diri menghadapi operasi panjangku.


“Selamat pagi cantik,” suara yang kukenal itu menyapaku saat aku sampai diruang tunggu operasi. Siapa lagi kalau bukan Mahardika, dewa penolongku.


“Joh-eun achim, aleumdaun,” suara dokter berwajah Indonesia dalam Bahasa Korea. Aku mengernyit memandangnya. Dia tampak sangat akrab dengan Mahardika. Wajahnya memang Indonesia sekali. Suaranyapun terdengar sangat kental dialeg sundanya. Namun dia berbicara Bahasa Korea? Ada juga ya orang korea seperti ini?


“Ah dia sepertinya bingung melihat muka Indonesia sok berbahasa Korea,” kata dokter tampan itu lagi. "Kenalkan aku personil BTS yang baru. Aku temannya Junkook."


"Hah? Apa?" kataku keheranan. Ya aku tahu dari Pembicaraan Prita dan Pipit siapa itu Jungkook dan BTS. Tapi kenapa dia bawa-bawa kesini? Aku bukan fans mereka sepertinya. Aku melirik ke arah Mahardika untuk mendapat jawaban dari keanehan ini. Tapi Mahardika hanya mengedikan bahu seolah tak peduli.


“Oh, rupanya kamu bukan penggemar Oppa tapi penggemar laki-laki tampan asli Indonesia," katanya sambil mengangguk angguk tapi tidak sambil bernyanyi, tri li li li li li li. Hehehe aku sepertinya mulai kerularan aneh dokter tampan ini. Kupandangi dia masih tidak mengerti.


Kenapa memandangku seperti itu Nara? Aku tampan ya? Aku memang lebih tampan dari kakakku ini,” katanya sambil menepuk pundak Mahardika. Ucapannya disambut dengan degusan berat dari laki-laki yang diakui sebagai kakak dokter tersebut. Kakak? Jadi dia adik Mahardika? Kok aku tidak pernah tahu?


“Nara, kenalkan, dia adalah Agusta. Salah satu dokter  bedah plastik wajah terbaik di Korea. Sialnya laki-laki tengil tidak tahu diri ini juga adikku yang sangat aku sayangi,” kata Mahardika sambil mellirik orang yang dikenalkannya.  Sementara laki-laki yang bernama Agusta itu tertawa terbahak bahak mendengar kata-kata Mahardika. Laki-laki ini sangat ramah dan senang tertawa, berbeda dengan Mahardika, yang meskipun komunikatif namun dingin dan sedikit menyimpan misteri serta kesedihan dimatanya. Diawal pertemuan, bahkan mendung selalu ada dimatanya. Tawanya tidak pernah sampai ke mata dan sepertinya bukan dari hati. Baru beberapa bulan ini aku bisa melihat Mahardika yang lain, yang lebih tulus saat tersenyum. Mahardika yang lebih banyak tersenyum dan tertawa, yang aku suka. Aku tersenyum padanya dan mengulurkan tanganku untuk menyalaminya. Agusta menyambut tanganku dengan tangan kanan dan menepuk jabat kami dengan tangan kiri.


“Hem, kamu sangat menarik dan makin istimewa setelah proses ini. Kakak benar, kamu wanita luar biasa,” katanya masih sambil menepuk jabat erat kami. Mahardika mendekat dengan wajah ditekut Sembilan. Dia menarik tanganku agar lepas dari genggaman Agusta. Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah Mahardika, seolah-olah dia tidak suka aku digoda adiknya. Dia pura pura cemburu hanya untuk menggoda adiknya, sangat kekanak-kanakan, kan.  Agusta mengedipkan sebelah matanya padaku masih dengan tertawa tergelak, mentertawakan

__ADS_1


tingkah kakaknya.


“Sudah, ayo kita mulai. Mereka sudah menunggu didalam,” kata Mahardika menghentikan obrolan kami. Lumayan juga sebenarnya. Obrolan ini membuat aku lebih rileks dan lupa dengan operasi yang akan aku hadapi. Maka Fase dua pun dimulai saat itu juga. Seperti fase sebelumnya, aku  kembali harus berkutat dengan anestesi, pisau, sayatan, selang, penyedotan, pemotongan dan rekonstruksi.


Menurut Agusta, dia akan bekerja saat ini dengan proses facelift atau rhytidectomy. Yaitu salah satu prosedur dalam bedah kosmetik yang bertujuan untuk memberikan penampilan wajah yang berbeda. Prosedur ini membentuk kembali bagian bawah wajah dengan menghilangkan kelebihan kulit diwajah. Rhytidectomy dapat mengencangkan garis di wajah, menghilangkan lipatan di sekitar mulut dan hidung, serta kelebihan kulit dan lemak di bawah dagu dan leher. Facelift untuk diriku, dikombinasikan dengan operasi rahang, dahi, pipi, alis, dan kelopak mata. Agusta sebagai.dokter bedah plastik rekonstruksi dan estetika bersama dengan Mahardika sudah membuat blueprint untuk proses rekonstruksi wajahku hingga akhir. Aku meminta pada Mahardika, proses kali ini dilakukan paripurna, tidak ada jeda.


Dimulai dari rekonstruksi tulang wajahku. Setelah itu,  proses Forehead Augmentation dilakukan oleh Agusta untuk membentuk dahiku. Pada pasien orang korea, biasanya Dia menyuntikan filler atau memasukkan implan di bagian bawah lapisan kulit pada dahi. Hasilnya, dahi akan terbentuk bulat dan halus sempurna. Rata-rata orang Korea memiliki dahi yang rata. Tapi mereka menginginkan dahi yang lebih menonjol dan berbentuk bulat jika dilihat dari angles samping. Untuk itulah operasi dahi dilakukan. Prosedur ini memasukkan implan ke dahi agar terlihat lebih bulat. Orang-orang Korea percaya dahi yang membulat dan sedikit menonjol membuat wajahnya terlihat lebih


muda. Menurut Mahardika, aku tidak memerlikan implant karena dahiku sudah cukup bulat dan menonjol. Agusta hanya tinggal memasukan filler dan membentuk dahiku adar sempurna seperti yang diinginkan Mahardika. Hal ini


menguntungkanku karena dalam jangka panjang, aku tidak perlu kawatir dengan perubahan wajah karena kerusakan implant yang biasa terjadi pada orang orang yang melakukan bedah  plastic.


Langkah selanjutnya, Agusta melakukan Chin Augmentation padaku, dibantu seorang dokter maxillofacial. Dia memotong tulang rahangku agar terlihat ramping lalu menyetel kembali keseimbangan rahang atas dan bawahku. Aku tahu langkah ini sangat beresiko dapat  membuat orang cacat. Pemotongan rahangku dilakukan dengan cara membedah mulut dan memotong kelebihan tulang rahang miliku agar sesuai dengan bentuk yang sesuai dengan


Agusta kemudian berkonsentrasi membentuk kembali hidung hidungku melalui proses rhinoplasty, dibantu oleh dokter otolaringolog. Rhinoplasty atau sering juga disebut ‘nose job’ adalah operasi kosmetik untuk mengubah bentuk hidung. Menurut Mahardika, tulang hidungku sudah cukup tinggi namun selama ini tidak terlihat karena kalah bersaing dengan lemak di pipi dan dahiku. Kali ini, Agusta mengubah struktur tulang, tulang rawan, dan kulit hidungku menjadi seperti yang diinginkan Mahardika  tanpa tambahan implant.


Dalam kasusku, Mahardika dan Agusta sepakat untuk melakukan pembedahan terbuka. Yaitu membuat sayatan pada kolumela atau jaringan tipis yang memisahkan dua lubang hidung. Dari pembedahan tersebut, kulit yang menutupi tulang hidung dan tulang rawan akan terangkat sehingga lebih mudah mengubah struktur hidungku. Selain itu, Agusta juga  memperbaiki ujung hidung dengan mengangkat sebagian tulang rawan, mengikis dan membentuk ulang struktur tulang rawan di sekitar septum. Setelah memberbaiki bentuk tulang hidung, kulit hidungku dibentuk ulang sesuai dengan struktur tulang yang diperbaiki sesuai tampilan akhir yang diinginkan. Kamu pusing mendengarnya? Apalagi aku. Namun semua ini harus aku jalani untuk mengubah takdirku.


Menurut Mahardika, Agusta sempat mengalami kelelahan ditengah operasi yang dilakukan padaku. Itulah sebabnya dia menyerahkan operasi blepharoplasty atau yang dikenal dengan double-eyelid surgery kepada dokter pengganti. Akan tetapi Mahardika tidak mau meninggalkanku sama sekali dan tetap mendampingi dokter pengganti yang menanganiku. Operasi blepharoplasty cukup populer di Korea. Sehingga tidak sulit bagi Mahardika mendapatkan dokter ahli setara Agusta untuk menanganiku. Proses ini adalah operasi bagian kelopak mata,  dilakukan untuk menghilangkan kulit atau mengurangi lemak pada kelopak mata menjahit lipatan mata dengan benang yang sangat halus.  Dengan prosedur ini, dokter memperbaiki kulit yang kendur pada bagian bawah mataku lalu menghilangkan kantong mataku yang memang sangat terlihat.


Dokter bedah yang masih muda dan mirip dengan Park Seo Joon  itu membuat sayatan mengikuti garis bulu mataku. Melalui sayatan itu, dia memotong dan mengangkat sebagian kulit, otot, dan lemak pada kelopak mata. Kata Mahardika, kita beruntung terlahir sebagai orang Indonesia dengan lipatan kelopak mata yang besar. Hal ini  sangat memudahkan dokter melekukan tugasnya dan tidak banyak melakukan perubahan signifikan. Area yang


telah disayat kemudian direkatkan dengan metode perekatan kulit terbaru. Bersamaan dengan proses iini dokter juga memberikan sedikit sobekan pada kulit di sudut dalam mata, untuk membentuk mataku menjadi lebih bulat dan indah. Proses Epicanthoplasty ini tidak terlalu significan bagiku, karena mataku sendiri sudah cukup lebar.

__ADS_1


Agusta yang sudah segar, kembali bergabung saat dokter melakukan Necklift. Dengan bantuan Agusta, dokter membuat sayatan minimal di bagian belakang telingaku lalu menarik kulit leher dan lapisan SMAS secara konsisten dan memberikan tekstur alami dan halus. Agusta mengakiri proses hari ini dengan memasangkan perban keseluruh wajahku dan membiarkan aku untuk istirahat beberapa saat.


Agusta mengakiri proses operasi fase kedua bagian pertama dengan memasangkan perban keseluruh wajahku dan membiarkan aku untuk istirahat beberapa saat.  Itu berarti, sejak saat itu aku kesulitan melihat, mendengar dan berbicara. Aku juga akan sulit dalam urusan paling aku sukai, makan. Aku benar-benar tidak bisa makan, minum normal dan selalu kesakitan. Aku hanya makan makanan cair melalui sedotan. Hanya itu. Untungnya Mahardika selalu ada disana menghiburku. Entahlah, aku merasa dia tidak pernah tidur. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, dia langsung siap siaga, disebelahku, menanyakan apa yang aku inginkan.


Penderitaanku kali ini ternyata memang lebih berat dari fase pertama. Jika sayatan di badan dan wajah sama besar, ternyata yang diwajah terasa lebih sakit. Belum lagi sekarang mukaku sebagian besar tertutup. Hanya sediki di bagian mata, lubang hidung dan mulut. Sisanya terbungkus perban seperti mumi mesir.


Kondisiku selama 3 hari pasca operasi, lumayan nyeri. Luka operasiku mengalami peradangan, membengkak, kemerahan, dan nyeri bila disentuh. Namun ini adalah hal yang normal menurut Agusta. Karena ini adalah proses


penyembuhan luka seperti biasa namun karena dalam jumlah banyak maka terlihat berbeda. Dan selama itu pulalah aku harus merelakan makan dengan piring untuk tidak aku jamah. Dihari ke empat, perban totalku dibuka. Agusta memintaku untuk menjaga kulitku hingga jaringannya benar-benar menutup sempurna dan optimal.


Setelah empat bulan nanti baru semua akan berganti menjadi kulit baru yang sempurna. Tentu masih dilakukan beberapa prosedur lain seperti botox, dermabrasi dan sebagainya.


Meskipun sudah dibentuk namun nyeri tulang yang dikikis dan diatur ulang serta rahang yang sangat menyakitkan untuk makan harus kualami selama 2 bulan. Ditambah dengan dilakukannya dermabrasi/dermaplaning atau prosedur pengelupasan kulit, menghaliskan kerutan, mengurangi sproten dan parut pada kulit dari wajah sampai seluruh badan. Dermabrasion dilakukan oleh sahabat Agusta yang sangat cantik bernama dr.Brenda. Sikapnya sangat aneh, kadang baik kadang sangat kasar dan galak. Tapi lebih sering, dia menunjukan sikap tidak menyukaiku. Aku sendiri tidak tahu kenapa dan tidak perduli. Mungkin karena M. Menurutku dia menyukai Mahardika. Dia terlihat sangat manja kepada M saat tidak ada Agusta didekatnya. Mahardika sendiri menurutku tidak tahu perasaan dr. Brenda. laki-laki satu ini memang tidak peka sama sekali. Apa yang mau diharapkan dari Mahardika yang tidak pernah mengerti perasaan wanita-wanita yang memandangnya dengan memuja setiap hari. Mahardika bilang dia tidak peduli dan itu hak mereka, saat aku katakan padanya. Walaupun dia sangat bisa membaca pikiranku, tapi jika bicara tentang perasaan, perhatian dan pandangan cinta wanita-wanita disekelilingnya, Mahardika tidak peka sama sekali.


Sebenarnya aku cukup ngeri melakukan demabrasi bersama perempuan ini. Proses yang menggunakan sikat tajam


berputar dengan kecepatan tinggi ini membuang lapisan atas kulit secara manual. Ukuran dan kedalaman parut atau keriput yang ingin dihilangkan, menentukan seberapa banyak kulit dibuang.  Selain demabrasi, dibeberapa bagian, dr.Brenda juga menggunakan mikrodermabrasi.  Dia menyemprotkan kristal-kristal kecil untuk meremajakan kulit agar lebih kenyal dan halus. Dia juga melakukan pelapisan ulang kulit serta perbaikan pembuluh darah dengan laser.


Saat proses muka dan kulit dilakukan, Mahardika yang tiba-tiba ingin mempercepat penyelesaian Nada’s Project, mengusulkan untuk melakukan transplatasi rambut. Hal ini aku setujui mengingat akupun ingin segera selesai dan kembali ke Indonesia.


Puluhan prosedur operasi plastik selama 6 bulan tanpa makan dengan benar,  hanya mengkonsumsi makanan cair dengan sedotan, sayatam, pemotongan, sedot sana sini, membuang bagian tubuh dan efek samping operasi serta anestesi yang menyiksaku telah kujalani. Menjadi bagian menuju takdirku yang baru senbagai perempuan. Karena sakitku, mengubah takdirku.  Akan tetapi melihat hasilnya, aku cukup takjub. Tidak ada lagi Nada si gajah bengkak berganti menjadi Nara, wanita tercantik di belahan Asia. Kamipun merayakan keberhasilan Nada’s Project dengan


kembali ke apartemen, berbelanja baju dan keperluan wanita untukku dan melakukan foto session yang penuh tawa, sebelum akhirnya kami kembali ke Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2